Sulit Capai 6% pada 2014

BANK DUNIA PREDIKSI PERTUMBUHAN EKONOMI 5,3%

Senin, 07/10/2013

Jakarta – Sejumlah pengamat, akademisi dan pengusaha menilai prediksi Bank Indonesia (BI) terhadap pertumbuhan ekonomi 2014 sebesar 6% terlalu optimis di tengah situasi tahun politik. Sementara Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan 5,3% , lebih rendah dari tahun ini yang diperkirakan mencapai 5,6%.

NERACA

Menurut Gubernur BI Agus Martowardojo, pertumbuhan ekonomi pada 2014 lebih agresif dibandingkan tahun ini yang diperkirakan hanya mencapai 5,5%-5,8%. Pemilihan Umum akan turut mendorong pertumbuhan tersebut.

"Kalau kita ketahui Indonesia tahun depan Pemilu, biasanya pertumbuhan ekonomi di dalam negeri bisa tambah sekitar 0,2%-0,3%," ujarnya di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dia menambahkan, bahwa perekonomian global di tahun depan akan lebih baik. Dengan kondisi tersebut, permintaan akan bahan baku mentah akan meningkat sehingga menaikkan harga komoditas di pasar internasional.

Implikasinya, menurut Agus, ekspor Indonesia akan kembali terdongkrak. Sehingga kinerja perdagangan nasional akan surplus. Sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS), kinerja perdagangan Januari-Agustus 2013 defisit sebesar US$5,5 miliar.

Secara terpisah, Bank Dunia justru lebih pesimis memproyeksikan laju memproyeksikan laju pertumbuhan Indonesia. Lembaga keuangan internasional yang berkantor pusat di AS itu menyatakan, ekonomi Indonesia nasional akan semakin melambat menjadi 5,3% pada 2014 setelah hanya tumbuh 5,6% pada 2013.

Namun pengamat ekonomi Indef Prof Dr Didiek J. Rachbini menyatakan tidak setuju dengan proyeksi BI tersebut. "Data BI tentatif, saya belum bisa bilang data mana yang dapat di percaya tetapi yang jelas data BI ngarang itu", ujarnya.

Didiek menilai proyeksi pertumbuhan ekonomi 6% pada 2014 itu terlalu tinggi. Lihat saja saat ini, pemerintah sudah tidak berfungsi lagi sebagaimana mestinya. Karena itu, untuk memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2014 harus menunggu pertumbuhan ekonomi tahun ini. "Walaupun pertumbuhan ekonomi tahun ini tidak selalu dapat digunakan sebagai landasan untuk memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2014, tetapi ya harus lihat dulu tahun ini seperti apa", jelas dia.

Dia sama sekali tidak mengetahui atas dasar apa BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi mencapai 6%. Ditambah pemilu akan mendorong pertumbuhan ekonomi tersebut. "Indef satu bulan lagi akan mengeluarkan proyeksi. Hasilnya seperti apa, ditunggu saja. Namun alasan BI bahwa pemilu dapat mendorong pertumbuhan ekonomi sebaiknya tanyakan ke pihak BI, karena mereka yang umumkan proyeksi dan alasan tersebut", ujarnya.

Hambatan Dalam Negeri

Guru Besar Universitas Brawijaya Prof Dr Ahmad Erani Yustika menilai, target pertumbuhan ekonomi di atas 6% pada 2014 seperti yang diperkirakan pemerintah sulit untuk dicapai. Pasalnya, masih ada sejumlah hambatan dari dalam negeri seperti adanya kenaikan tarif dasar listrik, upah buruh yang kembali akan naik dan infrastruktur yang belum memadai sehingga biaya logistik juga masih tinggi.

Dalam RAPBN 2014, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 6,4%-6,9 %, menurut Erani, target itu terlalu tinggi karena masih lesunya perekonomian global. Para pengusaha juga ragu tahun depan terjadi pemulihan ekonomi, dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memprediksi pertumbuhan ekonomi berkisar pada 5,5%-5,7 %.

Menurut dia, Indonesia masih menghadapi sejumlah masalah pada 2014. Daya saing produk nasional serta belum pulihnya perekonomian global sehingga menekan harga komoditas bisa menghambat pertumbuhan ekonomi. "Masalah dalam ekspor bisa menghambat pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Erani juga memperkirakan pada 2014 harga komoditas pertanian akan kembali naik. Dengan demikian, pendapatan dari komoditas tersebut bisa lebih besar dari 2013. Adapun dampak larangan ekspor bahan tambang mentah, menurut dia, tidak mempengaruhi pemasukan dari sektor mineral. “Pelarangan tersebut sudah tepat, karena bisa menguntungkan dalam jangka panjang," ujarnya.

Pemerintah memang dapat “mencuri” peluang pertumbuhan ekonomi dari efektivitas penyerapan APBN. Namun, Erani malah khawatir Pemilu 2014 bisa mengganggu jalannya pemerintahan dan menghambat penyerapan anggaran.

Pendapat senada juga dilontarkan Rektor Kwik Kian Gie School of Bussines Prof Dr Anthony Budiawan. Menurut dia, prediksi melemahnya pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia merupakan hal yang cukup realistis. “Perkiraan itu cukup realistis,

Ketimbang pejabat Indonesia masih saja bilang pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 6 persen sekian,” ujarnya, Sabtu (5/10)

Lebih lanjut dia juga mengatakan, bahwa Indonesia untuk mencapai pertumbuhan di angka 6% bisa dibilang sangat sulit. “Untuk 6 persen itu cukup sulit, jika dilihat dari statistiknya memang akan berada di bawah 6%, memang hanya pemerintah saja yang prediksinya terlalu optimis, seharusnya dari data di kondisi saat ini harusnya pemerintah bisa realistis,” kata Anthony.

Selain itu, menurut Anthony, pemerintah harus memiliki perkiraan sendiri atas pertumbuhan Ekonomi nasional. Proyeksi itu, tambah dia harus sesuai dengan situasi ekonomi yang terjadi. “Pemerintah harus bisa prediksikan sendiri, tidak boleh terpengaruh dengan prediksi IMF dan Bank Dunia,” imbuh dia.

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Anton J Supit mengatakan, proyeksi pertumbuhan ekonomi pada tahun depan ini hanyalah sekedar proyeksi angka-angka saja, tapi hal yang terpenting adalah bagaimana pemerintah memperbaiki kinerja ekonominya pada tahun depan sehingga bisa menumbuhkan pertumbuhan ekonomi. Apalagi tahun depan merupakan tahun politik dimana pejabat pemerintah sibuk untuk mengurusi politiknya masing-masing.

"Hal yang harus dilakukan pemerintah, janganlah sekedar proyeksi saja namun harus diperbaiki kinerja perekonomian pemerintah seperti peningkatan produktifitas produksi dalam negeri dan meningkatkan ekspor," kata dia.

Anton menjelaskan, untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi maka diperlukan adanya perbaikan iklim investasi yang baik di Indonesia. Untuk menunjang iklim investasi yang baik maka perlunya perbaikan infrastruktur, peningkatan kesejahteraan buruh, dan kepastian hukum.

"Proyeksi pertumbuhan ekonomi itu hanyalah sekedar angka kira-kira saja, hal yang terpenting adalah bagaimana prinsip penunjang pertumbuhan ekonomi dapat dijalankan dengan baik," ujarnya.

Anton menjelaskan proyeksi pertumbuhan ekonomi memang sangat penting untuk menjadi ukuran dalam suatu pencapaian tapi janganlah menyerahkan suatu keadaan dalam suatu proyeksi saja. Proyeksi itu penting tapi hal yang terpenting adalah bagaimana pemerintah memperbaiki faktor ekonomi untuk menunjang pertumbuhan ekonomi.

Dia sendiri memproyeksi pertumbuhan ekonomi akan berada di bawah 6% pada tahun depan dikarenakan melihat indikator makro yang terjadi pada akhir tahun ini. Jika pemerintah bisa mengerjakan PR dalam menunjang perekonomian Indonesia dan bekerja keras untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi, maka pertumbuhan ekonomi bisa melebihi atas proyeksi BI dan Bank Dunia.

"Hal yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana birokrasi pemerintah bekerja untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang baik, apalagi pada tahun depan merupakan tahun politik dimana pejabat negara sibuk mengurusi politiknya," tambah Anton.

Guru Besar Ekonomi UGM Prof Sri Adiningsih menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2014 akan sangat bergantung pada pertumbuhan ekonomi dunia dan situasi politik yang akan terjadi di 2014. pasalnya kedua faktor tersebut akan menjadi acuan dari pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Pertumbuhan akan sangat bergantung pada situasi politik 2014 dan juga ekonomi dunia. Kalau situasi politik tidak stabil dan ekonomi dunia masih stabil maka pertumbuhan ekonomi Indonesia juga akan terpuruk. Diperkirakan bisa dibawah dari prediksi Bank Dunia sebesar 5,3%,” ujarnya, Sabtu.

Menurut dia, kondisi ekonomi dunia diperkirakan masih akan terus bergejolak dan akan berdampak pada instabilitas makro ekonomi nasional. Kondisi ekonomi dunia secara umum masih mengalami perlambatan, apalagi kondisi ekonomi Amerika Serikat dan Eropa belum sepenuhnya pulih. “Yang berbahaya adalah kalau ada perburukan ekonomi yang pasti akan mengakibatkan pada instabilitas ekonomi makro. Ini akan berbahaya bagi pertumbuhan ekonomi kita," ujar Sri.

Salah satu yang akan terkena dampaknya adalah dalam hal sektor perdagangan, yakni penurunan ekspor dan pelonjakkan impor yang berakibat pada defisit neraca perdagangan yang semakin melebar. “Yang dikhawatirkan dari sisi perdagangan barang dan jasa internasional kalau impor terus meningkat dikhawatirkan akan menekan pertumbuhan ekonomi, yang akan semakin terpangkas,” ujarnya. sylke/nurul/iwan/bari/mohar