Industri Pengolahan Rumput Laut Masih Minim

Sektor Budidaya Non Perikanan

Senin, 07/10/2013

NERACA

Jakarta - Rumput laut merupakan salah satu komoditas andalan ekspor Indonesia keberbagai negara tetangga. Namun, sangat disayangkan, sampai saat ini pengembangan industri pengolohan rumput laut masih sangat minim.

Padahal, rumput laut hasil budidaya masyarakat Indonesia, sudah menjadi produk kelautan yang cukup unggul sehingga, dapat memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional. Untuk saat ini, produksi rumput laut dalam negeri semakin meningkat. Bahkan, tahun lalu, Indonesia menjadi salah satu produsen rumput laut terbesar di dunia.

Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan Sjarief Widjaja mengungkapkan,di masa depan budidaya rumput laut dan industri pengolahan akan berkembang di pasar dan akibatnya akan menciptakan lapangan kerja, pendapatan, dan ekonomi perbaikan bagi pelaku bisnis.

"Pengembangan budidaya rumput laut merupakan salah satu bagian dari penguatan industrialisasi kelautan dan perikanan berbasis pelestarian lingkungan atau dikenal juga dengan ekonomi biru. Dengan demikian, sektor kelautan dan perikanan bisa semakin berkontribusi terhadap penyediaan lapangan kerja dan pengurangan kemiskinan,"ujar Syarief di Jakarta, akhir pekan lalu.

Lebih lanjut lagi Syarief mengatakan melalui industrialisasi kelautan dan perikanan diharapkan ada peningkatan nilai tambah produk kelautan dan perikanan yang diikuti dengan meningkatnya daya saing. "Sehingga terjadi modernisasi antara produk hulu dan hilir, serta terjadi penguatan wirausaha kelautan dan perikanan yang difokuskan pada komoditas utama sekaligus terbentuknya distribusi sumber daya alam dengan manajemen terpadu," kata Sjarief.

Workshop ini diikuti oleh 150 peserta yang berasal dari beberapa negara peserta Food and Agriculture Organization (FAO). Negara tersebut antara lain Bahrain, Kamboja, India, Iran, Myanmar, Oman, Saudi Arabia, Sri Lanka, dan Thailand.

Industri Olahan

Sementara itu, Ketua Masyarakat Rumput Laut Indonesia (MRLI) Jana Anggadiredja memaparkan kalau saat ini pengembangan industri komoditas rumput laut olahan masih belum mampu berkembang baik di dalam negeri saat ini.

Hal tersebut dinilai lantaran masih minimnya pembinaan pemerintah terhadap industri rumput laut dari sisi hulu ke hilir. "Industri rumput laut Indonesia masih mengalami kendala dalam pengembangannya. Di sisi hilir, formulasi branding produk olahan (karagenan) yang berasal dari bahan mentah rumput laut masih sangat kurang," kata Jana Anggadiredja.

Dia mengemukakan saat ini Indonesia baru bisa memproduksi sekitar 22 jenis (item) produk olahan yang berasal dari bahan mentah rumput laut jenis euchema cottonii. Sementara, di beberapa negara lainnya, seperti Filipina saat ini sudah mampu memproduksi hampir sekitar 150 jenis produk olahan rumput laut karagenan. Produk olahan karagenan biasa digunakan industri makanan sebagai bahan pengental, pengemulsi dan stabilisator suhu.

Menurut Jana untuk meningkatkan daya saing rumput laut olahan, seperti karagenan tersebut, pemerintah mestinya segera membangun penguatan struktur industri rumput laut nasional yang terintegrasi dari hulu ke hilir.

"Selama ini persoalan industri rumput laut memang belum beres dari sisi hulunya. Minimnya pembinaan pemerintah membuat kualitas bahan baku rumput laut Indonesia belum memadai. Dari sisi pengolahan, selain branding, kualitas dan jenis produksinya juga mesti ditingkatkan ke depan," ujarnya menjelaskan.

Tahun ini, katanya, sekitar 82,3 % dari estimasi produksi rumput laut olahan sekitar 210 ribu ton lebih banyak diperuntukkan untuk kepentingan pasar ekspor, di antaranya, China, Filipina, Korea Selatan (Korsel), serta beberapa negara Uni Eropa.

Namun, untuk tahun ini, pihaknya agak pesimistis dengan kinerja ekspor rumput laut, meskipun Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) resmi menargetkan ekspor produk perikanan dan kelautan sampai akhir 2012 bisa mencapai US$ 4,2 miliar.

Hal tersebut dipicu adanya rencana pemerintah dalam beberapa tahun terakhir ini yang akan menghentikan ekspor bahan mentah rumput laut secara bertahap dengan alasan untuk meningkatkan nilai tambah industri di dalam negeri.

Menurut Jana, saat ini beberapa negara telah diminta para buyer internasional untuk mengembangkan industri rumput laut masing-masing sebagai antisipasi jika Indonesia pada akhirnya benar-benar menghentikan ekspor.

Di antara beberapa negara yang telah memulai pengembangan budi daya rumput laut tersebut, yakni Madagaskar, Filipina, Afrika Selatan, sera Thailand. "Jika pemerintah menghentikan ekspor bahan baku rumput laut, persoalannya industri di dalam negeri sendiri belum siap menampung karena khawatir produksi yang terlalu besar tidak terserap pasar, sehingga harga bisa jatuh," katanya.

Menteri Perindustrian MS Hidayat mengemukakan, siap menjamin pemberian insentif fiskal bagi jenis investasi yang memberi nilai tambah bagi sumber daya alam nasional dan penyerapan tenaga kerja.

Hal tersebut ditujukan agar Indonesia tidak hanya menjadi pengekspor bahan mentah saja. Pada tahap awal, insentif tersebut akan diperuntukkan bagi sektor agro industri sebagai milestone untuk menyukseskan program hilirisasi, seperti, kakao, kelapa sawit, kopi dan rumput laut.