Pemburu Rente Bikin P3DN Tidak Berjalan Optimal

Produk Lokal Vs Barang Impor

Senin, 07/10/2013

NERACA

Jakarta - Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah, untuk menekan lajunya produk impor di dalam negeri, dengan mendorong pemakaian produk lokal atau penggunaan produksi dalam negeri di seluruh instansi pemerintah yang ada dengan tujuan meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan ekonomi nasional.

Bahkan, secara gamblang dalam instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2009 tentang Penggunaan Produk Dalam Negeri Dalam Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah telah mengamanatkan bahwa instansi pemerintah wajib memaksimalkan penggunaan hasil produksi dalam negeri dalam pengadaan barang dan jasa yang dibiayai oleh APBN/APBD, terutama untuk produk yang nilai capaian tingkat kandungan dalam negerinya telah mencapai minimum 25% atau 40% termasuk Bobot Manfaat Perusahaan (BMP).

Dalam implementasi Inpres tersebut, Menteri Perindustrian mengeluarkan Peraturan Menteri Nomor 49/M-IND/PER/05/2009 tentang Pedoman Penggunaan Produk Dalam Negeri Dalam Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.

Dari regulasi yang telah ada, Pemerintah dituntut menjadi lokomotif dari penggunaan produk dalam negeri yang nantinya diharapkan akan diikuti oleh masyarakat luas.

Pemerhati Kebijakan Industri dan Perdagangan, Fauzi Aziz mengungkapkan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN) harus didukung oleh semua pihak. "Saat ini masih banyak oknum yang mencari "rente" di sektor perdagangan impor, pengadaan barang dan Jasa, sehingga program P3DN tidak berjalan dengan optimal," jelas Fauzi saat dihubungi Neraca, akhir pekan lalu.

Lebih lanjut, Mantan Dirjen IKM ini memaparkan, yang lebih menyedihkan, dari pihak masyarakat konsumen Indonesia, sudah makin terperangkap ke dalam jebakan mindset global consumerism sehingga mereka lebih menyukai barang impor ketimbang barang dalam negeri meskipun membelinya harus dengan jalan berhutang (menggunakan fasilitas kredit konsumsi).

Sementara itu, Staf Ahli Menteri Perindustrian bidang Pemasaran dan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN), Fery Yahya mengungkap kalau hingga kini program P3DN belum berjalan sesuai harapan. .

Padahal, lanjut Fery, sebenarnya tidak ada yang kurang pada produk-produk Indonesia, baik mutu, desain dan harga, produk nasional mampu bersaing, di pasar internasional sekalipun. Soal masih ada satu dua produk hyang bermutu buruk, yah itu wajar-wajar saja. Tapi jangan digeneralisir bahwa semua produk Indoneia tidak bermutu.

Namun tambahnya, walau produk kita kurang layak, secara nasional, kita wajib hukumnya mencintai produk sendiri.

Dia memberi contoh warga India yang begitu mencintai produknya. Dia sebut misalnya mobil produk India tidak ada apa-apanya dibanding yang diproduksi di Indonesia, tapi mereka sangat mencintai mobil yang mereka produksi. Kalau kita cintai produksi sendiri, lama-lama kan para produsen akan membenahi mutu dan desain. Tapi ini belum apa-apa sudah dicap jelek. Alasan klasik.

Diakui, berbagai upaya telah dilakukan Kementerian Perindustrian untuk terus mendorong peningkatan penggunaan produk-produk industri dalam negeri melalui penerapan regulasi dan program stimulan seperti kampanye P3DN di setiap lini kegiatan ekonomi.