Efisiensi, Indika Energy Lunasi Obligasi US$230 Juta

NERACA

Jakarta- Meski harus membayar lebih mahal, PT Indika Energy Tbk (INDY) memutuskan untuk menarik kembali obligasi II yang diterbitkan entitas anak, Indo Integrated Energy II B.V (IIE II BV). Perseroan akan melakukan pembelian kembali obligasi tersebut kepada seluruh pemegang obligasi senilai US$230 juta dengan bunga tetap sebesar 9,75% per tahun pada 5 November 2013.

Langkah ini tentunya menjadi konsekuensi bagi perseroan untuk membayar lebih mahal dari harga pokoknya, “Harga penebusan sebesar 104,87% plus bunga akrual dan belum dibayar (bila ada) terhitung sampai tanggal penebusan,” kata Sekretaris Perusahaan INDY, Dian Paramita dalam keterangan resminya di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Tercatat, obligasi (senior notes) II senilai US$ 230 juta ini diterbitkan entitas anak perseroan, Indo Integrated Energy II B.V (IIE II BV) pada 5 November 2009 dan akan jatuh tempo November 2016. Sementara, opsi pembelian kembali obligasi tersebut maksimum dilakukan pada November 2013. Informasinya, sekitar US$ 140 juta dana hasil obligasi II perseroan digunakan bagi pembiayaan belanja modal alias capital expenditure (capex) entitas anak, PT Petrosea Tbk (PTRO).

Selain melakukan efisiensi dengan menekan utang, belum lama ini perseroan melakukan kerja sama dengan China Railway Group Limited (“CREC”) untuk pengembangan tambang batubara dan infrastruktur di Papua dan Kalimantan Tengah. Hal ini dilakukan untuk menyiasati turunnya harga komoditas tambang yang berpengaruh terhadap kinerja perseroan.

Perseroan telah menandatangani principal agreement dengan China Railway Group Limited (“CREC”) pada 3 Oktober 2013. Melalui kerja sama ini perseroan dan CREC akan bekerja sama untuk mengembangkan dan mengkonsolidasikan cadangan batubara yang dapat ditambang guna mendukung produksi perseroan, “Minimal 10 juta ton batubara per tahun untuk masing-masing proyek di Papua dan Kalimantan.” ujarnya.

Melalui kerja sama ini perseroan dan CREC akan mengembangkan infrastruktur untuk transportasi hasil tambang di wilayah-wilayah terkait. Pelaksanaan proyek tersebut akan berjalan sesuai dengan hasil studi kelayakan yang dilakukan perseroan. Estimasinya, nilai proyek ini ditaksir mencapai US$6 miliar yang meliputi kegiatan persiapan, konstruksi, operasional, dan pemeliharaan.

Pihak manajemen perseroan sebelumnya mengaku merevisi target kinerjanya di tahun ini dikarenakan harga komoditas batubara yang menjadi bisnis utama perseroan masih melemah. “Kami belum tahu akan turun berapa tapi pasti semua akan berdampak negatif di komoditas,” kata Direktur Utama Indika Energy Wisnu Wardhana.

Harga jual rata-rata batubara, menurut dia, berada di kisaran US$ 76 per ton. Padahal, pada awal tahun, harga jual batubara masih berada di atas US$90 per ton. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, perseroan akan melakukan efisiensi biaya produksi, dan menaikkan produktifitas. “Seluruh perusahaan kami melakukan remapping strategi mereka,” ucapnya.

Pihaknya mencatat, hingga paruh pertama tahun ini, perseroan memproduksi sebanyak 19,53 juta ton batubara atau naik 9% dari produksi di periode yang sama tahun lalu. Adapun produksi batubara Indika dikontribusi dari dua anak usaha yakni PT Kideco Agung Jaya dan PT Santan Batubara. Perseroan mencatatkan rugi bersih periode berjalan sebesar US$2,56 juta, anjlok dari periode yang sama tahun lalu yang masih membukukan laba bersih US$88,15 juta. (lia)

Related posts