Kuota BBM untuk Pembangkit Bakal Jebol

Gara-gara Sewa PLTD di Sumut dan Riau

Senin, 07/10/2013

NERACA

Jakarta – Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jarman menyebutkan bahwa kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) yang telah disetujui dalam APBN Perubahan di 2013 akan melebihi kuota yang sudah ditetapkan yaitu sebesar 6,3 juta kiloliter. Hal itu terjadi karena adanya penyewaan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang berkapasitas 200 MW.

“Di daerah Sumatera Utara dan Riau, kita menambahkan listrik sebesar 200 MW dengan menyewa PLTD. Itu kami lakukan untuk mengatasi krisis listrik yang terjadi pada daerah tersebut. Akan tetapi kelebihan kuotanya hanya sedikit karena sewa PLTD berlangsung 2-3 bulan saja," kata, di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Menurut dia, PLTU Nagan Raya di Aceh, meski masih tahap komisioning, juga sudah mulai memasok sistem Sumatera bagian utara yang mencakup Sumut dan Aceh dengan kapasitas 75-100 MW. "Kalau selama satu bulan PLTU Nagan Raya bisa memasok terus, maka langsung bisa komersial, sehingga menekan pemakaian BBM," katanya.

Ia juga menambahkan, kenaikan konsumsi BBM akibat penyewaan PLTD hanyalah kondisi darurat. PLN menyewa genset berkapasitas 200 MW untuk mengatasi krisis listrik di Sumut dan Riau. Sebesar 150 MW akan dipasang di Paya Pasir, Medan, Sumut pada awal November 2013 dan 50 MW lainnya dipasang di Padang untuk mengatasi krisis di Riau.

Sistem Sumatera bagian tengah mencakup Riau, Sumbar, dan Jambi. Di Sumut, defisit dikarenakan keterlambatan pembangunan proyek pembangkit berkapasitas 10.000 MW yakni PLTU Nagan Raya 2x110 MW dan PLTU Pangkalan Susu 2x200 MW. PLTU yang direncanakan beroperasi 2012-2013 terlambat karena kendala keuangan kontraktor dan pembebasan lahan.

Penyebab lain pertumbuhan konsumsi listrik melebihi rencana dari perkiraan 9%, tetapi kenyataannya tumbuh 11%. Di tambah lagi, sewa PLTG berkapasitas 40 MW yang sudah siap beroperasi pada Juni 2013, tidak terealisasi dikarenakan ketiadaan gas secara tiba-tiba. Serta, kontrak sewa PLTD minyak bakar pada Maret 2012 juga tidak siap beroperasi karena mesin dari China bermasalah.

Pada akhirnya, kata Jarman, PLN menambah diesel baru dari Jerman untuk menggantikan mesin China dan akan beroperasi awal Desember 2013. Faktor lainnya adalah perbaikan sejumlah pembangkit, yakni PLTU Labuhan Angin dan PLTGU Belawan. Sementara, defisit di Riau disebabkan berkurangnya pasokan PLTA akibat kemarau dan perbaikan PLTU Ombilin.

Menurut dia, sistem kelistrikan Sumatra bagian tengah dipasok tiga PLTA yakni Singkarak, Maninjau, dan Koto Panjang. Ketiga PLTA itu sebenarnya berkapasitas total 350 MW, namun kini hanya mampu memasok 100-150 MW karena berkurangnya debit air akibat musim kemarau.

Pembengkakan pengunaan BBM berbanding terbalik dengan keinginan PLN untuk melakukan efisiensi penggunaan BBM di sektor listrik. Direktur Utama PLN Nur Pamudji menjelaskan bahwa keinginan perseroan adalah melakukan efisiensi mencapai single digit. "Pada 2012 telah turun menjadi 15%. Dengan tren yang selalu turun, kami menargetkan tiga tahun ke depan itu pemakaian BBM bisa single digit," ujar Pamudji.

Sementara untuk 2013 ini, PLN berharap penggunaan BBM untuk pembangkit listrik bisa kembali turun hingga 12% dari kuota penggunaannya. “Terus tahun depannya lagi itu sudah single digit mungkin 9 koma sekian persenan, terus nanti turun-turun terus," harap dia.

Hingga pada akhirnya pada 2015 pemakaian BBM untuk pembangkit listrik bisa benar-benar turun di angka 5%. Menurutnya, ini butuh tahap, tidaklah bisa langsung secara per tahun karena dalam penerapannya sangat butuh waktu tiga tahun bahkan bisa lebih.

Beralih ke Gas

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswoutomo menjelaskan bahwa PT Perusahaan Listrik Negara Persero (PLN) saja menghabiskan BBM sebesar 6 juta kiloliter (kl) atau sebesar 6 miliarliter setahun untuk menghidupkan pembangkit listrik bertenaga dieselnya. Padahal untuk tahun ini saja, kuota BBM bersubsidi untuk masyarakat sekitar 46 juta kl dan dalam rapat APBN Perubahan 2013 ini disetujui untuk dinaikkan kembali menjadi 48 juta kl.

"Kita setuju bahwa konsumsi BBM harus dikurangi. PLN juga yang selama ini memakai genset diesel harus diganti dengan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atau pembangkit mikro hidro," tambahnya.

Masalahnya, produksi gas ini banyak ditemukan di Indonesia bagian timur. Sementara itu, pemakai gas yang rata-rata berasal dari kalangan industri berada di Indonesia bagian barat, khususnya di Jawa Barat.