Pelaku Pasar Tidak Perlu Khawatir - Shutdown AS Hanya Jangka Pendek

NERACA

Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) optimis dampak penghentian kegiatan operasional (shutdown) Amerika Serikat hanya berdampak minim bagi pasar modal Indonesia. Sehingga investor dihimbau tidak perlu khawatir terhadap kondisi ekonomi AS.

Direktur Utama BEI Ito Warsito mengungkapkan, kondisi ekonomi AS saat ini pernah terjadi sebelumnya sekitar tahun 1995-1996. Namun menurut dia, ketika AS mengalami kondisi ekonomi buruk, indeks tetap bergerak positif. Secara historis, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap bergerak naik, “Jadi investor Indonesia tidak perlu khawatir terhadap shutdown AS, karena akibatnya kepada Indonesia secara langsung bisa dikatakan minim,”ujar dia di Jakarta akhir pekan kemarin.

Kendatipun demikian, pelaku pasar juga harus tetap mencermati dampaknya jika kegiatan operasional AS berhenti secara berkepanjangan. Sebab dia menilai jika kondisi tersebut berkepanjangan akan berdampak pada perlambatan ekonomi global, termasuk ke Indonesia.

Sementara itu analis pasar modal dari PT Dana Reksa Sekuritas Lucky Bayu Purnomo menuturkan, beberapa sentimen terbentuk akibat penundaan penarikan stimulus The Fed. Menurut dia, indeks pada pekan ini akan berpotensi melemah karena menunggu rapat FOMC yang akan dilaksanakan pada 30 Oktober mendatang.

Dia menyatakan tangga 30 Oktober nanti kemungkinan terbesar penarikan stimulus akan direalisasikan. Menurutnya dengan jeda yang cukup panjang tersebut, justru membuat pelaku pasar panik karena kondisi pasar diselimuti ketidak pastian. Karena dengan penundaan penarikan stimulus The Fed justru mencerminkan kondisi perekonomian global sedang tidak stabil termasuk Amerika.“Dampaknya, negara Asia yang banyak melakukan ekspor-impor dengan Amerika merasakan ketidak stabilan tersebut, termasuk Indonesia”, jelas dia.

Sehingga, aksi ambil untung menjadi sikap tepat hingga menunggu hasil pertemuan tersebut. Dia juga menambahkan bahwa trading harian dalam jangka pendek menjadi pilihan yang tepat menunggu keputusan The Fed. Karena dia menyatakan bahwa ditengah kondisi yang tidak tentu seperti saat ini tidak tepat untuk melakukan trading jangka panjang.

Sementara itu, dia menilai OJK dan BEI harus melakukan beberapa hal untuk menenangkan pasar, seperti himbauan agar emiten melakukan public expose untuk menenangkan investor karena kondisi saat ini bukan disebabkan fundamental perusahaan melainkan sentimen global.

Selain itu, dengan kondisi seperti ini buyback juga harus dihimbau dengan cara bertahap karena postur IHSG masih lemah. BEI dan OJK juga dapat memberi sanksi pada emiten yang tidak membagikan dividen karena dividen seharusnya menjadi stimulus bagi investor di pasar modal. Dia melanjutkan, bahwa kondisi saat ini menjadi waktu yang tepat bagi OJK dan BEI delisting saham tidur karena saham tersebut tidak ada pergerakannya. (nurul)

BERITA TERKAIT

Ancaman Covid-19 - Reksa Dana Terproteksi Marak Diterbitkan

NERACA Jakarta – Meskipun kondisi pasar modal saham lesu, namun minat penerbitan produk investasi di pasar masih ramai. Berdasarkan siaran…

Jaga Stabilitas Harga Sahan - Telkom Buyback Saham Rp 1,5 Triliun

NERACA Jakarta – Melaksanakan anjuran dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pemerintah untuk memperbaiki ekonomi dan melakukan stabilisasi harga saham…

Dukung Physical Distancing - Sisternet-Siberkreasi Lakukan Kelas Edukasi Online

NERACA Jakarta - Mewabahnya COVID-19 di Indonesia tidak menghalangi PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) melalui Sisternet untuk terus melanjutkan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Beban Keuangan Membengkak - Perolehan Laba Adi Sarana Turun 23,06%

NERACA Jakarta – Di balik agresifnya ekspansi bisnis PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) menambah armada baru, namun hal tersebut…

Penjualan Delta Djakarta Melorot 7,38%

NERACA Jakarta – Emiten produsen minuman alkohol, PT Delta Djakarta Tbk (DLTA) membukukan laba bersih sebesar Rp317,81 miliar, melorot 6,01%…

Debut Perdana di Pasar Modal - IPO Saraswanti Oversubscribe 19,94 kali

NERACA Jakarta – Di tengah badai penyebaran Covid-19 yang masih, minat perusahaan untuk mencatatkan sahamnya di pasar modal masih tinggi.…