KTT APEC Minus Obama

Senin, 07/10/2013

Oleh: Prof. Firmanzah, PhD

Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan

Seperti kita ketahui bersama KTT APEC 2013 dilakukan tanpa kehadiran Presiden Obama. Masih belum disepakatinya batas utang (debt-ceiling) mengakibatkan terhentinya (shut-down) kegiatan administrasi pemerintahan di Amerika Serikat. Tidak kurang dari 800.000 karyawan administrasi terpaksa dirumahkan dan membuat terhentinya sejumlah fasilitas pelayanan publik. Dihadapkan pada situasi seperti ini, Presiden Obama telah menelpon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan menjelaskan ketidakhadiran pada KTT APEC di Bali tahun ini. Selanjutnya, Presiden Obama menugaskan Menteri Luar Negeri John Kerry untuk mewakili dalam pertemuan para Leaders di KTT APEC.

Dapat dipastikan ketidakhadiran Presiden Obama dalam KTT APEC tidak akan mengurangi arti penting KTT APEC di Bali. Pembahasan yang sifatnya lebih teknis dan operasional baik ditingkat Senior Official Meeting (SOM) dan Menteri akan terus berjalan sebagaimana mestinya. Sejumlah kesepakatan kerjasama kawasan juga telah dilakukan dan akan direkomendasikan sekaligus menjadi dasar pengambilan kesepakatan diantara para pemimpin APEC.

Salah satu agenda pertemuan Asia-Pacific Business Advisory Council (ABAC) adalah CEO Summit yang juga mengagendakan Presiden Obama berpidato di depan lebih dari 1.200 dunia usaha di kawasan. Kehadiran Presiden Obama sebenarnya sangat ditunggu oleh kalangan dunia usaha untuk mendapatkan gambaran lebih utuh atas sejumlah kebijakan ekonomi Amerika Serikat. Namun kehadiran para pemimpin APEC lainnya di CEO Summit telah meyakinkan para investor akan komitmen pemimpin APEC untuk menjaga daya tahan (resilient) dan pertumbuhan ekonomi kawasan.

Sebagai Ketua dan tuan rumah KTT APEC tahun ini, Indonesia akan memastikan bahwa semua agenda pembahasan dapat berjalan dengan baik. Komitmen setiap anggota APEC sangat tinggi untuk menjadikaan kawasan Asia Pasifik lebih berdaya tahan dan sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi dunia. Indonesia bersama dengan kekuatan ekonomi Asia Pasifik lainnya seperti Amerika Serikat, Rusia, Jepang, Korea Selatan dan Australia telah berkomitmen untuk terus meningkatkan dan memperluas kerjasama di bidang ekonomi. Ketidakhadiran Presiden Obama selama KTT APEC di Bali juga dipastikan tidak mengurangi komitmen Amerika Serikat terkait dengan hal ini.

Tentunya para anggota APEC sangat berharap bahwa pemerintahan Obama dengan Kongres Amerika Serikat dapat secepatnya menemukan titik temu atas permasalahan ini. Sebagai kekuatan ekonomi penting kawasan dan dunia, terganggunya roda perekonomian Amerika Serikat akan berdampak pada aktivitas perekonomian negara tersebut. Kondisi ini dikhawatirkan dapat menurunkan kepercayaan dunia usaha, mengurangi daya beli masyarakat, dan berpotensi menurunkan pertumbuhan ekonomi. Ketika perekonomian Amerika Serikat terganggu maka hal ini juga akan menekan lebih dalam lagi pertumbuhan ekonomi Asia Pasifik dan dunia.