Jalankan Transformasi, Exploitasi Energi Ganti Presdir - Tingkatkan Kinerja

NERACA

Jakarta - PT Exploitasi Energi Indonesia Tbk (CNKO) dalam RUPSLB mengganti posisi Presiden Direktur. Pergantian ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja perseroan ke depannya. Komisaris Utama PT Exploitasi Energi Tbk Andri Cahyadi menyatakan bahwa tujuan utama perubahan kepengurusan untuk meningkatkan kinerja perseroan kedepan.“Perubahan direksi dan komisaris dilakukan agar proses trasformasi energi untuk menerangi Indonesia yang diupayakan perseroan akan semakin cepat terwujud”, katanya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Dia menambahkan, diharapkan dengan tim baru tersebut, perseroan akan fokus menjalankan bisnisnya. Selain itu, perseroan juga berharap kedepannya dapat menghadapi tantangan yang tidak mudah termasuk tekanan pada harga komoditas.

Dalam RUPSLB yang digelar, pemegang saham setuju menunjuk Hendri Setiadi sebagai Presiden Direktur yang baru menggantikan Henry Halomoan Sitanggang yang mengundurkan diri. Selain Henry Sitanggang, rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) juga menyetujui pengunduran diri Kusno Hardijanto sebagai Presiden Komisaris, serta Alhilal Hamdi sebagai Komisaris Independen.

Keduanya digantikan oleh Andri Cahyadi dan Edwin Sitanggang, masing-masing sebagai Presiden Komisaris dan Komisaris Independen perseroan. Kemudian diangkat pula Erry Firmansyah dan Parno Isworo sebagai komisaris perseroan. Jabatan tersebut disandang sejak penutupan RUPSLB hingga berakhirnya masa jabatan anggota Dewan Komisaris lainnya.

Selain menjelaskan pergantian direksi, perseroan juga menjelaskan mengenai ekspansinya di bidang Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Saat ini, perseroan tengah mencari pinjaman sebesar Rp1,6 triliun untuk mendanai rencana ekspansi tersebut. Perseroan menargetkan akhir 2014 proyek tersebut sudah masuk dalam portofolio bisnis perseroan di bidang pembangkit listrik.“Total investasi yang dibutuhkan untuk merampungkan proyek ini, ditaksir mencapai US$174 Juta atau sekitar Rp 2 triliun. Untuk mencukupi kebutuhan investasi itu, perseroan akan menggunakan dana kas internal dan pinjaman perbankan. Sementara investasi untuk pembangunannya sekitar US$1,5 juta per MW”, jelas Wakil Presiden Direktur perseroan Maxi Tjandra Tjoajadi.

Renakanan Merger

Selain mencari pendanaan dari perbankan, perseroan mengakui tidak menutup kemungkinan jika ada perusahaan lain yang ingin bergabung dalam proyek tersebut. Salah satu mitranya adalah perusahaan asal China, Quadiant.

Hingga aaat ini sudah ada pembicaraan dengan perusahaan informasi teknologi tersebut untuk menggarap penambahan kapasitas pembangkit listrik.“Proyek ini bertujuan meningkatkan kapasitas pembangkit listrik milik perseroan yang terletak di wilayah Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Dari semula berkapasitas 2x7 MW menjadi 2x65 MW”, katanya.

Hingga semester I tahun ini, pendapatan dari bisnis pembangkit listrik yang terletak di Pangkalan Bun belum terlalu banyak, hanya sekitar Rp35,62 miliar atau 4,08% dari total pendapatan perseroan pada semester pertama 2013 yang mencapai Rp873,18 miliar. Dengan realisasi ekspansi, pendapatan perseroan di bidang pembangkit listrik bisa tumbuh 12 kali.“Pembangkit listrik yang beroperasi di wilayah tersebut berpotensi tumbuh 12 kali lipat dari angka pendapatan tahun lalu, atau bisa mencapai Rp1,05 triliun”, katanya.

Pada tahun ini, perseroan mengakui akan lebih memfokuskan sektor usahanya pada bisnis pembangkit listrik (power plant). Presiden Direktur sebelumnya Henry H. Sitanggang pernah menyatakan bahwa perseroan berencana mengembangkan PLTU berkapasitas 2x65 MW di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah dengan investasi senilai US$260 juta.“Kami menargetkan pembangunan pembangkit listrik ini pada 2014 dan akan beroperasi pada 2016. Pengembangan bisnis ini seiring dengan peningkatan kebutuhan energi listrik di dalam negeri, dengan kebutuhan energi listrik nasional setiap tahun meningkat 20%”, ujarnya.

Selain itu perseroan juga berencana mengoperasikan PLTU yang berada di wilayah Riau, yaitu Rengat dan Tembilahan yang masing-masing berkapasitas 2x7 MW pada kuartal III-2014 mendatang. (nurul)

BERITA TERKAIT

Imbas Lesunya Bisnis Properti - Laba Mentropolitan Kentjana Menyusut 39,61%

NERACA Jakarta –Imbas lesunya bisnis properti di 2019 menekan perolehan laba bersih PT Metropolitan Kentjana Tbk. (MKPI). Tengok saja, emiten…

Pasar Beras Stabil - Buyung Poetra Raih Penjualan Rp 1,65 Triliun

NERACA Jakarta – Di tahun 2019 kemarin, PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI) berhasil membukukan kinerja keuangan yang cukup mengesankan.…

Intiland Cetak Laba Bersih Rp 251,43 Miliar

NERACA Jakarta – Lesunya bisnis properti di tahun 2019 kemarin, rupanya tidak berdampak terhadap pencapaian kinerja keuangan PT Intiland Development…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Mayora Indah Raup Cuan Rp 1,98 Triliun

NERACA Jakarta – Masih positifnya pertumbuhan industri makanan dan minuman di tahun 2019 kemarin, dirasakan PT Mayora Indah Tbk (MYOR).…

Geliat Bisnis Pelabuhan - Times Line Cetak Laba Bersih Rp 92,99 Miliar

NERACA Jakarta – Emiten pelayaran, PT Perusahaan Pelayaran Tempuran Emas Tbk (TMAS) atau Temas Line mencatatkan kinerja yang positif sepanjang…

Danai Pengembangan Bisnis - ROTI Suntik Modal Anak Usaha di Filipina

NERACA Jakarta – Dukung pengembangan bisnis anak usahanya, PT Nippon Indosari Corpindo Tbk. (ROTI) menambahkan modal dasar ditempatkan dan disetor…