Orang Sakit Berjualan Obat

Oleh: Prof. Dr. Imam Suprayogo, Rektor UIN Malang

Selasa, 08/10/2013

Saya mengenal seseorang yang sudah lama kerjanya berjualan obat. Cara menjualnya dilakukan dengan cara berkunjung dari rumah ke rumah. Tidak semua orang dikunjungi, tetapi dipilih yang sekiranya membutuhkan obat dengan pelayanan khusus. Orang-orang yang sehari-hari sibuk, sehingga tidak sempat ke dokter atau ke toko obat, maka orang-orang seperti itulah yang menjadi pasarnya.

Sudah cukup lama, saya tidak didatangi oleh penjual obat yang saya maksudkan itu. Tetapi pada satu ketika, ia datang dengan membawa tas yang bersisi obat-obatan yang akan ditawarkan sebagaimana biasanya. Kedatangannya ke rumah, saya sambut dengan suasana gembira. Tetapi kali itu penampilannya tampak berbeda, tidak sesehat sebagaimana biasanya. Dugaan saya ternyata betul, ia mengaku bahwa akhir akhir ini menderita sakit, di antaranya terkena ambiyen. Bahkan ia dalam beberapa waktu lagi akan menjalani operasi.

Mendengar jawaban itu, dalam hati saya bertanya, bagaimana seorang yang sedang menderita sakit ambiyen, sehari-hari masih berjualan obat ambiyen. Kalau para pembeli tahu bahwa penjuual obat itu tidak sehat, maka tidak akan ada orang yang mau membeli obatnya. Umpama obatnya benar-benar manjur, dan ia sendiri meminumnya, maka tidak harus sampai akan operasi untuk menyembuhkan penyakitnya itu. Bisa saja obatnya manjur, tetapi dia sendiri tidak mau menggunakannya.

Rupanya penjual obat ini tidak menyadari, bahwa dalam berjualan, agar dagangannya laku, maka pembeli harus tahu dan yakin bahwa barang yang dijual itu berkualitas. Sebagai buktinya, penjual obat itu harus tampak segar dan sehat. Umpama saja penjual obat itu sedang sakit, maka sakitnya tidak boleh diketahui oleh calon pembeli. Bahkan oleh pembeli, penjual obat tersebut akan dinilai lucu, sedang sakit berjualan obat.

Hal lucu seperti digambarkan tersebut, sebenarnya tidak saja terjadi pada penjual obat dimaksud, tetapi juga tampak di lapangan kehidupan yang lebih luas. Hanya saja tidak banyak orang yang mempedulikannya. Contoh sederhana, kita seringkali menemukan seseorang yang mengalami kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan, maka yang dilakukan terasa aneh, yaitu misalnya membuat kursus mencari kerja. Lewat lembaga kursus yang dirintis itu, ia bisa bekerja dan mendapatkan keuntungan, sekalipun yang dikursus belum tentu akan mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

Contoh lain, dengan mudah bisa dilihat di dunia pendidikan. Ada saja guru dan bahkan dosen ekonomi, sehari-hari mereka mengajarkan ilmu ekonomi kepada para siswa dan mahasiswanya. Sementara itu dirinya sendiri sehari-hari masih mengalami kesulitan hidup, karena terlilit persoalan ekonomi keluarga. Berkali-kali sebenarnya ia telah membuka usaha, tetapi tidak pernah berhasil. Masih untung, guru atau dosen ekonomi seperti itu masih dipercaya oleh murid-murid atau mahasiswanya.

Masih banyak contoh serupa itu lainnya, misalnya guru atau dosen agama. Sehari-hari mereka mengajarkan tentang pentingnya sholat berjama’ah dan apalagi sholat subuh berjama’ah di masjid, berzakat, membayar infaq dan shadaqoh, tetapi dirinya sendiri tidak pernah kelihatan menjalankannya. Contoh-contoh tersebut sebenarnya esensinya sama dengan orang sakit yang menjual jamu tersebut.

Keadaan lucu serupa itu juga terjadi di berbagai lapangan kehidupan. Banyak petani sekarang ini yang tatkala isterinya pergi ke pasar bukan berjualan hasil pertanian, tetapi justru membelinya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Siswa dan mahasiswa belajar atau kuliah yang semestinya berusaha memperkaya ilmu, tetapi justru bergembira manakala guru atau dosennya tidak datang. Ada saja di antara mereka yang mengatakan bahwa yang penting adalah mendapat nilai dan akhirnya mendapatkan ijazah.

Masyarakat akhir-akhir sudah semakin maju, pendidikan sudah semakin meningkat, tetapi ternyata kelucuan-kelucuan juga semakin bertambah banyak jumlahnya. Kelucuan itu tidak saja tergambar dari adanya orang sakit berjualan obat, tetapi juga dalam kehidupan yang lebih luas. Guru sehari-hari mengajarkan sesuatu, tetapi dirinya sendiri tidak menjalankannya. Seorang yang tidak mengerti aspirasi rakyat, tetapi berani menjadi wakilinya. Pejabat yang bertugas mengatur anggaran, malah justru diselewengkan untuk diri dan kelompoknya sendiri. Maka kehidupan ini rasanya semakin tidak jelas dan lucu. Persis kisah penjual obat, pergi kemana-mana berjualan sementara dirinya sendiri sedang sakit. Wallahu a’lam. (uin-malang.ac.id)