Kenapa Resah, Ada Mobil Murah - Oleh: Ronald Surbakti

Berkat dukungan pemerintah, mulai September 2013 ini telah dipasarkan mobil murah ramah lingkungan atau juga dikenal dengan low cost green car (LCGC). Adalah dua perusahaan otomotif Daihatsu dan Toyota yang jadi perintis mobil murah berharga di bawah Rp 100 juta itu. Kementerian Perindustrian merupakan wakil pemerintah yang mendorong lahirnya mobil murah tersebut.

Dengan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2013 tentang Mobil Murah dan Ramah Lingkungan (low cost green car/LCGC), akhirnya upaya tersebut menjadi kenyataan. Diperhitungkan pasar mobil murah di Indonesia hampir mencapai 300.000 mobil per tahun.

Saat ini saja diperkirakan telah 8.000 unit mobil murah yang dipesan. Masyarakat boleh berharap dapat memiliki mobil baru dengan harga terjangkau. Sayangnya, impian banyak orang itu ternyata justru mengkhawatirkan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo.

Dia khawatir kehadiran mobil murah ramah lingkungan justru akan menambah sesak Ibu Kota, kemacetan. Untuk mengerem peredaran mobil murah di Jakarta, Jokowi antara lain berencana memberlakukan pajak khusus sehingga mendongkrak harga mobil, yang berarti sulit terjangkau.

Sebetulnya Jokowi tak perlu panik menyikapi kehadiran mobil murah. Sebab, siapa pun yang beraktivitas di Ibu Kota sehari-harinya sudah pasti akan berpikir berkali-kali sebelum memutuskan menggunakan mobil pribadi untuk bekerja.

Kemacetan yang dihadapi setiap hari justru membuat banyak orang beralih ke sepeda motor karena selain cepat, juga mudah mencari jalan alternatif. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta seharusnya tidak perlu merasa terganggu dengan kehadiran mobil murah dan ramah lingkungan. Kenapa resah?

Harusnya Jokowi tetap berfokus saja terhadap program pembenahan transportasi publik. Jika angkutan umum mendukung-tersedia cukup, aman, lancar, dan nyaman-apalagi tersedia 24 jam, dipastikan akan banyak warga beralih ke transportasi umum ketimbang menggunakan kendaraan pribadi.

Itu artinya Jakarta harus membangun jalan-jalan tambahan, serta memperbanyak jenis angkutan. Lagi pula mobil murah dan ramah lingkungan tidak hanya dipasarkan di Jakarta, tetapi ditawarkan di seluruh negeri. Kita juga harus berkaca ke negara lain yang justru mendukung kehadiran mobil murah dan ramah lingkungan, seperti di Inggris, Amerika Serikat, dan Rumania.

Tidak ada alasan bagi pihak mana pun menolak program soal mobil murah tersebut. Harusnya sukses melahirkan mobil murah menjadi kebanggaan semua pihak, apalagi di antara pemerintah sendiri. Bukankah Jokowi sendiri pernah memprakarsai lahirnya mobil murah? Tinggal bagaimana menyikapi dampaknya, termasuk kemacetan yang dikhawatirkan Pemprov Jakarta. (mimbar-opini.com)

BERITA TERKAIT

Pemerintah Serius dan Totalitas Menanggulangi Wabah Covid-19

Oleh : Alfisyah Kumalasari, Warganet tinggal di Bekasi   Jauh sebelum Virus Corona atau Covid - 19 ditetapkan sebagai pandemi…

Ekonomi Nasional Mulai Meradang Akibat Covid-19

  Oleh : Evita Rahayu, Pengamat Ekonomi   Sejumlah emiten perkebunan kelapa sawit mulai waswas dengan kebijakan Pemerintah India yang…

Stop Ekspansi Covid-19 dengan Tidak Mudik

  Oleh : Riki Alfiansyah, Pemerhati Sosial Kemasyarakatan   Imbauan untuk beribadah, belajar, dan bekerja di rumah telah dimanfaatkan sebagian…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Dampak Strategis Penyebaran Covid-19

  Oleh: Almira Fadhillah, Pasca Sarjana Univ. Gunadharma Hasil dari laporan penelitian Imperial Collage of London, Inggris. Jumlah kasus terkait…

Omnibus Law Ciptaker Miliki Perspetif Equal Social Welfare

  Oleh : Yoga Pratama, Pemerhati Sosial Politik  Omnibus Law jangan sampai disalah artikan hingga membuat aksi massa, kita harus…

Lockdown atau Social Distancing

    Oleh Joko Tri Haryanto, Staf Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu *)  Dampak penyebaran virus corona atau yang dikenal sebagai…