Widya Chandra Ternoda

Oleh N. Syamsuddin Ch. Haesy, Jurnalis Profesional

Senin, 07/10/2013

Saya tidak tahu persis, siapa yang pertama kali memberi nama kompleks perumahan para Menteri dan Pejabat Tinggi Negara, Widya Chandra.

Boleh jadi gagasan itu datang dari berbagai kalangan dalam lingkungan Sekretariat Negara era Presiden Soeharto, yang sejak dekade 70-an kerap menggunakan istiah-istilah dari bahasa Sanskerta sebagai nama gedung.

Kala itu saya berfikir, pemberian nama itu, karena kompleks perumahan ini memang berdekatan dengan Gedung LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Jadi relevan. Widya Chandra sendiri mengandung makna sebagai ‘Rembulan Pengetahuan.’ Artinya, kompleks itu dimaksudkan sebagai tempat bagi kalangan ‘moon society’ (masyarakat elite) yang umumnya adalah teknokrat berdomisili.

Maknanya, para menteri dan pejabat tinggi negara yang tinggal di situ, laksana rembulan yang terus menerus menerangi masyarakat, negara, dan bangsa, dengan cahaya pengetahuan, keahlian, dan kearifan mereka. Dalam pandangan filsafat Persia yang dikembangkan Thusi, nama itu memang cocok.

Menurut Thusi, yang disebut sebagai elite (istilah yang diberikan kepada kalangan menteri dan pejabat tinggi era itu) adalah insan yang dengan pengetahuan, pengalaman, kekuasaan, dan kompetensinya tak pernah henti mencerahkan masyarakat. Paling tidak, berjuang membangun kehidupan masyarakat yang lebih cerah (sejahtera), setelah lebih dari dua dasawarsa berjuang dalam kegelapan, ketika politik menjadi panglima dan instabilitas penyelenggaraan negara terjadi nyaris tanpa henti.

Pada dekade itu sampai dekade 1980-an, pemerintah memang sedang sangat gencar membangun. Pembangunan ekonomi menjadi jargon utama melalui proses pembangunan yang jelas capaiannya sesuai dengan time-line. Pemerintah mempunyai Repelita (Recana Pembangunan Lima Tahun) sebagai tahap-tahap pembangunan jangka panjang 25 tahun. Semua berpijak pada GBHN (Garis Garis Besar Haluan Negara) yang ditetapkan oleh MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat).

Sebagai wartawan, kala itu, acapkali mewawancarai Menteri dan pejabat tinggi negara lainnya, dari sudut pandang manapun wawancara dilakukan, setiap mereka pasti memberikan jawaban relatif sama: pencapaian orientasi pembangunan. Idiom – idiom yang populer dan keluar dari Widya Chandra adalah Sukses Pemerintahan, Sukses Pembangunan, dan Sukses Pembinaan Masyarakat.

Sukses pemerintahan adalah stabilitas dinamis politik, keamanan dan kekuatan pertahanan negara. Sukses pembangunan adalah pertumbuhan ekonomi yang meningkat, pemerataan pendapatan rakyat yang meluas, dan peningkatan kesejahteraan rakyat berkelanjutan. Sukses pembinaan masyarakat adalah tertib dan disiplin sosial. Kesemuanya terangkum dalam satu istilah yang sama diucapkan dari Presiden Soeharto sampai Kepala Desa : Demokrasi Pancasila. Manifestasinya: musyawarah dan mufakat.

Asta Brata

Sebagai Widya Chandra, setiap elite terkorelasi dengan 11 asas kepemimpinan yang terintegrasi, yaitu: Taqwa sebagai ekspresi iman kepada Tuhan Yang mahaesa, Ing Ngarsa Sung Tulada – keteladanan, Ing Madya Mangun Karsa – motivasional, Tut Wuri Handayani – pengayoman, Waspada Purbawisesa – kewaspadaan dan kepekaan intuitif, Ambeg Parama Arta – kemampuan memilih prioritas, Prasaja – kesederhanaan, Satya – loyalitas, Gemi Nastiti – efektif dan efisien, Belaka – kemauan – kerelaan – keberanian bertanggung jawab, Legawa – keikhlasan untuk menyerahkan tanggung jawab kepada generasi berikutnya.

Mereka juga mempunyai pesona persona yang sesuai dengan Asta Brata (8 Sifat Utama). Yaitu: Indra Brata, Yama Brata, Surya Brata, Chandra Brata, Bayu Brata, Kuwera Brata, Baruna Brata, dan Agni Brata. Artinya, seluruh pemimpin negara, terutama para menteri dan pejabat tinggi negara yang tinggal di Widya Chandra, kudu mampunyai sifat-sifat dan jiwa mulia.

Berjiwa Indra yang selalu konsekuen dan konsisten dengan komitmen menciptakan kesejahteraan kepada seluruh rakyat. Berjiwa Yama, mampu menegakkan hukum dan keadilan bagi seluruh rakyat, terutama para pencari keadilan. Berjiwa Surya yang selalu mau dan mampu mencerahkan rakyat secara adil dan merata, serta setia kepada seluruh rakyat.

Mereka juga harus berjiwa Chandra dengan selalu memperlihatkan pesona persona yang tenang, berseri-seri, sehingga rakyat akan optimistis dan berbesar jiwa dalam menghadapi seluruh fenomena dan dinamika kehidupan. Berjiwa Bayu, yang memungkinkannya selalu berada di tengah rakyat, sehingga mengetahui kondisi obyektif yang dihadapi dan dirasakan rakyatnya. Berjiwa Kuwera, sehingga selalu bijaksana, tepat, efektif, dan efisien dalam mengelola keuangan negara. Tidak boros, apalagi hedonis.

Para menteri dan pejabat tinggi negara, penghuni Widya Chandra, pun harus berjiwa Baruna. Mempunyai keberanian memberantas segala bentuk penyakit sosial, seperti kebodohan, kemiskinan, pengangguran, pelacuran (termasuk pelacuran politik) dan anarkisme. Karenanya, mereka juga harus berjiwa Agni. Memiliki sifat-sifat yang tak pernah henti memotivasi dan mendorong semangat rakyat untuk bahu-membahu menjadikan negara/bangsa ini sebagai negara/bangsa yang mandiri, berdaya saing, dan berperadaban unggul.

Nilai-nilai hidup dalam idealistic frame kepemimpinan bangsa dan negara semacam itulah yang terus mengendap di benak saya selama ini, setiap kali datang berkunjung ke kompleks Widya Chandra. Karenanya saya selalu berfikir, kompleks perumahan itu sepatutnya hanya diisi oleh mereka yang sungguh seorang yang layak sebagai Widya Chandra. Kaum yang membawa masyarakat, negara, dan bangsa bergerak dari kondisi gelap gulita ke ruang terang benderang karena cahaya kebenaran yang diperjuangkan dan diwujudkannya. Mereka itu seharusnya kaum yang berkualitas utama, tidak madya, apalagi nista. Kaum yang berakhlak mulia.

Rabu (2 Oktober 2013) malam, ketika sedang berdiskusi tentang peradaban dan strategi kebudayaan dalam pembangunan dengan Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar, saya terhenyak. Sejumlah petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggerebeg sebuah rumah di kompleks Widya Chandra. Penghuninya, Akil Mochtar – Ketua Mahkamah Konstitusi, seorang anggota DPR RI (dari Fraksi Golkar) Chairunnisa, dan seorang pengusaha dicokok karena kasus suap.

Widya Chandra ternoda. Akil Mochtar (sengaja dan tak sengaja) telah mengubah dirinya dari insan utama (insan kamil) menjadi kaum nista yang merendahkan marwah dirinya (asfala safiliin) dan menodai marwah institusi negara dengan superioritas fungsi luar biasa. Pemberitaan media, bahkan membuka mata, ternyata manusia yang seolah-olah mulia, dan hidup dalam gelimang kemewahan, ternyata amat nista !

Widya Chandra ternoda oleh polah tercela salah seorang petinggi negara. Ini pelajaran pertama yang amat memashgulkan agar kelak semua institusi yang diberikan amanah oleh rakyat berhati-hati untuk memilih siapa pantas dan siapa patut menghuni Widya Chandra ! (ant)