Awal Pekan, IHSG Masih Bergerak Melemah

Senin, 07/10/2013

NERACA

Jakarta – Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jum’at akhir pekan kemarin, ditutup melemah sepanjang perdagangan. Derasnya aksi ambil untung menjadi pemicu terkoreksinya indeks harga saham gabungan (IHSG). Disamping itu juga, investor menahan diri sambil mengamankan portofolio sampai ada kejelasan mengenai situasi di AS.

Mengakhiri perdagangan akhir pekan kemarin, indeks BEI terkoreksi 29,296 poin (0,66%) ke level 4.389,347. Sementara Indeks LQ45 terpangkas 5,586 poin (0,76%) ke level 732,907, “Setelah indeks BEI mengalami penguatan, pelaku pasar mencoba untuk mengambil posisi ambil untung, pelaku pasar saat ini cenderng melakukan transaksi jangka pendek," kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada di Jakarta akhir pekan kemarin.

Dia menambahkan mayoritas bursa saham di kawasan Asia yang juga berada di area negatif menambah faktor tekanan bagi indeks BEI.Sementara Head of Research Valbury Asia Securities, Alfiansyah menambahkan jika melihat IHSG secara beruntun kenaikannya, maka potensi aksi ambil untung cukup terbuka.

Namun, lanjut dia, sentimen positif dari internal masih akan menjadi faktor yang baik bagi indeks BEI. Sentimen AS terkait penghentian sebagian kegiatan pemerintahannya belum menjadi tekanan berarti bagi indek bursa domestik. Menurut dia, kondisi di AS dapat menjadi sinyalemen positif bagi indeks BEI kedepannya, karena berpeluang terjadi dana asing masuk ke Indonesia.Pasalnya, peringkat kredit Indonesia masih relatif terjaga.

Kendati demikian, lanjut dia, pelaku pasar untuk tetap waspada karena sentimen AS sewaktu-waktu menjadi ancaman, yakni bila sampai 17 Oktober 2013 nanti tidak ada kesepakatan untuk menaikkan batas utang, maka pemerintah AS terancam gagal bayar (default). Oleh karena itu, perdagangan saham Senin awal pekan diproyeksikan masih akan bergerak di zona merah.

Pada perdagangan saham akhir pekan kemarin, hampir seluruh indeks sektoral langsung kompak melemah, tapi ada dua yang berhasil menguat yaitu sektor perdagangan dan infrastruktur. Saham-saham komoditas dan bank jadi sasaran aksi jual. Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 96.189 kali pada volume 3,729 miliar lembar saham senilai Rp 3,811 triliun. Sebanyak 81 saham naik, sisanya 161 saham turun, dan 106 saham stagnan.

Bursa regional kompak berakhir di zona merah tutup akhir pekan. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Siloam (SILO) naik Rp 450 ke Rp 11.000, Nipress (NIPS) naik Rp 350 ke Rp 14.500, Surya Toto (TOTO) naik Rp 250 ke Rp 7.850, dan Indah Kiat (INKP) naik Rp 190 ke Rp 1.470.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Lion Metal (LION) turun Rp 1.100 ke Rp 12.500, Astra Agro (AALI) turun Rp 850 ke Rp 18.550, Semen Indonesia (SMGR) turun Rp 600 ke Rp 12.900, dan Indocement (INTP) turun Rp 450 ke Rp 18.500.

Perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup melemah 34,072 poin (0,77%) ke level 4.384,571. Sementara Indeks LQ45 jatuh 7,700 poin (1,04%) ke level 730,793. Perdagangan berjalan cukup cepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 52.327 kali pada volume 1,595 miliar lembar saham senilai Rp 1,867 triliun. Sebanyak 65 saham naik, sisanya 142 saham turun, dan 105 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia pada sesi pertama, tak lagi kompak melemah setelah bursa Singapura berhasil naik ke zona merah. Tekanan jual masih ramai di regional gara-gara pergerakannya dibayangi sentimen dari AS. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Nipress (NIPS) naik Rp 850 ke Rp 15.000, Siloam (SILO) naik Rp 250 ke Rp 10.800, Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 250 ke Rp 27.850, dan Multi Prima (LPIN) naik Rp 200 ke Rp 4.800.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indocement (INTP) turun Rp 600 ke Rp 18.350, Semen Indonesia (SMGR) turun Rp 550 ke Rp 12.950, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 550 ke Rp 35.100, dan Astra Agro (AALI) turun Rp 400 ke Rp 19.000.

Awal perdagangan, indeks BEI dibuka pada level 4.408,75 poin, melemah tipis sebesar 9,89 poin atau 0,22%. Sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 2,53 poin (0,34%) ke level 735,97, “Bursa Asia, termasuk indeks BEI dibuka melemah seiring belum adanya langkah pasti dari parlemen AS untuk menghentikan 'government shutdown'," kata analis Samuel Sekuritas, Benedictus Agung.

Dia menambahkan, pasar mulai mengekspektasikan penghentian kegiatan operasional pemerintahan di AS akan terus terjadi hingga perdebatan terkait batas atas utang (debt ceiling) AS disepakati, batas akhir kesepakatan itu pada 17 Oktober 2013 mendatang.

Dari dalam negeri, lanjut dia, bursa saham global yang cenderung melemah berdampak negatif terhadap indeks BEI. Saham-saham sektor pertambangan yang pada perdagangan kemarin menguat signifikan, pada akhir pekan ini diperkirakan mengalami tekanan.

Bursa regional, diantaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 161,97 poin (0,70%) ke level 23.052,43, indeks Nikkei-225 turun 141,20 poin (0,99%) ke level 14.017,30, dan Straits Times melemah 7,74 poin (0,24%) ke posisi 3.137,13. (bani)