"Aku Cinta Produk Indonesia" Hanya Sebatas di Bibir

Jumat, 04/10/2013

NERACA

Jakarta – Program pemerintah berjudul “Aku Cinta Produk Indonesia” memang begitu aduhai dalam tatapan mata dan sungguh merdu kala ditangkap telinga. Akan tetapi, di tengah gegap-gempita promosi di berbagai media massa, slogan yang dilafalkan sangat manis oleh pemerintah, khususnya Kementerian Perdagangan (Kemendag) ini begitu terasa pahit dalam kenyataan. Kepahitan bisa gamblang dikecap dari data yang dikutip oleh Kemendag sendiri.

Adalah Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Srie Agustina yang mengutip hasil survei Universitas Indonesia (UI) dalam Pembukaan Pameran Produk Dalam Negeri Nasional 2013 di Jakarta, pada Kamis (3/10), secara tidak langsung menyebut bahwa salah satu program andalan kementeriannya itu jauh panggang dari api. Dirjen perempuan ini, kepada pers, melontarkan data cukup ironis bahwa saat ini baru 34% saja penduduk Indonesia yang membeli produk Indonesia. Padahal 91% penduduk Indonesia bangga terhadap produk Indonesia.

Seperti menggenapi kesan negatif atas data yang disampaikan oleh Srie, Anggota DPR Komisi VI Ferrari Romawi menafsir hasil survei tersebut sebagai ketidakefektifan promosi “Aku Cinta Produk Indonesia”. Ferrari beralasan, buruknya hasil promosi itu lebih disebabkan oleh fakta bahwa pemerintah tidak menurunkan kebijakan-kebijakan agar seluruh masyakarat, termasuk pelaku usaha ikut mencintai dan mengunsumsi produk lokal.

Kepada Neraca Ferrari berujar, selain karena saat ini program "Aku Cinta Produk Indonesia" hanya di Kemendag saja dan tidak ada di Kementerian lain, kesalahan pemerintah juga muncul dari begitu lebarnya keran impor dibuka. Inilah yang menyebabkan produk-produk Indonesia kalah bersaing di rumahnya sendiri. Hal ini pula yang Ferrari sebut sebagai kontradiksi. Di satu sisi Kemendag menyerukan agar mencintai produk Indonesia, tetapi disisi lain melonggarkan kebijakan impor. “Seharusnya impor itu diperketat sehingga memberikan ruang bagi produk Indonesia bisa menjadi tuan rumah di negaranya sendiri,” katanya.

Seirama dengan pendapat sang legislator, Ketua Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Sarman Simanjorang meyakini, pemerintah dalam merealisasikan “Aku Cinta Produk Indonesia” masih sangat minim. Sehingga, sambung Sarman, dalam menghadapi ASEAN Economic Cummunity (AEC) atau pasar bebas di kawasan regional pada 2015 mendatang, dipastikan Indonesia hanya akan menjadi negara bidikan para produsen negara lain. “Karena dari pemerintah tidak ada contoh sehingga sulit untuk memompa kecintaan rakyat terhadap produksi dalam negeri,” ujar dia.

Di pihak lain, kata Sarman, rakyat Indonesia masih bangga menggunakan produk luar negeri meskipun kualitasnya tidak bagus. Menurut dia, dengan kondisi seperti ini pemerintah harus menggalakan lagi kampanye tidak hanya cinta produk Indonesia tetapi juga bangga menggunakan produk Indonesia.

Adapun di mata pengusaha muda, yakni Ketua Umum HIPMI, Raja Sapta, ketertarikan masyarakat Indonesia untuk menggunakan produk Indonesia masih terbilang rendah. Kondisi ini, menurut Raja, menunjukkan program “Aku Cinta Produk Indonesia” masih sebatas slogan. “Kita tidak bisa jalan dengan slogan saja, harus ada fundamental yang kuat, yaitu peningkatan kualitas produk. Karena bagaimana orang bisa tertarik kalau sepatunya itu-itu saja dan tidak membuat comfort,” jelasnya.

Padahal, sambung dia, masyarakat sebenarnya memiliki ketertarikan yang besar untuk menggunakan produk dalam negerinya. Dia mencontohkan, kemeja batik yang dikenakan asli dari produk dalam negeri dari Jogjakarta. Namun, memang dirinya masih memakai produk luar negeri, seperti jam tangan atau sepatu misalnya, karena produk dalam negeri masih belum bisa menciptakan kualitas yang sama dengan produk luar negeri.