Wamentan: Kemendag Jangan Buru-buru Impor Ayam

Kenaikan Harga Bisa Sampai 20%

Jumat, 04/10/2013

NERACA

Jakarta – Pelemahan rupiah dan tingginya harga pakan juga mendongkrak harga ayam. Untuk ayam kampung misalnya, kenaikan harga mencapai 20%. Sebelumnya harga daging ayam sebesar Rp 28 ribu per kilogram (kg) menjadi Rp 36 ribu per kg.

Namun demikian, Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan meminta kepada Kementerian Perdagangan untuk tidak terlalu ambil keputusan untuk melakukan impor daging ayam di saat harga ayam sedang mengalami peningkatan. Ia mengatakan kenaikan harga daging ayam belakangan ini terjadi karena ada permasalahan dalam tata niaga. Pasalnya menurut dia, harga akan semakin turun seiring dengan selesainya Hari Raya Idul Fitri.

“Biasanya harga ayam jatuh dan harga Day Old Chicken (DOC) nya turun dan ini menjadi titik kulminasi setelah Lebaran mulai turun harganya. Pengamatan saya, harga ayam kok nggak turun. Dulu kekhawatirannya begitu. Saat ini harga di peternak Rp 14.000/kg di pedagang kok sudah Rp 32.000/kg," katanya di Jakarta, Kamis (3/10).

Rusman berpesan agar Kementerian Perdagangan (Kemendag) tidak buru-buru untuk melakukan impor daging ayam. “Pemerintah tidak bisa sendiri menangani masalah ini. Pemangkasan mata rantai menjadi perhatian kita kemudian juga masalah perilaku. Kemendag kita ajak diskusi dulu sampai ke bawah. Harganya juga yang harus dilihat. Jangan terburu-buru untuk impor lah,” tandas Rusman.

Adapun, untuk kenaikan harga daging ayam ini, Rusman mengaku, pihak Kementerian Pertanian masih mengkaji dan merunutkan penyebab kenaikan harga.

Sementara itu, Ketua Ketua Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli) Ade Zulkarnaen, mengingatkan pemerintah agar tak lantas tergoda melakukan impor ayam. "Jangan sampai kondisi ini dijadikan alasan untuk mengimpor ayam dari Brazil," ujarnya.

Peternak domestik menurut dia masih mampu memenuhi kebutuhan daging ayam nasional. Selain itu, peternak ayam juga masih sanggup memenuhi biaya produksi walaupun naik sekitar 15 persen. Saat ini dikatakan harga pakan sudah mencapai puncak sejak tahun 1998. Dalam satu bulan, harga pakan sudah naik tiga kali. "Industri pakan juga tidak bisa menjamin kalau bulan Oktober tidak ada kenaikan kembali," ujar nya.

Kenaikan harga pakan mencapai lebih dari Rp 1.000 per kg. Kondisi ini menyebabkan modal yang dikeluarkan peternak semakin terkikis. Dalam satu periode panen ayam perdaging misalnya, pakan yang dibutuhkan dalam waktu 70 hari mencapai 3 kg. Untuk perternakan besar, harga pakan sebesar Rp 6.700 per kg. Sedangkan untuk peternak kecil, pakan dihargai Rp 7.000-Rp 7.200 per kg.

Harga pakan unggas ikut terkerek mengikuti kenaikan harga kedelai dunia. Sebanyak 25 hingga 30 persen pakan unggas, menggunakan campuran bungkil kedelai. Harga bungkil kedelai saat ini mencapai Rp 7.000 per kg. Sebelumnya bungkil kedelai dihargai sekitar Rp 5.820 per kg.

Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Khrisnamurti mengatakan bahwa harga ayam sudah turun. Apabila di beberapa ritel ditemukan harga ayam masih tinggi, itu hanya akan terjadi sementara. Kondisi sekarang ini merupakan siklus alami, dimana banyak telur yang menetas ketika pekerja di perternakan ayam berlibur Lebaran. "Sekarang jadi banjir ayam, harga turun. Itu pola yang selalu terjadi di Indonesia," katanya.

Namun ia mengakui bahwa sulit mengendalikan siklus ini. Solusi menurut dia lebih cocok pada pihak yang mengawasi produksi , bukan perdagangan. Namun kewenangan terbesar untuk mengatasi siklus ini, ada pada pihak pengusaha dimana mereka yang berhak mengatur pekerjanya.

Impor Melonjak

Data Direktorat Jenderal Peternakan menunjukkan impor grand parent stock (GPS) unggas dalam lima tahun terakhir terus melonjak, dan hal ini sangat mengkhawatirkan dalam jangka panjang, karena hal ini berarti fondasi perunggasan nasional yang sangat rentan oleh goncangan jika ada ketersendatan pasokan bibit impor, baik disengaja maupun tidak.

Pada 2007 misalnya, data Ditjen Peternakan menunjukkan adanya impor bibit GPS sebanyak 361.460 ekor, tahun 2008 sebanyak 370.036 ekor, lalu di tahun 2009 mengimpor bibit GPS sebanyak 404.774 ekor dan di 2010 sebanyak 402.414 ekor.

Direktur Perbibitan Ternak Ditjen Peternakan Kementerian Pertanian, Abubakar mengungkapkan, di tahun 2011 ini hingga bulan November lalu, telah diimpor bibit GPS sekitar 480 ribu ekor. “Kami khawatirkan jika suatu saat GPS tidak boleh impor dari luar, mau makan apa kita,” ujarnya. Abubakar mengatakan, kondisi tersebut segera diperbaiki dengan melakukan berbagai upaya. Jika tidak, dia mengatakan masyarakat Indonesia tidak dapat menikmati protein hewani yang berasal dari unggas. “Kita harus antisipasi, selama ini kita nggak ada produksi sendiri,” tegasnya.