Dunia Usaha Protes Keras Rencana Kenaikan Tarif Listrik 40%

Biaya Produksi Bakal Melambung, Daya Saing Semakin Terpuruk

Jumat, 04/10/2013

NERACA

Jakarta – Rencana pemerintah menaikkan tarif dasar listrik (TDL) sebesar 40% mendapatkan respon negatif dari pelaku usaha lantaran dampaknya bakal menaikkan biaya produksi dan akan membuat daya saing industri dalam negeri makin tertekan. Untuk itu, Asosiasi Pengusaha Tekstil Indonesia mengancam akan menggugat pemerintah dan Perusahaan Listrik Negara (PLN) jika ngotot menaikan TDL pada tahun depan.

Ketua API, Ade Sudrajat meminta, DPR untuk menolak usulan kenaikan TDL tersebut. Menurutnya, DPR jangan melunak seperti tahun ini yang awalnya menolak tapi terakhir malah mendukung kenaikan TDL. "Saya dengan teman - teman di asosiasi akan melakukan judicial review terhadap putusan kenaikan TDL jika sudah di undang-undangkan ke Mahkamah Konstitusi," kata Ade kepada Neraca, kemarin.

Jika TDL dipaksakan naik, lanjutnya, daya saing industri tekstil akan merosot. Tekstil Indonesia akan makin tergerus dengan serbuan tekstil impor yang harganya murah. Sekarang saja, pertumbuhan tekstil sudah turun 6%. Kalau TDL naik, turunnya akan lebih besar.

Ditempat berbeda, Ketua asosiasi pengusaha roti Chris Hadi mengatakan, pihaknya mendukung langkah API yang akan menggugat kenaikan TDL. Menurutnya, kenaikan listrik hanya akan membebani para pengusaha. "Sekarang yang perlu diperhatikan pemerintah apakah tepat kenaikan TDL sudah tepat atau belum waktunya," katanya.

Menurut Chris, kenaikan TDL hanya akan mengurangi daya saing produk saja. Menurutnya kebijakan ini bertentangan dengan kampanye pemerintah yang selalu bilang akan melindungi para pengusaha. Menurut, yang harus dilakukan pemerintah saat ini justru memberikan subsisi kepada pengusaha untuk bisa bersaing. Apalagi beban para pengusaha sudah berat menghadapi TDL, BBM dan pajak."Harus ada keberpihakan terhadap industri dalam negeri. Apalagi, tahun 2015 indonesia menghadapi perdagangan bebas ASEAN," katanya.

Selain itu, kata dia, kenaikan TDL juga harus dibarengi dengan peningkatan pelayanan. Pasalnya, sekarang kenaikan TDL juga belum bisa mengurangi listrik yang byar pet.

ketua umum Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI) Benny Sutrisno mengatakan, pemerintah tidak boleh gegabah dalam menaikan TDL tahun depan. Menurutnya, dengan kenaikan TDL akan membuat terpuruk daya saing hasil industri manufaktur."Lalu apa guna nya kita punya "hibah" dari Tuhan bahan baku untuk membangkitkan enerji listrik antara lain air, batu bara, gas serta matahari?," katanya.

Pemadaman Bergilir

PLN mengaku masih belum tahu penyebab terbakarnya satu trafo di Gardu Induk Cawang. Untuk itu, perusahaan listrik pelat merah itu masih melakukan investigasi."Penyebabnya masih diinvestigasi karena baru saja kejadiannya," terang Manajer Senior Korporat Komunikasi PLN Bambang Dwiyanto, kemarin.

Menurutnya, trafo yang terbakar pada Rabu (2/10) pukul 19.54 WIB tersebut memiliki kapasitas 500 megavolt ampere (MVA). Namun dari total kapasitas itu, hanya 270 MVA yang dibebankan ke trafo tersebut.Bambang menjelaskan, terbakarnya satu trafo tersebut membuat Jakarta kehilangan listrik sebesar 270 megavolt ampere (MVA).

Untuk meminimalisir dampak terbakarnya trafo, PLN mengaku telah melakukan manuver dengan mengalihkan beban ke gardu induk lainnya seperti Gandul, Kembangan, Pulo Gadung dan Muara Karang."Bebannya hanya 275 MVA, jadi tidak seberat waktu dulu 2 trafo terbakar," jelasnya.

Sementara, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mendesak manajemen PLN untuk bertindak cepat mengambil langkah darurat untuk mengatasi krisis listrik yang melanda Sumatera Utara."Para direksi PLN itu harus mengambil tindakan darurat. Mereka mau melakukan ini tapi takut dituduh melakukan tindakan inefisiensi. Ini sewa gensetnya murah tapi BBM-nya yang mahal. Tapi karena kan daruratnya sekarang, makanya saya paksa sekarang, itu pun tidak bisa besok pagi, " ujarnya.

Menurut Dahlan, sebenarnya ada cara lain, tetapi membutuhkan waktu yang lama, yaitu dengan membangun jaringan transmisi dari Palembang ke Medan karena kapasitas listrik di Palembang yang berlebih. Tetapi paling tidak butuh waktu 3 tahun.

Anggota Komisi VII DPR Milton Pakpahan meminta, PLN untuk menabung batubara disaat adanya pengurangan konsumsi oleh China dan India. Pasalnya, penurunan itu membuat pasokan dalam negeri berlebih dan harganya turun.

Kata dia, inilah saatnya bagi PLN untuk menabung batubara. Apalagi Indonesia tengah membutuhkan listrik dalam jumlah besar dan kini sedang melaksanakan Fast Track Program (FTP) 1 untuk membangun pembangkit listrik berkapasitas 10.000 megawatt (mw).

Dia bilang, batubara menjadi sumber energi penggerak generator yang paling murah saat ini dan Indonesia masih punya cadangan yang cukup banyak.Oleh sebab itu, kata Milton, lebih baik Indonesia berkonsentrasi untuk memprioritaskan kebutuhan dalam negeri ketimbang mengekspor batubara.