Relokasi Demi Kehidupan Lebih Baik

Jumat, 04/10/2013

Oleh: Kencana Sari, SKM., MPH

Peneliti di Balitbangkes, Kemenkes RI

Relokasi warga dari berbagai wilayah kumuh di Jakarta ke rumah susun (rusun) terus diupayakan oleh Pemerintah Propinsi DKI Jakarta. Contohnya, relokasi warga Waduk Pluit ke Rusun Marunda. Adapun yang sedang berlangsung adalah relokasi warga sekitaran waduk Ria Rio, Pulogadung ke Rumah Susun Sewa Pinus Elok, Jakarta Timur yang akan dilakukan dalam sepekan ini. Relokasi ini merupakan upaya untuk penataan tata ruang kota menuju lebih baik. Harapannya adalah menjadikan Jakarta lebih rapi dan indah.

Upaya relokasi ini tidak hanya pun tidak hanya berdampak terhadap kerapihan tatanan kota semata. Lebih jauh, relokasi warga ke rumah susun diharapkan dapat memberikan tempat hidup yang lebih layak, ketersediaan lingkungan yang lebih bersih, air bersih yang selalu tersedia, sarana mandi cuci kakus (MCK) yang memadai, dan sebagainya.

Dalam jangka panjang manfaat ini tidak hanya berhenti disini, tetapi juga berdampak terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Berbagai penelitian dan diskusi menunjukkan bahwa salah satu kunci berbagai masalah kesehatan seperti penyakit pernafasan dan kardiovaskular akibat polusi di dalam ruang dan infeksi yang cepat menyebar akibat lingkungan tempat tinggal yang buruk, bahkan angka kematian ibu dan anak.

Berbagai akibat kesehatan bahkan kematian yang timbul akibat rumah yang tidak layak huni. World Health Organization (WHO) memperhitungkan bahwa hampir 2 juta orang di negara berkembang meninggal akibat polusi udara di dalam rumah. Ketidakcukupan ventilasi udara juga berhubungan dengan meningkatnya risiko infeksi lewat udara seperti tuberculosis, alergi yang disebabkan polutan dan kotoran, asthma.

Selain itu WHO juga menyatakan bahwa dalam 20 tahun kedepan, sebagian besar pertumbuhan penduduk akan berada di negara berpendapan rendah dan menengah, dan hampir 40% pertumbuhan perumahan penduduk di perkotaan adalah perumahan kumuh dan tidak sehat.

Oleh karena itu, pemerintah harus mulai bergerak untuk mencari solusi untuk mengatasi pertumbuhan daerah kumuh, sebab pada ujungnya beban akan kembali ke pemerintah jika kondisi kesehatan mereka buruk.

Relokasi ke rumah susun, membuat masyarakat yang tinggal di tempat kumuh terbebas dari kondisi lingkungan yang buruk. Relokasi ini tidak tentu tidak sempurna tanpa kurang. Banyak juga hal yang perlu diperhatikan kedepan setelah warga menempati rusun. Misalnya, yang pertama, dampak terkait kondisi fisik bangunan. Pengaruh kesehatan yang terkait faktor fisik bangunan antara lain, yang disebabkan oleh material bahan bangunan, jamur dan kerak pembawa kuman, perubahan suhu panas dan dingin, dll.

Kedua, faktor psikologis terkait luas ruang yang terbatas, kepadatan, pencahayaan, gangguan suara, serta rasa aman dari tindak kejahatan. Faktor lain adalah bahaya terkait infeksi, seperti kebersihan rumah dan dapur, sanitasi dan drainase, supply air. Terakhir adalah dampak kesehatan terhadap kecelakaan seperti jatuh ditangga, konsleting listrik, dll. Penelitian juga menunjukkan bahwa desain beberapa tipe rumah, rumah susun dan apartemen misalnya, akan membuat orang cenderung terisolasi.

Banyak faktor yang perlu diperhatikan memang terkait dengan relokasi ini. Walaupun penyedian rumah susun merupakan salah satu cara selangkah lebih maju untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Namun, pengadaan jangan sampai lengah hingga tercipta masalah kesehatan baru akibat kelalaian.

Pemukiman baru harus lengkap dan fungsional, tidak hanya lengkap dari segi penghidupan masyarakat seperti ketersediaan tempat usaha, pertokoan, perkantoran dan sebagainya, tetapi juga perl dilengkapi dengan sarana kesehatan, klinik pengobatan dan ruang untuk beraktifitas fisik. Juga sebelumnya perlu dipromosikan bagaimana menjaga lingkungan agar tetap sehat dan aman.

Selanjutnya efek terhadap kesehatan mungkin saja berbeda pada masyatakat kita sebab sosial budaya yang juga berbeda. Oleh karenanya perlu dikaji dan diteliti lagi tentang bagaimana dampak kesehatan terhadap mereka yang di relokasi ke rumah susun dalam konteks Indonesia.