"Fokus Membenahi Neraca Pembayaran​" - DGS BI Terpilih

​NERACA

Jakarta - Mirza Adityaswara resmi terpilih sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS BI). Mantan Kepala Eksekutif Lembaga penjamin simpanan (LPS) ini mengaku akan fokus pada pembenahan masalah yang terjadi pada neraca pembayaran. “Jangka pendek, tantangan yang harus diselesaikan yakni neraca pembayaran. Karena itu yang dilihat oleh kreditur luar negeri. Lalu, investor bagaimana cara Indonesia untuk menyelesaikan masalah ini,” ujarnya di Jakarta, Kamis (3/10).

Lebih lanjut Mirza mengatakan, fokus tersebut bisa dilakukan dengan cara mengurangi impor. Selain itu ekspor juga harus ditingkatkan mengingat pertumbuhan ekonomi China sudah mulai pulih. Mirza menjelaskan, perekonomian China sudah mencapai titik paling bawah. Sementara untuk perekonomian AS dan Jepang sudah mulai memasuki kondisi pemulihan.

“Jika bicara jangka menengah, sebenarnya ekspor kita harapannya ada disitu. Hanya saja dalam jangka pendek ini kita mengurangi impor saja dulu,” jelasnya. Terkait nilai tukar rupiah, mantan ekonom PT Bank Mandiri Tbk ini mengatakan kurs rupiah saat ini sudah ada di titik ekuilibrium yang baru.

Dia pun berharap, setelah neraca pembayaran dibenahi nilai tukar rupiah bisa kembali menguat. “Setelah berhasil membenahi fundamental neraca pembayaran, diharapkan kurs bisa menguat kembali, tapi utamanya tantangan neraca pembayaran yang harus diatasi,” tambahnya.

BI belum bisa melihat

Terkait shutdown Pemerintah AS, Mirza mengingatkan Indonesia agar tetap berhati-hati karena AS merupakan negeri pencetak uang dolar. Namun dirinya mengatakan kalau Pemerintah dan BI hingga saat ini belum bisa melihat dampak ke depannya akan seperti apa. “Kita sudah melihat AS melakukan perdebatan masalah APBN mereka, sehingga sebagian fungsi pemerintahan ditutup. Jika ini berlangsung lama, bisa dipastikan ini akan berdampak,” imbuhnya.

Menurut Mirza, AS merupakan negara besar yang seharusnya bisa mengajarkan negara berkembang untuk lebih disiplin fiskal. Menurut dia, dalam jangka panjang AS harus bisa mengurangi utangnya. Dia menjelaskan, AS itu memiliki utang yang besar, dari sisi rasio terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) lebih besar dari Indonesia. “Indonesia itu sekitar 30%, AS diatas 60% terhadap PDB, jadi limit utang AS itu harus dinaikkan terus dan memang untuk jangka panjang ini tidak sehat juga,” jelas dia. [sylke]

BERITA TERKAIT

KPPU Minta Kandidat Terpilih Hindari Praktik Sekongkol

KPPU Minta Kandidat Terpilih Hindari Praktik Sekongkol NERACA Denpasar - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) meminta para kandidat kepala daerah…

Citilink Sabet Tujuh Kali Berturut-Turut - Terpilih Berbiaya Murah Terbaik

NERACA Jakarta – Maskapai berbiaya murah (LCC) Citilink Indonesia kembali terpilih sebagai Indonesia Leading Low Cost Airline untuk yang ke-7…

Dirut BTN Tegaskan IKA Undip Siap Dukung Program Pemerintah - Terpilih Ketua IKA UNDIP

  NERACA Semarang - Ikatan Alumni Keluarga Universitas Diponegoro (IKA Undip) siap mendukung pemerintah dalam menyukseskan program pembangunannya seperti infrastruktur…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BRI Targetkan 300.000 Kartu Kredit Baru pada 2018

      NERACA   Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk optimistis akan target menerbitkan 300.000 kartu kredit…

BTN Yakin Target Tercapai - Triwulan I DPK Tumbuh 23,54%

  NERACA   Jakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk mencatatkan peningkatan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 23,54%…

CIMB Niaga Dapat Penghargaan Global CSR Award

      NERACA   Lombok - PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) kembali meraih penghargaan kategori Excellence in…