BI Ingin Tapering Off Dilakukan Bertahap

Jumat, 04/10/2013

NERACA

Jakarta - Penundaan pengurangan stimulus fiskal atau tapering off oleh Bank Sentral AS atau The Fed beberapa waktu lalu, membuat Gubernur Bank Indonesia, Agus DW Martowardojo mengatakan, bahwa pihaknya mengikuti dan melakukan kajian terhadap pengurangan stimulus tersebut. “Yang kami lihat pengurangan stimulus dilakukan secara bertahap. Selain itu kami juga berupaya agar nantinya terjadi pertumbuhan ekonomi yang halus (smooth growth) jika kondisi itu bisa dilaksanakan maka akan berdampak baik dan dapat diterima oleh negara di dunia,” katanya di Jakarta, Kamis (3/10).

Lebih lanjut mantan Menteri Keuangan ini mengungkapkan, penarikan stimulus moneter tersebut kemungkinan akan dilakukan dengan komunikasi yang baik. Selain itu, akan selalu dijaga agar pertumbuhan ekonomi tetap berkesinambungan dan terjaganya sistem keuangan. Agus Marto juga menjelaskan, BI akan mempersiapkan diri dengan melakukan pengelolaan pasar uang yang baik di dalam negeri. “Pengelolaan itu kita lakukan baik valas maupun rupiah, lalu kita juga lakukan pengelolaan cadangan devisa (cadev) yang baik dan kita juga terus mendukung agar terciptanya stabilitas sistem keuangan dengan bekerjasama dengan bank sentral di dunia,” ungkap dia.

Sebelum menjadi Kepala BKPM, Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar pernah bilang kebijakan The Fed yang menunda tapering off dinilai sebagai kesempatan tepat untuk memperbaiki kesehatan fundamental ekonomi dalam negeri. Pasalnya, The Fed pada akhirnya tetap akan mengambil langkah tersebut untuk waktu yang belum diketahui. Sehingga diperlukan langkah-langkah bijak untuk mendorong pertumbuhan investasi.

“Kami melihat awalnya pasar kaget dengan penundaan tapering off. Tapi akhirnya semua sadar bahwa hal itu memang tidak akan permanen. Suatu saat akan dicabut juga. Jadi kalau memang sudah akan dicabut lebih baik kita bersiap-siap diri,” katanya, belum lama ini. Dia menjelaskan, fokus utama memperbaiki ekonomi dalam negeri dengan memperhatikan kesehatan keuangan perbankan.

Selain itu juga perlu adanya perhatian terhadap dampak yang terjadi pada pasar obligasi. Serta terus berkomitmen untuk menjaga momentum pertumbuhan. Karena pada dasarnya kepercayaan para investor terhadap kesehatan ekonomi dalam negeri merupakan hal yang paling penting.

“Jadi letak persoalannya bukan pada tapering off. Saya rasa pesan atau sinyal itu sudah ditangkap baik oleh kita semuanya. Sehingga kita tinggal menjawabnya dengan langkah-langkah konkrit,” tutur Mahendra. Lalu dirinya mengaku target investasi pada tahun ini tetap dikisaran Rp390 triliun.

Dia juga optimistis pada akhir tahun target itu dapat tercapai. Sebab hingga kuartal III 2013, pertumbuhan investasi sudah mendekati target tersebut. “Saya rasa kalau angka itu mestinya bisa tercapai. Hanya memang sejalan dgn penyesuaian pertumbuhan ekonomi tahun depan harus dilihat lagi apakah angka yangg sudah disebut-sebut sebagai target investasi tahun depan itu masih bisa dicapai. Atau memang ada penyesuaian atau bagaimana. Sebab kita harus lihat lagi respon dari berbagai pihak. Jangan kita tidak menyesuaikan angka-angka itu. Nanti malah menimbulkan pertanyaan sendiri,” tambahnya. [sylke]