Indika Energy Gandeng China Railway Group Limited

Targetkan Produksi Minimal 20 Juta Ton

Jumat, 04/10/2013

NERACA

Jakarta- Merosotnya harga komoditas batubara yang disebut-sebut mempengaruhi kinerja perusahaan pertambangan juga berpengaruh terhadap laba dan pendapatan PT Indika Energy Tbk (INDY). Untuk menyiasatinya, perseroan pun melakukan pengembangan sekaligus meningkatkan produksi batubara ke depan. Salah satunya, dengan menggandeng China Railway Group Limited (“CREC”) untuk pengembangan tambang batubara dan infrastruktur di Papua dan Kalimantan Tengah.

Corporate Secretary PT Indika Energy Tbk, Dian Paramita mengatakan, perseroan telah menandatangani principal agreement dengan China Railway Group Limited (“CREC”) pada 3 Oktober 2013. Melalui kerja sama ini perseroan dan CREC akan bekerja sama untuk mengembangkan dan mengkonsolidasikan cadangan batubara yang dapat ditambang guna mendukung produksi perseroan, “Minimal 10 juta ton batubara per tahun untuk masing-masing proyek di Papua dan Kalimantan.” katanya dalam keterangan persnya di Jakarta, Kamis (3/9).

Menurut dia, perseroan dan CREC akan mengembangkan infrastruktur untuk transportasi hasil tambang di wilayah-wilayah terkait. Pelaksanaan proyek tersebut akan berjalan sesuai dengan hasil studi kelayakan yang dilakukan perseroan. Estimasinya, nilai proyek ini ditaksir mencapai US$6 miliar yang meliputi kegiatan persiapan, konstruksi, operasional, dan pemeliharaan.

Pihak manajemen perseroan sebelumnya mengaku merevisi target kinerjanya di tahun ini dikarenakan harga komoditas batubara yang menjadi bisnis utama perseroan masih melemah. “Kami belum tahu akan turun berapa tapi pasti semua akan berdampak negatif di komoditas,” kata Direktur Utama Indika Energy Wisnu Wardhana.

Harga jual rata-rata batubara, menurut dia, berada di kisaran US$ 76 per ton. Padahal, pada awal tahun, harga jual batubara masih berada di atas US$90 per ton. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, perseroan akan melakukan efisiensi biaya produksi, dan menaikkan produktifitas. “Seluruh perusahaan kami melakukan remapping strategi mereka,” ucapnya.

Pihaknya mencatat, hingga paruh pertama tahun ini, perseroan memproduksi sebanyak 19,53 juta ton batubara atau naik 9% dari produksi di periode yang sama tahun lalu. Adapun produksi batubara Indika dikontribusi dari dua anak usaha yakni PT Kideco Agung Jaya dan PT Santan Batubara.

Wisnu menilai, posisi harga jual batubara saat ini akan mempengaruhi laba dan pendapatan perusahaan hingga akhir tahun. Diprediksikan, harga batubara baru akan kembali menguat pada tahun depan sehinngga kinerja perusahaan pun akan ikut terdorong. “Tahun depan akan jauh lebih bagus karena harga akan lebih stabil.” ujarnya.

Rugi US$ 2,56 Juta

Pihaknya mencatat, sepanjang semester pertama 2013, perseroan mencatatkan rugi bersih periode berjalan sebesar US$2,56 juta, anjlok dari periode yang sama tahun lalu yang masih membukukan laba bersih US$88,15 juta. Tercatat, rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai US$7,94 juta dari periode yang sama tahun lalu yang masih laba US$79,65 juta. Sejalan dengan itu, laba per saham dasar juga anjlok dari US$0,01529 per saham jadi rugi US$0,00152 per saham.

Meski demikian, pendapatan perseroan mencatatkan pertumbuhan yang positif menjadi US$413,25 juta, atau naik sekitar 23,7% dari US$334,02 juta. Pendapatan tersebut terdiri dari pendapatan kontrak dan jasa sebesar US$411,48 juta. Sementara dari penjualan batu bara hanya berkontribusi sebesar US$1,76 juta.

Pertumbuhan pendapatan perseroan ini antara lain disumbang dari proyek EPC milik ExxonMobil yang dikerjakan oleh anak usaha Indika, Tripatra di Blok Cepu. Sedangkan, rendahnya kontribusi dari penjualan batu bara oleh anak usaha, Kideco disebabkan oleh turunnya harga batu bara global, tingginya beban bunga, serta adanya penurunan nilai atas goodwill dan aset tidak berwujud. (lia)