Menperin: Total Investasi US$ 28,2 Miliar

Kerjasama Ekonomi Bilateral Indonesia-China

Jumat, 04/10/2013

NERACA

Jakarta - Selama beberapa tahun terakhir, hubungan ekonomi bilateral Indonesia dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) hanya di sektor perdagangan saja. Bahkan target nilai perdagangan kedua negara akan mencapai US$ 80 miliar sebelum tahun 2015. Apalagi, Indonesia saat ini masih lebih banyak mengekspor produk hasil sumber daya alam seperti Crude Palm Oil, Crumb Rubber, Batubara, gas alam, serta berbagai mineral yang belum diproses, sedangkan Indonesia mengimpor berbagai bahan baku, mesin/peralatan dan produk jadi dari RRT. Sehingga bisa dipastikan,hubungan ini tentu tidak akan berlangsung lama (sustainable) oleh karena Indonesia juga menginginkan tidak hanya menjadi negara pengekspor bahan mentah semata.

Celakanya, neraca perdagangan Indonesia terhadap RRT selalu saja defisit. Untuk itu, pemerintah berkomitmen meningkatkan kerja sama bisnis terutama untuk sektor industri. Dengan tujuan dari kerjasama ini membawa manfaat nyata untuk kemajuan ekonomi Indonesia dan menjadi era baru kerja sama kedua negara yang selama ini didominasi perdagangan akan diarahkan ke peningkatan investasi di sektor industri.

Menteri Perindustrian Mohamad S Hidayat mengungkapkan, kedua negara sepakat meningkatkan kerja sama bisnis di bidang mineral, telekomunikasi, perkeretaapian, kelistrikan, pelatihan, infrastruktur, pulp, semen, penerbangan, perkebunan kelapa sawit dan sektor perumahan, dengan total investasi sebesar US$ 28,2 miliar, yang ditargetkan mampu meningkatkan kerja sama bisnis secara nyata di waktu yang akan datang.

"Komitmen tersebut dituangkan dalam penandatanganan kerja sama secara patungan (joint venture). Dari sekitar 21 perjanjian kerja sama yang diteken, sebanyak 60% berada di sektor industri manufaktur dengan total nilai investasi mencapai US$ 28,2 miliar," ujar Hidayat saat acara Indonesia-China Business Luncheon di Jakarta, Kamis (3/10).

Lebih lanjut lagi Mantan Ketua Kadin ini mengatakan acara Indonesia-China Business Luncheon yang dihadiri sekitar 200 delegasi RRT dan 600 delegasi Indonesia baik dari kalangan pejabat pemerintah maupun dunia usaha dari kedua negara. Forum ini juga dihadiri oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden RRT Xi Jinping. Dapat disampaikan, pada tanggal 2 Oktober 2013 kedua pihak telah menanda tangani enam perjanjian penting antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah RRT di bidang investasi, perdagangan, industri, ketahanan pangan dan energi, pariwisata, capacity building dan alih teknologi yang selanjutnya dapat menjadi landasan bagi kerjasama-kerjasama bisnis kedepan.

Pada kesempatan tersebut Menperin juga melaporkan, dalam kunjungannya ke pabrik pengolahan mineral logam di Provinsi Henan RRT beberapa waktu lalu, Menperin telah menyaksikan penandatanganan kerjasama pembangunan Industrial Park di Cirebon Jawa Barat antara perusahaan Indonesia dengan perusahaan RRT.

“Dalam kunjungan singkat tersebut, memberikan gambaran lengkap kepada kami bahwa kemajuan teknologi dan industri di RRT sangat maju dan akan memberikan manfaat bagi Indonesia yang sedang mendorong investasi industri hilir untuk menghasilkan produk-produk yang selama ini diimpor,"jelas Hidayat.

Dengan kedatangan Presiden RRT Xi Jinping bersama para pengusaha khususnya investor di bidang infrastruktur dan industri diharapkan akan membawa semangat baru dalam hubungan ekonomi Indonesia-RRT terutama untuk dapat mengolah bahan baku alam dan sumber daya mineral yang dimiliki oleh Indonesia.“Melihat kenyataan tersebut, maka perpaduan kekuatan bisnis kedua pihak kedua negara yang substansial selayaknya dapat menempatkan Indonesia dan RRT menjadi pemain penting di kawasan dan dunia,”kata dia.

Sebagai gambaran kedua negara, Tiongkok merupakan kekuatan ekonomi nomor dua di dunia dengan jumlah penduduk sebanyak 1,35 miliar jiwa dan tingkat GDP sebesar US$ 8,2 triliun pada tahun 2012. Sementara itu, Indonesia dengan jumlah penduduk sebanyak 237 juta jiwa dan tingkat GDP sebesar US$ 946,4 miliar pada tahun 2012 diharapkan akan terus berkembang. Kedua negara termasuk dalam anggota G-20 yang memiliki sumber daya alam melimpah.

Nilai Investasi China ke Indonesia pada 2012 sebesar US$ 141 juta dengan 190 proyek atau naik dibanding tahun 2011 yang mencapai US$ 128,2 juta dengan 160 proyek. Sementara itu, realisasi investasi China ke Indonesia pada kuartal I tahun 2013 telah mencapai US$ 60,2 juta dengan 99 proyek dan diharapkan investasi China di Tanah Air bisa lebih banyak lagi jika terlibat pada proyek-proyek infrastruktur Indonesia dalam Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

Nilai ekspor non-migas Indonesia ke China pada periode Januari-Juni 2013 mencapai US$ 10,09 miliar. Nilai ekspor tersebut memiliki porsi sekitar 13,5% dari total ekspor non-migas yang mencapai US$ 74,77 miliar. Sedangkan nilai impor non-migas Indonesia dari China sebesar US$14,42 miliar dalam periode Januari-Juni tahun ini. Nilai impor tersebut memiliki porsi 19,96% dari total impor non-migas Indonesia yang mencapai US$72,25 miliar.