Perdagangan Dalam Negeri Tembus Rp7.000 Triliun

Dari Tahun ke Tahun, Konsumsi Domestik Naik Signifikan

Jumat, 04/10/2013

NERACA

Jakarta – Masyakarat Indonesia yang dinilai konsumtif berdampak cukup banyak terhadap perekonomian Indonesia. Menurut Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, penjualan produk di dalam negeri telah mencapai angka Rp7.000 triliun pertahun. Bahkan, Bayu mengatakan angka tersebut selalu mengalami kenaikan sebesar 5%.

“Setiap bulannya, kurang lebih ada penjualan produk mencapai Rp600 triliun seperti yang terjadi Agustus 2013. Kalau dijumlahkan rata-rata mencapai Rp7.000 triliun pertahun,” ungkap Bayu saat ditemui usai menghadari Pembukaan Pameran Produk Dalam Negeri Nasional di Jakarta, Kamis (3/10).

Sementara dari sisi ekspor, Bayu mengatakan dalam satu bulan Indonesia melakukan ekspor dengan nilai Rp150 triliun sehingga dalam satu tahun ekspor mencapai Rp2.000 triliun. “Begitu juga dengan impor. Jadi kita harapkan neraca perdagangan surplus setiap tahunnya. Akan tetapi jika di 2013 masih akan defisit, namun di 2014 kita yakin bisa surplus atau paling tidak balance,” imbuhnya.

Tak hanya itu, ia menjelaskan dari nilai ekspor Rp150 triliun telah menyerap tenaga kerja sebanyak 10 juta orang. “Jadi kalau sampai terganggu ekspornya maka juga akan mengganggu kesempatan kerja. Dari 10 juta tenaga kerja tersebut, 3 juta itu adalah UKM. Maka barang dan produk yang kita ekspor itu dampaknya besar terhadap perekonomian,” ujarnya.

Namun demikian, Bayu merasa optimis bahwa Indonesia tidak akan kalah bersaing dengan negara-negara ASEAN dalam ASEAN Economic Community (AEC) di 2015. “Kita tidak takut. Sekarang ini, posisi impor hanya Rp150 triliun dan penjualan di dalam negeri sampai Rp600 triliun,” katanya. Akan tetapi ketika ditanya apakah impor akan meningkat, ia merasa mudah-mudahan tidak terjadi.

Karena, dari kondisi sekarang dimana impor barang konsumsi yang turun signifikan atau kurang lebih mencapai 6%. Sementara, impor yang masih mengalami peningkatan adalah impor bahan baku dan impor bahan baku penolong. Hal itu terjadi, kata Bayu, lantaran untuk kepentingan investasi. “Saya kira posisi pasar dalam negeri masih kuat dan trending masih diperkirakan 25% dari total kegiatan ekonomi indonesia,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa pihaknya sangat bersungguh-sungguh menjaga pasar domestik terlebih dengan kondisi pasar internasional yang resikonya semakin tinggi. “Eropa sudah cukup pulih, Amerika Serikat masih belum ada kepastian, China yang menurun dan Jepang yang agak naik. Pada intinya pasar-pasar internasional menyimpan resiko lebih besar dibandingkan pasar di dalam negeri,” katanya.

Ketergantungan Impor

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perindustrian Sudirman M Rusdi menyatakan bahwa kelemahan industri nasional salah satunya karena masih memiliki tingkat ketergantungan impor yang tinggi terhadap bahan baku dan produk antara. “Kelemahan struktural industri nasional disebabkan oleh ketergantungan yang sangat besar pada impor bahan baku dan produk antara,” katanya.

Padahal, menurut Sudirman, bahan baku tersebut mampu dipasok sendiri dari dalam Indonesia, bahkan juga mampu diolah sampai menjadi produk jadi dan siap dipasok memenuhi kebutuhan pasar luar negeri.

Selain masalah ketergantungan impor, ujar dia, kelemahan manajerial dan struktur pembiayaan yang sangat mengandalkan pada utang juga menjadi penyebab kelemahan struktural industri. “Lemahnya peningkatan kemampuan keahlian dan teknologi serta tidak berkembangnya kegiatan riset turut menjadi andil dalam kelemahan struktur industri nasional,” ungkapnya.

Menurut Sudirman, dengan posisi ketergantungan yang sangat besar terhadap impor dan hutang luar negeri, maka ketika krisis terjadi, ekonomi Indonesia bisa menjadi ikut rentan.

Ia menegaskan, pengembangan industri yang didasarkan atas pengelolaan potensi sumber daya alam dari hulu sampai hilir dapat memberi nilai tambah yang sangat tinggi, sehingga akan mampu mendorong meningkatnya kemakmuran rakyat. “Pembangunan industri hulu akan sangat meningkatkan daya saing industri hilirnya, yang nilai ekonominya bisa berkali-kali lipat dari nilai ekonomi industri hulu,” katanya.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan bahwa perlu ada penguatan nilai tambah terhadap produk lokal. Karena dengan begitu akan menekan defisit neraca perdagangan secara keseluruhan. “Kita tidak melarang impor, tapi seharusnya ada mekanisme domestik yang kita tingkatkan daya tahannya. Market kita luas, kita pakai produk dalam negeri,” ujarnya.

Hatta mengatakan dengan memperkuat keunggulan produk dalam negeri maka beban impor bisa akan semakin menipis. “kita berupaya untuk mengendalikan impor tanpa harus menutup atau melarang. Makanya mekanisme domestik akan mengurangi beban kita,” ucapnya.