Perlu Dana Mendesak, Jangan Pinjam Ke Rentenir

Sabtu, 05/10/2013

NERACA

Saat ini banyak masyarakat yang merugikan dirinya sendiri dengan melakukan pinjaman dari bank keliling alias rentenir. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa alasan masyarakat meminjam uang ke rentenir dikarenakan aspek kebutuhan modal yang mendesak, ditambah proses yang tidak bertele-tele baik pada saat peminjaman maupun pada saat pembayaran cicilan. Melalui jalur ini, nasabah tidak harus bankable (tidak mengenal bank) dan mereka tidak peduli besarnya bunga yang dibebankan.

Walaupun proses yang ditawarkan terbilang cepat dan tanpa jaminan, niat awal mengembangkan usaha justru dapat berujung pada roda hutang yang tiada henti. Bagaimana tidak? Bank keliling jelas berbeda dengan bank atau lembaga resmi. Nilai bunga yang ditawarkan cenderung lebih tinggi dari nilai bunga bank pada umumnya.Tak hanya itu, ketika jatuh tempo tiba, bank keliling tidak segan-segan menagih dengan cara yang kasar.

\\\"Praktek rentenir ini cukup besar membuat peminjamnya terjerat dalam masalah yang berlarut-larut dan menguras daya beli peminjamnya. Cukup berbahaya bila terjadi masalah, terlebih saat terjadi kredit macet. Selain payung hukumnya tidak jelas, penyelesaian hutang piutang dengan rintenir bisa berujung pada konflik sosial yang baru,\\\" jelas pengamat keuangan, Gunawan Benjamin.

Banyak kendala yang dihadapi memang, layanan perbankan menjangkau pelosok negeri belum didukung oleh infrastruktur yang baik. Sehingga secara keseluruhan, kegiatan shadow banking masih akan tetap tumbuh dan rentenir masih akan menjadi kegiatan lembaga keuangan yang membebani masyarakat.

Gunawan mengatakan, untuk mengetahui jumlah lembaga keuangan tersebut, dirinya kurang tau pasti. Namun, menurutnya Bank Indonesia memiliki data yang akurat. Hanya saja jumlah praktek rintenir yang dilakukan oleh perorangan itu sulit dihitung jumlahnya dan hampir disetiap desa ada rentenirnya.

Agar masyarakat tidak terjerat hutang karena meminjam pada rentenir, sambung Gunawan, perbankan harus memiliki pinjaman-pinjaman dengan nominal kecil yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Dan perbankan jangan terlalu kaku dengan aturan main yang ditetapkan sehingga penyaluran kredit mampu menjangkau semua lapisan masyarakat. Sehingga kegiatan shadow banking dapat diminimalisir.

\\\"Saya hanya berharap bahwa segmentasi pasar perbankan kita nantinya tidak terfokus kepada golongan masyarakat tertentu. Termasuk segmen masyarakat dari sisi besarya pinjaman. Yang ada hanya satu Bank untuk semua lapisan masyarakat dan melayani semua kegiatan keuangan masyarakat,\\\" imbuh dia.

Gunawan menambahkan, di Indonesia ada sekitar 40% hingga 50% dari total penduduk yang tidak bankable. Edukasi menjadi salah satu solusinya. Atau kembali menghidupkan koperasi yang dikelola oleh masayarakat setempat yang menjadi anggotanya. cara lain yang bisa diambil adalah mendirikan unit-unit kecil dari Bank yang menjangkau semua lapisan masyarakat.

\\\"Sebenarnya, koperasi bisa menjadi alternatif sebagai sarana untuk menyimpan uang masyarakat. Namun ingat, semangatnya itu lebih kepada gotong royong. Bukan koperasi yang dijalankan oleh individu atau institusi yang lebih bermotif laba. Namun, keterbatasan pengetahuan masyarakat masih menjadi kendala yang utama,” ujar dia