Kualitas Guru di Tanah Air Harus Ditingkatkan

Sabtu, 05/10/2013

NERACA

Secara keseluruhan, kualitas pendidikan Indonesia jauh dari kata baik. Rendahnya kualitas pendidikan di tanah air tidak terlepas dari rendahnya pula kualitas guru, ditandai dengan banyaknya guru tidak profesional.

Sebenarnya standar kualitas guru sudah menjadi fokus perhatian Kemdikbud sejak 2012. Pasalnya, Indonesia membutuhkan banyak guru yang profesional untukmeningkatkan kualitas pendidikan. Jika kualitas pendidikan baik, maka segala aspek pun akan berangsur baik pula.

Hal paling penting dalam meningkatkan kualitas pendidik adalah kontrol dari pemerintah untuk guru di Indonesia. Satu sisi, pemerintah sudah melaksanakannya dalam bentuk pemberian sertifikasi untuk guru.

Namun masih banyak kekurangan di sana - sini. Misal, masih banyak guru terutama di daerah-daerah yang tidak lulus uji kompetensi dan sertifikasi sebagai akibat rendahnya kualitas mereka. Selain itu, buruknya hasil Ujian Nasional (UN) pada beberapa provinsi juga sebagai salah satu indikator rendahnya kualitas guru. Pasalnya, banyak guru yang tidak memahami substansi keilmuan yang dimiliki maupun pola pembelajaran yang tepat diterapkan kepada anak didik.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan Kebudayaan (BPSDMPK) dan Peningkatan Mutu Pendidikan (PMP), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Syahwal Gultom, mengatakan bahwa ada banyak masalah yang harus dibenahi dalam persoalan guru. Selain jenjang pendidikan yang belum memadai, kompetensi guru juga masih bermasalah.

"Hasil uji kompetensi yang dilakukan selama tiga tahun terakhir menunjukkan kualitas guru di Indonesia masih sangat rendah. Saat dilakukan tes terhadap guru semua bidang studi, rata-rata tak sampai 50% soal yang bisa dikerjakan," kata Syahwal Gultom.

Dia mencontohkan dari sisi kualifikasi pendidikan, hingga saat ini dari 2,92 juta guru, baru sekitar 51% yang berpendidikan S-1 atau lebih, sedangkan sisanya belum berpendidikan S-1.

Begitu pun dari persyaratan sertifikasi 2,06 juta guru atau sekitar 70,5% guru yang memenuhi syarat. Sedangkan 861.67 guru lainnya belum memenuhi syarat sertifikasi.

Selain tingkat pendidikan yang belum memadai, pada 2010-2015 ada sekitar 300.000 guru di semua jenjang pendidikan yang akan pensiun sehingga harus segera dicari pengganti untuk menjamin kelancaran proses belajar mengajar.

Rendahnya kualitas yang dimiliki oleh para guru menunjukkan betapa sistem pendidikan masih membutuhkan pembenahan lebih lanjut. Untuk itu ke depannya, kata Syahwal, Kemdikbud akan mengajukan tiga pola pembinaan guru, yakni uji kompetensi, penilaian kinerja, dan diklat secara berkelanjutan dan berjenjang, sehingga kualitas para pendidik semakin meningkat.