Redesain Sekolah Penyandang Disabilitas - Festival Empati Untuk Semua

ERACA

Setiap kegiatan pembelajaran pasti memerlukan sarana dan prasarana yang digunakan untuk menunjang proses kegiatan belajar mengajar siswanya dan sekolah wajib menyediakan sarana prasarana tersebut. Begitu pula di sekolah-sekolah yang diperuntukan bagi anak berkebutuhan khusus.

Ya, Selain instrumen untuk asesmen, sekolah juga memerlukan sarana dan prasarana yang mampu menunjang kebutuhan penghuninya. Sarana dan prasarana merupakan salah satu komponen pendidikan yang tidak kalah pentingnya dibanding komponen-komponen pendidikan yang lain.

Sarana dan prasarana yang digunakan di sekolah inklusi sebenarnya tidak berbeda dengan yang ada di sekolah-sekolah pada umumnya. Hanya saja, ada sedikit penambahan dan penyesuaian fasilitas yang memang dibutuhkan oleh para penyandang disabilitas yang harus disediakan oleh pihak sekolah.

Pada umumnya sarana yang menunjang belajar anak berkebutuhan khusus, masih kurang memadai. Misalnya lingkungan sekolah yang aksesibel, baik gedung atau bangunan sekolah, jalan menuju kelas, maupun fasilitas-fasilitas lain yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan anak berkebutuhan khusus.

Berangkat dari hal tersebut, mahasiswa Program Studi Arsitektur Universitas Kristen Petra (UKP) Surabaya meredesain sekolah penyandang buta, yakni SMPLB-A YPAB (Yayasan Penyandang Anak Buta). Upaya ini dilakukan untuk memperingati satu tahun kerja sama, sekaligus uji coba desain melalui kegiatan \\\"Festival Empati Untuk Semua\\\" di SMPLB-A YPAB, Jalan Gebang Putih, Surabaya.

Ketua Panitia \\\"Festival Empati untuk Semua\\\" UK Petra, Gunawan Tanuwidjaja ST MSc mengatakan bahwa selama ini desain yang ada di SMPLB-A YPAB dinilai kurang ideal. Pintu dan jendela di koridor depan ruang kepala sekolah yang buka-tutup acapkali membuat para siswa celaka. Setelah melewati proses diskusi, tercetuslah desain perbaikan pintu dan jendela geser yang dianggap lebih mudah dan aman untuk tuna netra.

\\\"Sejak tahun 2012, Program Studi Arsitektur UK Petra telah bekerja sama dengan cara meredesain bangunan sekolah agar sesuai dengan kebutuhan,\\\" kata Gunawan.

Tidak hanya melibatkan mahasiswa dari Program Studi Arsitektur, program yang merupakan bagian dari kegiatan \\\"Service Learning\\\" dalam mata kuliah Desain Inklusi ini juga melibatkan mahasiswa dari Program Studi Manajemen Keuangan, Teknik Sipil, Teknik Mesin, dan Teknik Industri.

\\\"Ada 40 mahasiswa yang berpartisipasi. Dengan acara ini diharapkan para mahasiswa akan dapat berempati sekaligus mengaplikasikan hasil proses belajar kepada masyarakat,\\\" kata dia.

Tak hanya uji coba desain baru saja, para mahasiswa pun mengajak siswa tuna netra untuk bersenang-senang dengan bermain catur dan ping-pong secara tutup mata. Dalam permainan ini, para mahasiswa ditutup matanya dan melawan siswa tuna netra. Tiap permainan ini, mereka akan memainkan \\\"end game\\\" yaitu lima langkah saja menuju permainan usai.

Related posts