Peduli Nasib Petani Indonesia

Sabtu, 05/10/2013

Khrisna Daswara, Group Managing Director PT Bekasi Fajar Industrial Estate TBK

Jika bangsa ini ingin menghindari ancaman krisis ekonomi global, yang harus dilakukan adalah menguatkan industri pertanian dari hulu hingga hilir. Pasalnya, lebih dari 250 juta jiwa sangat bergantung akan kebutuhan bahan pokok yang tak lain dan tak bukan adalah merupakan produk pertanian.

NERACA

Nasionalisme Khrisna Daswara, rasanya tidak perlu diragukan lagi. Karena sejak kecil, di dalam keluarga yang berlatar belakang tentara sudah ditanamkan rasa cinta yang teramat dalam pada dirinya. Sehingga hal-hal kecil yang menyangkut kesejahteraan bangsa ini tak pernah luput dalam pikirannya.

Khususnya untuk masalah pertanian, dia teramat heran kenapa bangsa yang katanya bangsa agraris ini tak mampu memproduksi hasil pertanian, dan lebih memilih impor dari luar. Padahal, dengan kuatnya fondasi pertanian Indonesia tidak akan membuat kalut bangsa ini kala krisis ekonomi menerpa.

“Sekarang apa saja impor, jambu bangkok, pepaya bangkok. Makanya kini kita harus memperkuat sektor pertanian. Toh 250 juta jiwa lebih masyarakat kita butuh hasil produksi pertanian, kalau kita bisa memperkuat sektor ini maka kalau terjadi krisis tidak akan ada pengaruhnya, ya paling hanya sedikit, tidak signifikan” ucap pria yang menaruh perhatian besar terhadap sektor pertanian Indonesia.

Diakui Khrisna, meskipun dirinya bukan berasal dari pelaku pertanian, dia begitu konsens untuk memajukan pertanian. Walaupun hampir sebagian besar karirnya berada di sektor industri keuangan, seperti bertugas sebagai direksi di suatu BUMN, dan kini dia menjabat sebagai group managing director di group swasta yang bergerak di bidang industrial estate, property, hospital dan energy.

Pasalnya, pekerjaan yang dilakoninya saat ini memiliki keterkaitan terhadap sektor pertanian meskipun tidak secara langsung. Akibatnya, dia pun percaya kalau sektor pertanian Indonesia baik, sekuat apapun tekanan krisis ekonomi yang datang akan dengan mudah untuk dilewati.

“Sekarang dengan beban impor membuat defisit perdagangan. Harga saham juga fluktuatif. Cara terbaik menghindari semua itu adalah dengan memperkuat sektor pertanian. Karena goncangan krisis global akan semakin dahsyat kalau dari sektor pertaniannya kacau balau,” sebut dia.

Apalagi saat ini, dimana sektor pertanian sudah tidak dilirik sebagai lahan yang menjanjikan, dimana ujung-ujungnya malah mempersempit lahan pertanian dan mengakibatkan semakin merosotnya hasil produksi pertanian.

Nah, gap itulah yang menyebabkan krisis kian terasa. Sebab untuk mengatasi semua itu tidak semata-mata hanya dengan menggunakan fiskal saja. Tetapi harus memperkuat seluruh sektor pertanian (termasuk peternakan dan perikanan). “Kalau sudah begitu mau apalagi, ya tentunya impor jalan satu-satunya,” ujar Khrisna.

Padahal di lain seperti Jerman, Jepang, semua bangga menjadi petani. Sementara itu di negara ini, kultur masyarakatnya telah berubah. Dan keinginan Khrisna hanya satu yakni mengembalikan kultur para petani Indonesia agar bangga terhadap profesi petani.

Belajar dari Jepang

Cara untuk mengembangkan pertanian, dikatakan Khrisna, semuanya harus di laksanakan mulai dari hulu hingga ke hilirnya. Untuk itu, pemerintah sebaiknya memberi perhatian lebih pada sektor itu, mereka harus menjadikan pertanian sebagai skala prioritas. Karena pada kenyataannya, sektor ini sangat ampuh meredam krisis ekonomi global.

“Kan itu kelemahan kita, tidak mempunyai skala prioritas, makanya masing-masing pihak berjalan masing-masing tanpa mampu bersinergi. Kementerian Perdagangan berjalan sendiri, kementerian pertanian berjalan sendiri,” ujar dia.

Untuk itu, ada baiknya jika mulai kini kita hilangkan ego sektoral kita demi memajukan bangsa Indonesia melalui pertanian. Soal yang satu ini, kita harus belajar banyak pada bangsa Jepang. Mereka selalu bersinergi satu sama lain untuk satu hal, yaitu bersatu demi memajukan bangsa mereka.

“Rekan kerja saya kan dulu banyak yang berasal dari Jepang, jadi walaupun mereka bergerak di sektor yang berbeda-beda, tetapi mereka tidak akan pernah lupa kalau mereka itu adalah orang Jepang,” imbau Khrisna.

Tak hanya itu, infrastruktur pertanian dan kultur petani pun harus diperhatikan. Maklum saat ini tak sedikit masyarakat petani yang tidak lagi bangga menjadi seorang petani. Makanya, Khrisna sangat menyayangkan kultur petani Indonesia yang kini telah pudar.

Saat ini mereka lebih mengandalkan cara fikir short term. Ujung-ujungnya lahan pertanian malah dijual demi memenuhi kebutuhan yang lain. Misalnya, kata Khrisna, usai panen raya mereka (petani) malah membelikan anak mereka sebuah sepeda motor bukannya malah memajukan sektor pertanian. Setelah uang hasil panen habis, maka lahan pertanian akan dijual, untuk bertani dikemudian hari.

“Nah, cara fikir seperti itu juga yang harus kita ubah, saya sangat menyayangkan mengapa saudara-saudara kita itu tidak berfikir panjang, mereka berfikir pendek. Intinya, kultur petani juga harus dibenahi, karena beberapa tahun silam kita mampu swasembada,” tutup dia.