Refinancing VIVA Ditengarai untuk Biayai Politik - TV ONE DAN ANTV DIGADAIKAN

Jakarta – Menutupi utang dengan cara berutang adalah kelihaian bisnis grup Bakrie agar tetap survive, namun tidak jarang dibalik kelihaian tersebut bisnis Bakrie sebaliknya harus menemui jalan buntu yang terpaksa harus menjual seluruh asetnya hingga gugatan pailit. Mencoba keberuntungan bayar utang dengan berutang atau lebih dikenal refinancing, kembali dilakukan PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) untuk menjaminkan kepemilikan asetnya guna memperoleh utang atau pinjaman perbankan senilai US$ 100 juta.

NERACA

Direktur Keuangan PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) Charile Kasim mengatakan, hasil rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) menyepakati untuk menjaminkan aset untuk mendapatkan pinjaman bank, “Nantinya dana yang di dapatkan akan digunakan untuk membayar utang perseroan senilai US$80 juta kepada Deutsche Bank yang akan jatuh tempo pada Februari 2014,”ujarnya.

Pengamat pasar modal dari Universitas Pancasila, Agus Irfani menuding, refinancing yang dilakukan VIVA tidak serta merta untuk bayar utang, tetapi juga mendanai politik pemilik perseroan, “Kemungkinan dana hasil perolehan pinjaman tersebut digunakan untuk mengantarkan pemimpin utamanya ke kursi pemilu 2014,”katanya kepada Neraca di Jakarta, Rabu (2/10).

Alhasil, saat ini pengelola pengelola perusahaan kalang kabut dan hal ini terlihat dari satu persatu usahanya Bakrie runtuh seperti BUMI, ELTY dan lainnya. Dirinya menyakini, ada dana yang diambil untuk disimpan sebagai dana politik pimpinannya memenangkan pemilu 2014 mendatang.“Jika nanti pindah tangan ke yang lebih baik tidak masalah, tetapi jika dinyatakan pailit dan saham para investor dinyatakan nol, itu yang bahaya,\" tegasnya.

Tidak hanya itu, Agus Irfani, menilai pemilik Bakrie grup mempunyai gaya “juragan”, yang diistilahkan sebelum waktunya perusahaan tersebut sudah dipanen. Bakan dirinya, memprediksi akan ada dua lagi perusahaan yang alami hal serupa VIVA hingga jelang pemilu 2014.

VIVA memang lagi mencari utang dana sekitar US$100 juta atau setara Rp 1,15 triliun untuk melunasi utang perseroan yang jatuh tempo pada Februari 2014.

Charlie mengatakan, untuk mencukupi kebutuhan dana tersebut, perseroan akan menjaminkan mayoritas saham di tiga entitas anak usahanya, yaitu PT Lativi Media Karya (TV One), PT Cakrawala Andalas Televisi (ANTV), dan PT Viva Media Baru (Viva News).

\"Total kebutuhan dananya lebih dari US$100 juta, tetapi tidak sampai US$160 juta. Yang dijaminkan saham anak usaha lebih dari 50 persen,\" ujarnya.

Menurut dia, perseroan akan mengalokasikan hasil dana utang sebesar US$90 juta atau setara Rp 1,04 triliun untuk pendanaan utang VIVA yang jatuh tempo pada Februari 2014. Sisanya akan digunakan untuk membiayai aksi organik untuk membangun media centre di wilayah pinggiran Jakarta.

Utang yang akan jatuh tempo ini memiliki tingkat bunga sekitar 9%. Rencananya perseroan akan mencari fasilitas kredit jangka panjang dengan tenor 4 tahun untuk mendanai aksi korporasinya.

Sementara analis PT Danareksa Sekuritas Lucky Bayu menilai, refinancing VIVA dinilai tidak rasional. Pasalnya, dengan melakukan cara tersebut, justru akan membayakan aset perseroan lantaran kinerja keuangan dinilai kurang bagus,”Ke depan sahamnya juga berpotensi melemah, ditambah dengan agenda menjaminkan seluruh aset untuk mendapatkan pinjaman. Aksi ini justru semakin memperhatikan ketidakmampuan perseroan mengelola keuangan, “kata Lucky Bayu.

Selain itu, dia juga menilai tidak seharusnya perseroan yang belum terlalu lama melantai di bursa saham menjaminkan asetnya untuk memperoleh pinjaman. Akibatnya, akan banyak investor yang meninggalkan sahamnya. Apalagi saham Bakrie grup tidak bagus dan banyak yang tidak bergerak, “Seluruh Bakrie grup sebaiknya dihindari, memang tidak semua jelek seperti ELTY dan BUMI masih memiliki aset bagus. Namun seluruh perusahaan yang ada di Bakrie grup tunduk pada induknya, BNBR. Sehingga jika ada satu perusahaan yang alami kondisi jelek, yang lain akan terkena imbasnya karena harus meng-cover masalah perusahaan lain,”ujarnya.

Menurut Lucky, jika perusahaan grup Bakrie dipindah tangankan atau ada reformasi kepemilikan, harga saham emiten-emitennya diyakini akan naik. Alasannya, investor jenuh melihat emiten Bakrie yang tidak memperhatikan perusahaannya. “Jangankan investornya dipedulikan, perusahaan sendiri saja tidak dikelola dengan baik,”cibirnya.

Kendatipun demikian, kata Lucky, meminjam atau berhutang tidak selamanya buruk, tetapi jika seperti yang dilakukan VIVA tanpa ada aksi korporasi jelas dan hanya untuk bayar hutang tidaklah membantu menambah pendapatan perseroan. Oleh karena itu, dirinya menyarankan agar BEI dan OJK menyelidiki masalah yang tengah dihadapi salah satu grup Bakrie ini. Hal ini juga sebagai wujud perlindungan investor, karena investor yang tidak terlalu memahami seluk-beluk perusahaan bisa saja rugi akibat ketidaktahuannya.

Terbelit Utang

Sementara analis Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, VIVA jangan sampai bisa terbuai mengikuti jejak saudara-saudara dalam naungan perusahaan Bakrie. Pasalnya, VIVA adalah salah satu perusahaan Bakrie yang masih cukup bagus kinerjanya. “Aksi refinancing memang sudah biasa dilakukan oleh beberapa perusahaan Bakrie, akan tetapi kinerja VIVA cukup bagus. Kalau keterusan maka nanti bisa ikut-ikut saudaranya,”kata Reza.

Dia menambahkan, kinerja VIVA dalam katagori baik jika dibandingkan dengan “saudara-saudara” lainnya. Karena masih ada pendapatan dari iklan-iklan Tvone dan Antv. Laba bersih VIVA pada tahun lalu yang Rp 79,92 miliar tumbuh 178% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang Rp 26,26 miliar. “Jika dilihat dari harga dan market cap anak-anak usaha Bakrie, hanya VIVA yang tercatat mengalami pertumbuhan positif,” katanya

Menurut Reza, aksi refinancing adalah sebagai obat sesaat yang dilakukan oleh perusahaan. Dimana, di satu sisi memang ini adalah strategi namun disisi lain adalah mengenai kepercayaan kreditur. Akan tetapi tetap saja menjadi beban terhadap keuangan perusahaan tersebut karena harus membayar utang dan cicilannya.

Ironisnya, menurut Reza, meskipun Bakrie terus-menerus melakukan penjualan aset untuk mengurangi beban utang masing-masing anak usahanya, itu tidak akan cukup. Sebab beban utangnya besar. “Kalau saya melihat, agak susah, ya. Ya, itu tadi, kita melihat dari utang mereka yang sangat besar 14,5 kali equity ratio. Ini sangat tinggi. Padahal, debt to equity ratio dua sampai tiga kali dari ekuitas saja sudah warning,” katanya.

Sebaliknya, pengamat bursa Alfred Nainggolan mengungkapkan, VIVA masih mempunyai prospek yang cukup bagus dan apalagi ditunjang dari TV One, “Kinerja VIVA masih bagus, terlebih perseroan mendapatkan hak siar piala dunia yang pasti mempunyai pendapatan yang cukup lumayan dari belanja iklan,”tandasnya.

Namun sebaliknya, lanjut Alfred, jika manajemen VIVA tidak bisa memanfaatkan dan mengambil peluang dari utang dan moment piala dunia, kemungkinan besar VIVA yang merupakan salah satu perusahaan Group Bakrie ini akan terbelit utang yang cukup besar.

Sebenarnya kalau dilihat,terang Alfred,Group Bakrie ini seperti gali lubang tutup lubang. Mereka harus membayar sejumlah utang yang sudah jatuh tempo dengan mencari dana pinjaman yang baru.\\\"Ini menandakan fundamental bisnis Group Bakrie tidak kuat. bahkan bisa dikatakan rapuh,\\\"kata Alfred. bari/nurul/iwan/bani

BERITA TERKAIT

PII Jamin Proyek SPAM Di Bandar Lampung - Butuh Rp250 triliun untuk Sarana Air Minum

      NERACA   Lampung – PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) / PT PII melaksanakan penandatanganan penjaminan proyek yang…

Jaga Kerukunan dan Toleransi Pasca Kekerasan Terhadap Pemuka Agama

  Oleh : Sulaiman Rahmat, Mahasiswa Universitas Lancang Kuning, Pekanbaru Pada akhir Januari 2018 kemarin, masyarakat dihebohkan dengan kabar ulama…

KNPI Harus Menjadi Inspirator Implementasi Pancasila dan UUD '45 - Bupati Sukabumi

KNPI Harus Menjadi Inspirator Implementasi Pancasila dan UUD '45 Bupati Sukabumi NERACA Sukabumi - Bupati Sukabumi Marwan Hamami meminta Komite…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Kebijakan Impor Beras Butuh Sinkronisasi Data

NERACA Jakarta – Pemerintah perlu benar-benar melakukan sinkronisasi data terkait dengan kebijakan yang membuka masuknya beras impor agar jangan sampai…

KONSEKUENSI DERASNYA ARUS DIGITALISASI - 2018, Perusahaan Konvensional Terus Tergerus

Jakarta-Meski ekonomi dunia termasuk Indonesia ‎diperkirakan akan membaik pada 2018, arus digitalisasi terus merambah sehingga perusahaan ritel maupun transportasi konvensional…

UNTUK MENINGKATKAN AKSES INKLUSI KEUANGAN - Presiden: Sederhanakan Perizinan dan Sistem Perbankan

Jakarta-Presiden Jokowi mengatakan, perlunya penyederhanaan sistem dan penyederhanaan izin-izin yang ruwet agar masyarakat dapat mengakses ke perbankan dan sektor jasa…