Produk Batubara Asmin Koalindo Naik 3,9%

Kamis, 03/10/2013

NERACA

Jakarta – PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN) menyatakan bahwa produksi batubara yang dihasilkan oleh anak usahanya PT Asmin koalindo Tuhup (AKT) naik 3,9% setelah sebelumnya mengalami pengurangan produksi. AKP telah kembali beroperasi normal setelah pada triwulan 3 2013 melakukan pengurangna operasi untuk pemeliharaan alat produksi dan evaluasi sumber daya serta rencana penambangan.

Hal tersebut disampaikan Direktur Perseroan Kenneth Raymond Allan dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (2/10). Sebagai informasi, produksi batubara AKT hingga semester pertama tahun ini mencapai 1,67 juta ton atau naik 3,9% dari periode yang sama tahun lalu yaitu 1,61 juta ton. Sementara nilai strip ratio semester 1 tahun ini lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun lalu yaitu 25:1 dengna 17:1 yang disebabkan pembukaan dan penambangan di area pit baru.“Sehingga dengan dibuka area pit baru ini di masa yang akan datang akan menghasilkan produksi pada waktu mendatang”, ujar dia.

Sementara itu, dia juga menjelaskan bahwa profit AKT dipengaruhi oleh harga internasional batubara kokas yang turun cukup signifikan dibandingkan harga pada 2012 lalu. Sehingga, secara umum perubahan biaya terjadi akibat penurunan harga, karena biaya operasional AKT tidak banyak berubah. Namun dia mengakui biaya bunga hutang yang cukup tinggi membuat kinerja keuangan AKT sedikit menurun.“Saat ini kami tengah mengevaluasi rencana ekspansi yang berdampak pada penundaan atau bahkan pembatalan pemesanan alat berat. Namun kami yakin penundaan belanja modal untuk meningkatkan produksi merupakan keputusan yang tepat dalam situasi industri seperti saat ini”, jelasnya.

Kedepan, perseroan akan memprioritaskan kualitas produk yang lebih baik, selain itu perseroan juga akan fokus melakukan pemeliharaan area tambang dengan biaya yang lebih rendah. Hingga saat ini, kapasitas produksi anak usaha perseroan lebih besar dari 100 juta bcm dan kondisi AKT saat ini mampu meningkatkan produksi tersebut.“Namun, peningkatan produksi tersebut tergantung keadaan pasar. Jika pasar meningkat, kami akan ikut meningkatkan produksi”, ujar dia.

Perseroan juga memperkirakan produksi tahun 2013 mencapai 3 juta ton dengan dasar rencana penambangna yang telah direvisi. Seiring berjalannya waktu, perseroan berenccana menambahkan target produksi dan penjualan sebanyak 1 juta ton tiap tahunnya. Sehingga, pada 2015, perseroan memproduksi 5 juta ton batubara dan penjualan juga sebanyak 5 juta ton.

Selain itu, sepanjang semester pertama tahun ini, perseroan berhasil menjual sebanyak 1.078.614 ton dengan ASP US$142 pcr per ton, sehingga perseroan memperoleh pendapatan US$153,5 juta. Namun, dibandingkan tahun lalu volume penjualan perseroan mengalami pennurunan.“Selain karena harga turun, sungai Barito tidak bisa digunakan sebagaimana mestinya seperti yang diharapkan. Sehingga kinerja kami berkurang”, ujar dia.

Terkait hutang perseroan sebesar US$350 juta kepada First Gulf Bank, perseroan menyatakan sedang mendiskusikannya untuk perpanjangan. Pinjaman ini berupa kredit modal kerja pre-shipment. Fasilitas ini seluruhnya sudah ditarik dan menunggu kiriman selanjutnya. (nurul)