BI-PBC Perpanjang BSA - Senilai Rp175 Triliun

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia menandatangani perjanjian bilateral swap agreement (BSA) atau pertukaran cadangan devisa dengan People’s Bank of China (PBC) sebesar CNY100 miliar atau Rp175 triliun guna memperkuat stabilitas sistem keuangan kedua negara. Kerja sama ini merupakan perpanjangan dari perjanjian sebelumnya pada 2009 lalu.

“Kerja sama ini mencerminkan komitmen regional dalam menghadapi kondisi ketidakpastian global dan akan berkontribusi positif dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan keuangan domestik,” ujar Gubernur BI, Agus DW Martowardojo di Jakarta, Selasa (1/10).

Dengan adanya BSA, lanjut dia, diharapkan akan meningkatkan perdagangan dan investasi langsung antara Indonesia dan China, membantu penyediaan likuiditas jangka pendek bagi stabilisasi pasar keuangan, dan tujuan lainnya sesuai kesepakatan kedua belah pihak.

Dia juga meyakini bahwa kerja sama antarbank sentral ini akan semakin meningkatkan kepercayaan pasar terhadap kondisi fundamental perekonomian Indonesia. Selain itu, kerja sama ini merupakan langkah lanjutan yang dilakukan oleh BI guna meningkatkan jaminan cadangan devisa terhadap rekan negara lain apabila suatu saat nanti diperlukan.

Chief Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Anton Gunawan pernah bilang, sejatinya, Pemerintah harus memaksimalkan first line of defence atau ketahanan utamanya, yakni cadev saat ini. Sebab, kebutuhan utang harus diperhitungkan matang-matang.

“Sebetulnya, first line of defence kita jumlahnya relatif dapat meningkat. Terlebih dengan hasil lelang sukuk kemarin. Jadi menurut Saya, wacana BSA ini cukup dijadikan momen untuk membuat pasar percaya dan nyaman aja,” ungkap Anton, belum lama ini.

Gandeng lembaga keuangan

Melemahnya cadangan devisa Indonesia menjadi US$93 miliar hingga Agustus 2013 ini menyebabkan Kemenkeu dan BI menerapkan kebijakan BSA sebagai jaminan untuk pertahanan lapis kedua atau second line of defense. Namun begitu, bukan berarti bisa bernafas lega.

Pasalnya, saat ini Pemerintah tengah membahas ukuran batas minimum atau threshold dengan negara penjamin BSA tersebut. Untuk itu dia menganjurkan agar Pemerintah harus mulai memperhitungkan akses GDO (go down option) atau pinjaman dari lembaga-lembaga keuangan multilateral seperti Bank Dunia atau Bank Pembangunan Asia.

Akan tetapi, langkah ini baru boleh disepakati bila Pemerintah memang tidak bisa mengakses pasar uang lantaran jumlah cadev yang kian menyusut. “Tekanan terhadap rupiah semakin besar. Saya kira, hingga bulan Oktober nanti permintaan dolar AS dari luar negeri semakin tinggi. Ini tentu bisa menyebabkan cadangan devisa kita terus menurun,” terang Anton. [ardi]

BERITA TERKAIT

Tunas Baru Lampung Rilis Obligasi Rp 1 Triliun

Lunasi utang, PT Tunas Baru Lampung (TBLA) akan menerbitkan obligasi berkelanjutan I Tunas Baru Lampung tahap I tahun 2018 dengan…

DMAS Targetkan Penjualan Rp 1,25 Triliun

Emiten pengembang kawasan industri, PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) mematok target marketing sales tahun ini sebesar Rp 1,25 triliun. Direktur…

Tower Bersama Bangun 1000 Menara di Luar Jawa - Siapkan Capex Rp 1 Triliun

NERACA Jakarta –Kejar pertumbuhan bisnis lebih agresif lagi, PT Tower Bersama Infrastruktur Tbk (TBIG) tahun ini menargetkan dapat membangun sekitar…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Taspen Raih Laba Bersih Rp721 miliar

      NERACA   Jakarta - PT Taspen (Persero) sepanjang tahun 2017 mencatat laba bersih sebesar Rp721,73 miliar, tumbuh…

Naik 15,5%, BTN Cetak Laba Rp3,02 triliun

      NERACA   Jakarta - Kinerja PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk menunjukan hasil positif sepanjang 2017 dengan…

Penghambat Inklusi Keuangan di Indonesia Menurut Presiden

      NERACA   Jakarta - Presiden Joko Widodo menyebutkan ada dua penghambat perluasan inklusi keuangan di Indonesia, yakni…