Pemerintah Amerika Lumpuh, Perdagangan RI-AS Bakal Kena Imbas

Kamis, 03/10/2013

NERACA

Jakarta – Pemerintah Amerika Serikat (AS) sedang mengalami kelumpuhan. Pasalnya hampir seluruh pegawai negeri sipil Negeri Paman Sam tidak bekerja lantaran belum adanya anggaran untuknya. Kondisi tersebut justru memberikan sinyal bagi pengusaha asal Indonesia yang berorientasi ekspor ke AS. Hal tersebut diungkapkan Ketua Umum Perbanas Sigit Pramono di Jakarta, Rabu (2/10).

Menurut Sigit, jika kondisi di AS berlangsung lama maka bisa mengganggu ekonomi Indonesia. Untuk itu, ia mengingatkan kepada pelaku usaha dan pemerintah agar berhati-hati dalam mengantisipasi kejadian tersebut. “Daya beli komoditas di sana akan melambat, dan ekspor juga kita akan melambat, itu kenapa kita harus perhatikan ekonomi di Amerika,” katanya.

Ia melihat, efek kelumpuhan pemerintah AS yang disebut government shutdown ini tak main-main jika berlangsung berminggu-minggu. Ratusan ribu pegawai pemerintah, yang bertugas di taman nasional, keimigrasian, atau perpustakaan tetap signifikan menggambarkan daya beli warga Negeri Adi Daya itu. “Itu sebabnya kita harus waspadai dampak berhentinya pelayanan pemerintah Amerika,” kata Sigit.

Untungnya, selama beberapa tahun terakhir, ekonomi Indonesia ditopang oleh konsumsi domestik. Bagi Sigit, pekerjaan rumah pemerintah lebih banyak menyoal pengelolaan energi. Yakni mencari cara supaya ketergantungan pada impor minyak dan gas (migas) dapat dikurangi. Selama ini, defisit neraca perdagangan membuat sektor ekonomi lain di Tanah Air melemah. “Ekonomi kita sebagai besar berasal dari domestik. Cuma tingginya impor bahan baku, tingginya konsumsi BBM subdisi, membuat impor migas jadi lebih besar,” ungkapnya.

Belum Berdampak

Di tempat terpisah, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengataskan shutdown yang terjadi di AS lantaran belum tercapainya kata kesepakatan mengenai anggaran. Atas dasar itu, menurut Bayu, kondisi tersebut belum memberikan dampak yang signifikan bagi kegiatan ekspor-impor antara Indonesia dengan AS. “Dampak pada ekspor-impor belum ada. Saya tidak mau berspekulasi. Yang sudah terjadi dampaknya adalah pembahasan kita dengan pemerintah AS yang ditunda seperti diskusi mengenai beberapa kasus perdagangan seperti udang, kelapa sawit. Ini karena mereka sedang diliburkan,” katanya.

Kementerian Perdagangan, kata dia, terus memantau kondisi di Amerika Serikat. Komunikasi juga terus dilakukan dengan perwakilan Indonesia di Washington untuk melakukan antisipasi terhadap kondisi di Amerika Serikat. Bayu menegaskan Indonesia berharap agar kondisi ini cepat selesai sehingga tidak harus terjadi krisis yang bisa memperburuk keadaan. “Kita komunikasi intensif dengan perwakilan di Washington DC. Mudah-mudahan dalam waktu dekat selesai,” ucapnya.

Bayu optimistis kondisi shutdown di Amerika Serikat tidak akan berlarut-larut dan pemerintah Amerika akan segera menemukan solusi atas kebuntuan yang terjadi di sana. Menurut dia, ketidaksepakatan hanya akan merugikan ekonomi Amerika sendiri. “Saya percaya mereka punya solusi karena kalau berkelanjutan hanya merugikan mereka. Suasana di pusat bisnis aktvitas harus kembali berjalan normal. Saya rasa antisipasi mereka akan cepat agar cepat selesai,” katanya.

Bayu mengatakan toh dengan kondisi shutdown yang terjadi masih ada mixed signal dari Amerika Serikat karena pergerakan indeks saham Wall Street masih positif. Hal ini, kata dia, kondisi perbaikan masih sangat mungkin terjadi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), AS adalah salah satu negara yang menjadi mitra dagang Indonesia. Pada periode Januari-Agustus 2013, neraca perdagangan Indonesia dengan AS mengalami surplus US$4 miliar. Rinciannya, nilai ekspor mencapai US$9,99 miliar, sementara nilai impor tercatat US$5,978 miliar.

AS merupakan negara konsumen minyak terbesar di dunia dan kesehatan ekonominya memiliki pengaruh besar pada harga minyak mentah. Perekonomian AS juga terbilang sangat kuat berpengaruh pada kondisi ekonomi global. Krisis kini tengah menerpa pemerintah AS itu terjadi setelah kubu Partai Demokrat pendukung Obama dan kubu Partai Republik di Kongres AS tidak juga menemukan kesepakatan setelah sepekan memperdebatkan masalah anggaran Obamacare. Program ini adalah sistem kesehatan yang diajukan Obama.

Kubu Republik di cabang legislatif AS itu tidak menyetujui anggaran baru, yang isinya antara lain menaikkan batas utang pemerintah demi menjalankan sistem baru jaminan kesehatan AS yang populer dengan sebutan Obamacare. Kubu Republik mengajukan opsi penundaan setahun pelaksanaan UU Perawatan Kesehatan itu, namun kubu Demokrat pendukung Obama bertahan.

Menyusul kebuntuan itu, Barack Obama memutuskan merumahkan tanpa bayaran sekitar 1 juta pekerja, menutup taman nasional, dan mengulur-ulur proyek penelitian medis gara-gara kehabisan biaya operasional. Krisis AS ini populer disebut government shutdown.