Kadin Genjot Kerjasama Ekonomi RI-Iran

NERACA

Jakarta - Kadin Indonesia menilai kerjasama ekonomi, terutama untuk sektor perdagangan dan investasi dengan Iran sangat berpotensi untuk ditingkatkan lebih jauh. Iran dipandang sebagai sebuah contoh negara yang mandiri di tengah pemberlakuan sanksi ekonomi.

“Iran selama ini kurang mendapat perhatian dari kita, juga dunia internasional. Hal ini berkenaan dengan sanksi ekonomi terhadapnya. Meski demikian, berdasarkan kunjungan kita ke sana potensi kerjasama dengan Iran begitu besar. Tentunya, kita akan mengedepankan kepentingan nasional dalam kerja sama itu,” kata Ketua Umum Kadin Indonesia Suryo Bambang Sulisto di sela-sela Pengukuhan Pengurus Kadin Indonesia Komite Iran 2013-2015 di Jakarta, Rabu (2/10).

Saat ini pihaknya tengah menjajaki kerjasama diantara pihak swasta ke dua negara, terutama di sektor minyak dan gas, perdagangan dan investasi, perbankan, pariwisata hingga agribisnis dan makanan. “Kita sudah menghasilkan sekitar 17 nota kesepahaman antara pengusaha nasional dan Iran. Semangat untuk membangun hubungan anatar Iran dan Indonesia begitu baik,” kata Suryo.

Ketua Kadin Indonesia Komite Iran, Fadel Muhammad mengatakan, dari salah satu 17 MoU itu yang sudah berjalan adalah pembangunan proyek powerplant. Menurut dia, Iran juga sangat haus berinvestasi di Indonesia terutama dalam membangun refinery (kilang minyak). “Iran bisa mandiri dengan powerplant yang dibuat sendiri di dalam negerinya, begitupun halnya makanan. Indonesia bisa belajar banyak dari Iran”.

Sejauh ini, trend perdagangan Indonesia menurun dari US$1,8 miliar menjadi US$1,4 miliar. Dikatakan Fadel, hal itu merupakan efek dari sanksi ekonomi terhadap Iran. “Padahal sebenarnya tidak ada larangan bagi kita untuk melakukan kerja sama dengan Iran. Kami sudah berkonsultasi dengan kedua pihak kedutaan,” ucap Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan.

Fadel menyayangkan, selama ini perdagangan dengan Iran harus melalui tangan ke tiga. Dia berharap, ke depan neraca pembayaran bisa jauh meningkat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Selain transfer teknologi baik di sektor migas maupun pertanian, pihaknya mengaku tengah merancang sistem pembayaran perdagangan yang sesuai untuk diterapkan dengan melibatkan Bank Indonesia dan Eximbank.

Menurut Fadel, kebijakan Iran saat ini lebih terfokus dan mengarah pada pro bisnis. Sehingga diharapkan tidak hanya pihak Iran yang berinvestasi di Indonesia, tetapi juga sebaliknya. “Dalam waktu dekat, sekitar awal November atau Desember tahun ini, Presiden Iran dijadwalkan akan melakukan kunjungannya ke Indonesia. Kita akan coba terus jajaki kerja sama dengan pihak Iran dan melihat perkembangan kebijakan-kebijakan ekonomi diantara kedua negara,” Pungkas dia.

Target US$2 M

Duta Besar Iran untuk Indonesia Mahmoud Farazandeh mengatakan Iran menargetkan dapat terus mengembangkan kerjasama perdagangannya dengan Indonesia. Ditargetkan nilai perdagangan pada tahun ini dapat meningkat hingga US$2 miliar. Ia menjelaskan tahun lalu perdagangan antara Indonesia dengan Iran mencatat angka di kisaran US$1,3-US$1,4 miliar. \"Tapi saya tidak tahu data pasti untuk Kuartal I ini,” kata dia.

Dia mengungkapkan, kerjasama antara Indonesia dengan Iran dilakukan dalam banyak produk. Menurutnya, Iran mengimpor lebih dari ratusan produk dari Indonesia. “Seperti minyak, kami juga impor dari Indonesia. Peralatan medis, obat-obatan, bahan pangan, dan juga teh,” kata dia.

Dia melanjutkan, Indonesia merupakan negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang baik. Di saat ekonomi global terpuruk, Indonesia masih mampu mencatatkan pertumbuhan yang cukup tinggi. “Indonesia masih tumbuh sekira 6%, Filiphina itu 7,5%, dan China bisa lebih dari itu,” tukas dia.

Tidak hanya kerjasama dalam hal perdagangan, Indonesia dan Iran juga telah menjalin kerjasama di bidang riset dan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Kerjasama kedua negara diarahkan kepada iptek sebagai solusi atas permasalahan global saat ini. Deputi Menristek bidang Jaringan Iptek, Agus Rusyana Hoetman mengatakan selama ini Indonesia dan Iran memfokuskan kerjasama riset dan ipteknya di dalam beberapa bidang, yaitu ilmu kebumian, nanoteknologi, teknologi kedirgantaraan, ilmu kedokteran dan sel punca, serta bioteknologi.

\"Berbagai bentuk kerjasama, baik itu pertukaran peneliti dan ilmuwan, program riset bersama, penyelenggaraan seminar maupun workshop bersama, dapat dilakukan untuk meningkatkan kerjasama yang sedang berjalan ataupun yang akan dilakukan di masa mendatang,\" ujar Agus.

BERITA TERKAIT

Perekonomian Indonesia Tumbuh di Tengah Krisis Ekonomi Global

  Oleh: Rizal Arifin, Pemerhati Ekonomi Pembangunan   Kritik oposisi terhadap Pemerintah terkait target pertumbuhan ekonomi dibawah 6 persen mejadi…

Optimisme Ekonomi Tumbuh Positif - Pendapatan Emiten Diperkirakan Tumbuh 9%

NERACA Jakarta – Mempertimbangkan keyakinan masih positifnya pertumbuhan ekonomi dalam negeri menjadi alasan bagi BNP Paribas IP bila pasar saham…

BAZ Kota Sukabumi Kerjasama Dengan BRI - Walikota Akan Keluarkan Perwal Kewajiban ASN Bayar Zakat Melalui BAZ

BAZ Kota Sukabumi Kerjasama Dengan BRI Walikota Akan Keluarkan Perwal Kewajiban ASN Bayar Zakat Melalui BAZ NERACA Sukabumi - Demi…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Ekspor Mobil CBU Ditargetkan Sebesar 400.000 Unit

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor mobil CBU mencapai 400.000 unit pada tahun ini, atau naik 51,2% secara tahunan.…

Pameran Jadi Cara Pemerintah Bantu Pemasaran Produk Usaha Kecil - Promosi Dagang

NERACA Jakarta – Kementerian Perdagangan berkomitmen terus meningkatkan pemasaran produk usaha kecil menengah (UKM), salah satunya melalui keikutsertaan dalam pameran.…

Dunia Usaha - Kemenperin Dorong Perusahaan Rintisan Berkontribusi Ekspor

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian berkomitmen mendukung pembinaan perusahaan rintisan (startup) dengan membuka kesempatan go internasional melalui program Asia Entrepreneurship…