Batik sebagai Simbol Nasionalisme

Oleh: Sagita Purnomo, Pecinta Batik, Mahasiswa Fakultas Hukum UMSU

Kamis, 03/10/2013

Tak terasa sudah empat tahun Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO), bagian dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang bertugas menaungi masalah pendidikan, ilmu pengetahuan, serta kebudayaan secara resmi menyatakan kepada dunia internasional bahwa Batik sebagai warisan budaya tak benda (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) asli milik Indonesia, di kota Abu Dhabi – Uni Emirat Arab pada tahun 2009 lalu.

Menindak lanjuti pengakuan yang membanggakan itu, pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden SBY mengeluarkan Kepres No 33 Tahun 2009, yang menetapkan bahwa tanggal 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional.

Penetapan Hari Batik Nasional dimaksudkan sebagai usaha untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia bukan hanya ke ranah internasional tapi juga mengangkat kebanggaan di rumah sendiri kepada rakyat Indonesia untuk lebih menghargai warisan budaya leluhur, batik sebagai simbol jiwa identitas bangsa Indonesia.

Pasca diakuinya batik oleh UNESCO maka secara resmi pula batik bukan hanya dimiliki oleh orang Indonesia saja, Sekarang ini batik sudah menjadi milik masyarakat dunia maka jangan heran kalu ada orang bule dalam event resmi internasional menggunakan batik.

Eksistensi Batik

Penerbitan Kepres No 33 Tahun 2009 yang menetapkan hari Batik Nasional, juga dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap perlindungan dan pengembangan batik. Sekarang ini banyak pengusaha yang memproduksi batik secara masal guna memenuhi permintaan pasar bahkan sakin banyaknya permintaan maka tak jarang banyak batik made in China yang dengan mudahnya menyusup masuk ke pasar Indonesia. Eksistensi batik juga mendatangkan keuntungan tersendiri bagi negara lain.

Sangat disayangkan, masyarakat Indonesia yang punya batik tak dapat menikmati secara maksimal karunia batik. Masyarakat Indonesia kekurangan modal dan SDM dalam memproduksi dan mengelolah batik secara masal. Kita hanya mampu meproduksi batik tulis dalam sekala industri kecil atau rumahan. Belum ada upaya dari pemerintah memberi suntikan modal guna mendirikan sebuah industri sekala besar untuk memproduksi batik tulis dalam sekala besar, agar Indonesia menjadi sentral pemasok batik dunia.

Eksistensi batik saat ini sungguh luar biasa. Kalau dulunya batik hanya dipakai oleh para orang tua pada suku tertentu saja (Jawa) dan dalam acara tertentu pula misalnya, pada pesta hajatan atau kawinan. Tapi, saat ini batik sudah tidak mengenal batasan kalangan atau suku, batik dapat dipakai di mana saja dan kapan saja oleh siapa saja. pada era ini banyak bermunculan batik modis dengan berbagai mode dan variasi. Bukan hanya dalam bentuk kemeja tapi juga ada batik kaos dan model lainya yang cocok dipakai setiap hari. Bukan hanya itu, motif batik juga sangat serasi dipadukan dengan pakaian modren lainya yang memberikan kesan mewah dan gaya tersendiri dimata para penggila fasion.

Simbol Nasionalisme

Ada pihak asing (Malaysia) yang begitu bernafsu mencoba dan mengincar atau bahkan megklem batik sebagai kebudayaan miliknya. Ini menjadi suatu pertanda bahwa batik dapat mendatangkan keuntungan tersendiri bagi yang secra resmi memilikinya. Oleh sebab itu kita bangsa Indonesia sebagai orang yang punya batik hendaknya dapat melestarikan batik sebagai budaya identitas bangsa, jangan sampai batik direbut asing.

Sebagai upaya melestarikan batik, banyak istansi pemerintah dan swasta yang mewajibkan kepada para pegawainya untuk memakai batik pada hari-hari tertentu (jumat dan sabtu) apalagi dikalangan anak sekolah batik merupakan seragam wajib yang harus dikenakan seminggu sekali. Ada rasa bangga tersendiri saat memakai batik

Di kota Pekalongan yang terkenal dengan julukan kota batik. Kegiatan yang terkait tentang batik ditumbuh kembangkan, termasuk simpul pasar khusus yang menjajakan batik seperti Pasar Grosir batik dan Kampung Batik Kauman. Di sisi lain pendidikan batik secara formal pun dibuka seperti berdirinya pendidikan batik Pusmanu dan SMK Batik.

Bahkan batik menjadi muatan lokal di sekolah-sekolah yang ada di Pekalongan. Para siswa diajarakan tentang cara membuat batik mulai dari awal dengan cara tradisional. Serta dibukanya museum batik untuk dimanfaatkan sebagai pelatihan membuat batik kepada pengunjung sebagai upaya pelestarian generasi batik.

Keterpaduan inilah yang membuat Kota Pekalongan menjadi acuan embrio diakuinya batik sebagai warisan budaya dunia. Harusnya daerah daerah lain di Indonesia hendaknya melakukan hal serupa sebagai upaya melstarikan batik.

Yang harus dilakukan sekarang ini ialah bagaimana bangsa Indonesia membuktikan kepada dunia akan rekam sejarah batik di Indonesia. Bukan sekadar bicara, tapi bicara ada fakta, catatan sejarah dan yang lain. Sebagai kain tradisional, batik kaya akan nilai budaya sebagai kerajinan tradisional yang diwarisi secara turun temurun.

Apalagi sebagai bangsa yang besar, kita harus menghargai kebudayaan kita sendiri. Terutama bagi kaum muda sebegai generasi penerus yang akan memegang dan mengelolah warisan budaya bangsa yang tak ternilai harganya.

Nasionalisme takan cukup hanya dengan kata-kata, nasionalisme dapat dibuktikan dengan perbuatan dan aksi nyata, dimulai dari sesuatu yang sederhana mari bersama sama kita jaga dan lestarikan batik sebagai pakaian resmi milik Indonesia yang menjadi kebanggaan dunia. Jadi, pakai batik setiap hari? Siapa takut. (analisadaily.com)