Menabung, Pemulung Naik Haji

Sabtu, 05/10/2013

Menabung, Pemulung Naik Haji

Karyati Binti Halil (69) buka kartu mengapa dirinya bisa pergi naik haji. Rombongan kelompok terbang (kloter) dari Probolinggo, Jawa Timur, 29 September 2013 itu mengaku, kunci nikmat, yaitu bisa berangkat menunaikan ibadah haji, adalah salat dan mengaji. “Ditanya kok bisa naik haji, saya jawab harus selalu salat dan ngaji. Jangan berhenti-berhenti, kalau berhenti jauh lagi rezekinya," tutur Karyati binti Halil (69).

Mbah Karyati sehari-harinya adalah pemulung di lingkungan Masjid Ar-Rahman, di Jalan Leces, Probolinggo, sejak lima tahun lalu. Dia juga rajin menabung, walaupun beberapa kali kena tipu dan ludes tabungannya. Selama ini, dia bermalam di masjid, dan tak lupa salah tahajud tiap malam. Perempuan berdarah Madura ini adalah anda anak satu bernama Santuni. Sang anak kini tinggal bersama suaminya.

Dia bercerita pernah bermimpi mendapati dua buah sumur yang penuh airnya. Itu adalah firasat akan datangnya rezeki yang banyak. Saat berbincang-bincang dengan Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari yang mengantar para jamaah haji di daerahnya, Karyati juga mengaku pernah ditipu orang. Tiga kali sepeda yang dipakai untuk memulung diambil orang. Uang tabungannya sebanyak Rp 10 juta juga pernah dibawa kabur seorang tengkulak.

Namun perempuan itu tak patah semangat. Salat dan berdoa tetap dipanjatkan tiap malam. Alhasil, dia bisa membeli sepeda kembali dan bisa terus menabung. Sepulang dari Tanah Suci, Karyati tidak lagi berprofesi sebagai pemulung. Sudah ada keluarga yang merekrutnya sebagai tukang sapu dan cuci pakaian. Namun dia berjanji tidak akan meninggalkan salat dan mengajinya. (saksono)