Analis: Pasar Obligasi Berpotensi Koreksi Besar

Dampak Sentimen Global

Rabu, 02/10/2013

NERACA

Jakarta - Analis obligasi dari PT Penilai Harga Efek Indonesia, Fakhrul Aufa mengatakan, gejolak ekonomi global yang berpengaruh terhadap volatilitas di pasar modal juga berimbas pada pasar obligasi beberapa negara. Tidak terkecuali Indonesia yang tercatat sebagai negara “emerging market”.

Apalagi setelah adanya isu pengetatan stimulus yang akan dilakukan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) yang menyebabkan keluarnya dana-dana asing di pasar modal (capital outflow). “Sentimen ini menyebabkan terjadinya capital outflow sehingga juga membuat nilai tukar semua negara melemah terhadap dolar, “ujarnya di Jakarta kemarin.

Meski demikian, dirinya menilai, Indonesia menjadi yang terkoreksi paling besar. Sepanjang tujuh bulan pertama tahun ini, return pasar obligasi untuk Indonesia anjlok 17,8% dibanding negara Asia lainnya seperti Singapura dan China yang masing-masing mengalami penurunan sebesar 7,8% dan 3,1%.

Kemudian selain faktor eksternal, Indonesia juga dihantam oleh faktor fundamental dalam negeri sendiri, yaitu terkait inflasi akibat kenaikan bahan bakar minyak dan kenaikan suku bunga. oleh karena itu, bukan tidak mungkin peluang koreksi masih akan terjadi. “Tahun ini memang sedikit sulit, karena kita dihantam dari eksternal maupun internal.” jelasnya.

Apalagi, kata dia, volatilitas sampai akhir tahun masih akan tetap tinggi karena The Fed juga belum pasti kapan akan menghentikan stimulusnya. “Strateginya, sekarang lebih melihat ke momentum. Menurut saya, hingga bulan November adalah momentum yang tepat untuk menerbitkan obligasi sebelum sentimen tapering QE muncul kembali.” tuturnya.

Sementara pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Fransidy menambahkan, pasar obligasi yang rentan terhadap gejolak ekonomi global akan berdampak pula pada lesunya iklim pasar modal di dalam negeri. Terlebih inflasi juga menjadi momok yang turut mempengaruhi. Sehingga untuk saat ini memang pasar modal dalam negeri belum terlalu kondusif, “Praktik jual beli saham oleh investor asing juga juga perlu diperhatikan. Jika ada penarikan modal itu akan menurunkan nilai saham. Jadi memang pasar modal kita juga masih sangat dipengaruhi langkah-langkah pihak asing,” kata Budi.

Belum lama ini, pemerintah menerbitkan obligasi ritel ORI 010. Pemerintah mengklaim, obligasi ini banyak diserap investor ritel dengan total pemesanan investor dari Jakarta sebesar Rp 7,03 triliun. Kemudian disusul masyaratat Indonesia bagian Barat berhasil menyerap sebesar Rp5,42 triliun serta wilayah Indonesia bagian Tengah dan Timur hanya menyerap sebesar Rp1,26 triliun.

Adapun total investor yang memesan ORI010 saat ini sudah sebanyak 25.968 orang dengan rincian, di Jakarta sebanyak 12.565 orang, wilayah Indonesia Barat sebanyak 11.457 orang, dan dari wilayah Indonesia Tengah dan Timur baru sebayak 1.946 orang. (bani)