Pemerintah Klaim Paket Kebijakan Pemerintah Berhasil

Rabu, 02/10/2013

NERACA

Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengklaim bahwa empat paket kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah mulai menunjukkan tanda-tanda keberhasilannya. Hal tersebut ditunjukkan dari data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa terjadi deflasi pada September 2013 sebesar 0,35% dan neraca perdagangan Agustus 2013 surplus sebesar US$132 juta.

“Bisa saya bilang, politik empat paket kebijakan kita berhasil dengan baik,” kata Hatta di Jakarta, Selasa (1/10). Data BPS menunjukkan penurunan nilai impor migas yang cukup signifikan, yaitu dari US$4,14 miliar pada Juli 2013 menjadi US$3,67 miliar pada Agustus 2013, atau berkurang sebesar US$0,47 miliar. Hatta mengatakan, hal tersebut menandakan terjadinya penghematan besar pada konsumsi BBM Indonesia.

“Yang menggembirakan saya, mulai terjadi penurunan pada growth konsumsi BBM kita. Biasanya pertumbuhan 6-8%, sekarang berkurang. Walaupun masih berkendala pada melemahnya Rupiah. Tapi terjadi penghematan besar pada konsumsi BBM kita. Artinya, menaikkan harga BBM pada waktu itu di satu sisi memperbaiki fiskal kita, juga cara kita mengonsumsi BBM. Tapi yang lebih penting, ada kesadaran baru dari masyarakat kita bahwa penghematan itu penting,” jelas Hatta.

Menurut Hatta, kondisi demikian akan diikuti penurunan defisit transaksi berjalan pada kuartal tiga. Potensi surplus neraca perdagangan masih besar, karena harga komoditas di pasar internasional masih rendah. Jika ekonomi global sudah membaik, nilai ekspor Indonesia juga bisa lebih baik lagi akibat harga komoditas yang meningkat.

Terlalu besar

Namun Kepala BPS Suryamin menyoroti surplus volume perdagangan yang begitu besar, sementara nilai surplus volume itu begitu kecil. BPS mencatat, volume impor Indonesia untuk Agustus 2013 adalah sebesar 9,89 juta ton. Sementara volume ekspor pada bulan yang sama adalah sebesar 53,01 juta ton. Dengan begitu, Indonesia mengalami surplus volume perdagangan sebesar 43,11 juta ton.

“Bijih besi, karet, CPO, itu selalu mendominasi ekspor non-migas kita, sehingga berat. Impornya, turunan dari barang-barang itu. Padahal, kalau ekspornya bisa diolah jadi produk turunan yang lain, maka bisa tingkatkan nilai ekspor kita,” kata Suryamin.

Nilai ekspor Indonesia pada Agustus 2013 adalah US$13,16 miliar, sementara nilai impor pada bulan yang sama adalah sebesar US$13,03 miliar. Jadi dengan volume ekspor yang lima kali lebih besar dari volume impor, nilai perdagangan yang didapatkan hampir sama.

“Itu karena surplus value-nya sedikit, karena kebanyakan komoditi yang diekspor adalah komoditi yang tanpa proses atau diproses tahap awal. Sementara kita impor turunan yang prosesnya lebih panjang,” kata Suryamin.

Direktur Eksekutif Indonesia for Global Justice (IGJ) Riza Damanik menyampaikan kekecewaan yang sama. Nilai lebih yang didapat dari surplus volume ekspor Indonesia itu harusnya juga besar. “Ini mengindikasikan bahwa peningkatan ekonomi kita hari ini mengandalkan pada kekuatan ekspor bahan mentah tanpa nilai tambah. Model ini model ekonomi lama, model ekonomi barbar, karena negara masih andalkan ekspor bahan mentah,” kata Riza kepada Neraca.

Padahal, lanjut Riza, dalam keadaan dunia yang serba tak terbatas seperti sekarang ini, tindakan proteksi yang paling tepat itu adalah dengan menjual barang olahan, sehingga sumber daya alam yang terbatas tetap bisa terjaga tidak langsung habis, tapi nilai yang dihasilkan lebih besar,” jelas Riza.

Untuk diketahui, meskipun volume ekspor Indonesia trennya terus meningkat, tetapi belakangan Indonesia terus dihantui defisit neraca perdagangan. Volume ekspor Indonesia jauh lebih besar daripada impor, tetapi nilai ekspor justru lebih kecil dari impor. Sepanjang tahun 2012, Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan sebesar US$1,6 miliar. Sementara pada Januari sampai Agustus 2013, defisit neraca perdagangannya sudah mencapai US$5,6 miliar atau hampir empat kali lipat defisit sepanjang tahun 2012. [iqbal]