Tambak Percontohan Bangkitkan Kejayaan Udang

NERACA

Lampung-Propinsi Lampung merupakan salah satu sentra produksi udang nasional. Bahkan, pada tahun 2008, produksi udang Lampung mencapai 40% produksi udang nasional. Tetapi karena adanya serangan penyakit dan permasalahan manajemen, produksi udang Lampung mengalami penurunan.

“Sekarang inilah saatnya perudangan Lampung untuk bangkit. Ditetapkannya Lampung sebagai lokasi tambak percontohan, adalah upaya pemerintah untuk membangkitkan kembali kejayaan budidaya udang di Lampung,” ungkap Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Slamet Soebjakto, pada saat memberikan arahan pada acara Temu Lapang Budidaya Udang di Desa Berundung, Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan, seperti tertuang dalam keterangan resminya, Selasa.

Lebih lanjut Slamet mengatakan bahwa tambak percontohan di Lampung akan berlokasi di tiga Kabupaten yaitu Kabupaten Lampung Selatan, Pesawaran dan Lampung Timur. “Ini merupakan bagian dari program revitalisasi tambak tahun 2013 yang mencakuo 6 propinsi (Sumatera Utara, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat) dan berlokasi di 27 Kabupaten/Kota. Program revitalisasi tambak ini akan mampu mendorong peningkatan produksi, penyerapan tenaga dan peningkatan kesejahteraan,” tambah Slamet.

Data Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Lampung menunjukkan, potensi lahan budidaya air payau termasuk tambak udang di Lampung mencapai 73.021 hektar dan yang baru direalisasikan jadi tambak baru sekitar 35.158. Jumlah tambak tersebut pun tidak semuanya beroperasi atau banyak yang masih terbengkalai.

“Tambak-tambak yang terbengkalai atau dikelola secara tradisisonal dapat ditingkatkan produktivitasnya. Dan hal ini dapat dilakukan melalui penerapan teknologi yang memadai dan system pengelolaan atau manajemen tambak yang mumpuni. Melalui tambak percontohan, kedua hal ini diberikan oleh pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Budidaya udang dengan system tertutup dan pengelolaan tambak dengan system klaster, telah terbukti memberikan hasil yang lebih tinggi, baik dari segi kualitas maupun kuantitas produksi karena dengan system ini mampu mencegah penyebaran penyakit dan sekaligus mampu mengatur jadwal tebar benur,” sambung Slamet.

Di tengah meningkatnya permintaan dunia terhadap udang yang diikuti dengan naiknya harga udang, harus diikuti dengan peningkatan produksi udang untuk memenuhi kebutuhan udang tersebut. “Merebaknya penyakit Early Morning Syndrome (EMS) yang menerpa beberapa negara produsen udang, berdampak terhadap peningkatan permintaan udang Indonesia, karena produk udang Indonesia bebas dari EMS dan juga bebas residu,” ungkap Slamet.

BERITA TERKAIT

Permintaan Tinggi di Pasar Internasional Buka Pembudidaya Udang

NERACA – Presiden Joko Widodo menyebutkan permintaan udang baik dari pasar domestik maupun internasional sangat besar sehingga merupakan peluang usaha…

Gubernur Bangga APBD Jabar Dinilai Layak untuk Percontohan

Gubernur Bangga APBD Jabar Dinilai Layak untuk Percontohan NERACA Bandung - Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ahmad M Ridwan Kamil mengaku…

KKP Sebut Produksi Udang Alami Banyak Tantangan

NERACA Jakarta – Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Sjarief Widjaja mengungkapkan bahwa…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Dunia Usaha - Making Indonesia 4.0 Disebut Pemicu Ekspor Industri Manufaktur

NERACA Jakarta – Industri manufaktur konsisten memberikan kontribusi paling besar terhadap nilai ekspor nasional. Oleh karena itu, pemerintah semakin menggenjot…

Kebijakan Harus Fokus Pada Capaian Ketahanan Pangan

  NERACA Jakarta – Berbagai program terkait kebijakan pangan sudah disampaikan oleh dua pasang calon presiden dan calon wakil presiden,…

Penguatan Industri Hulu Jadi Salah Satu Prioritas Utama

NERACA Jakarta – Pemerintah menyiapkan langkah strategis perekonomian 2020-2024 yang dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui sektor manufaktur. Ada…