Pertumbuhan IKM Wilayah Timur Masih di Bawah 5%

Bahan Baku Andalkan dari Pulau Jawa

Rabu, 02/10/2013

NERACA

Jakarta - Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah Kementerian Perindustrian, Euis Seaedah mengungkapkan saat ini pertumbuhan industri kecil menengah (IKM) di wilayah Indonesia Timur masih rendah, karena mayoritas pasokan bahan baku masih ketergantungan dari Pulau Jawa.

"Pertumbuhan IKM di wilayah Timur di bawah 5% per tahun, Jika kita lihat beberapa daerah seperti, NTB 4%-5%, di Sulawesi 5%, di Papua 3-4%, masih kecil sekali.Masih kecilnya pertumbuhan IKM di Timur Indonesia karena mayoritas pasokan bahan baku masih berasal dari Pulau Jawa,"kata Euis usai membuka pameran 'Cahaya Timur Indonesia', di Plasa Pameran Kementerian Perindustrian, Selasa (1/10).

Lebih lanjut lagi Euis memaparkan untuk memutus ketergantungan itu, kami akan mengembangkan serat dan warna alam dari timur, terutama serat pisang dan serat-serat lainnya yang jika dikembangkan bisa ditenun jadi kain."Saat ini jumlah IKM secara nasional mencapai 3,9 juta unit. Dengan jumlah tersebut mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 9,14 juta orang, dari jumlah tenaga kerja tersebut 75% diantaranya berkembang di Jawa dan 25% di luar Jawa," papar dia.

Untuk itu, sambung Euis, pemerintah tengah mengencarkan program peningkatan daya saing IKM wilayah Timur Indonesia, sehingga diharapkan poersi IKM di luar Jawa akan naik menjadi 40% pada 2014 nanti.

"Beberapa program dan kegiatan yang telah dilaksanakan pemerintah dalam pengembangan potensi IKM di Indonesia khususnya di Timur Indonesia, diantaranya melalui program pengembangan IKM dengan pendekatan One Village One Product (OVOP) dan Klaster Industri, restrukturisasi mesin peralatan, program sumber daya manusi, promosi pameran baik di dalam negeri maupun di luar negeri, Kredit Usaha Rakyat (KUR) serta pembinaan IKM di daerah-daerah perbatasan dan tertinggal di Timur Indonesia," terang Euis.

Beberapa waktu lalu,Euis juga mengungkapkan kalau IKM wilayah timur akan terus digenjot. Pasalnya wilayah Indonesia Timur ini mempunyai potensi yang sangat besar dan sampai saat ini belum digarap dengan baik. Untuk itu Kementerian Perindustrian (Kemenperin) segera membentuk Tim Percepatan Pembangunan agar produknya bisa sejajar dengan wilayah lainnya.

Menurut Euis dengan besarnya potensi wilayah Timur yang belum digarap, Kemenperin yakin produk dari IKM di wilayah tersebut bisa memberikan kontribusi yang besar. Pasalnya, produk IKM dari sana seperti kerajinan tangan dan makanan mempunyai nilai tambah yang tinggi.

Dengan memanfaatkan potensi pariwisata di wilayah Timur, menurut Euis, produk IKM daerah setempat mampu diberdayakan. “Cara yang paling mudah adalah dengan membuka gerai di tempat transportasi seperti bandara untuk produk makanan khas daerah. Sedangkan tempat pariwisata akan dipergunakan untuk menjual kerajinan tangan daerah setempat,” paparnya.

Tugas tim percepatan pembangunan, lanjut Euis, menilai daerah mana yang akan diprioritaskan pemasaran produk IKM-nya. “Potensi pariwisata di Raja Ampat Papua sangat baik, jangan sampai IKM disana jalan di tempat atau bahkan mati oleh pemain besar dari luar negeri. Ini yang akan digarap oleh pemerintah,” ujarnya.

Euis menambahkan, pihaknya meminta para IKM wilayah Timur untuk lebih berinovasi dengan sumber daya alam yang ada dan menghasilkan produk yang bernilai tambah. “IKM di wilayah timur diharapkan mampu menciptakan produk yang memiliki nilai seni tinggi serta memiliki keunikan,” tandasnya.

Menteri Perindustrian, MS Hidayat, memaparkan akan terus mengembangkan IKM, karena terbukti tahan terhadap krisis. IKM memegang peranan sebagai penunjang dan pemerataan pertumbuhan ekonomi kerakyatan yang mandiri dan sangat strategis untuk mendukung ketersediaan pangan nasional. “Kebijakan dan program yang dilaksanakan untuk pengembangan IKM adalah penumbuhan wirausaha industri berbasis teknologi dan inovasi,” kata Hidayat.

Menurut MS Hidayat, program pengembangan IKM dilakukan guna penguatan kelembagaan, restrukturisasi mesin peralatan, keterkaitan dengan perusahaan besar, program SDM, promosi di dalam dan luar negeri, Kredit Usaha Rakyat, Pembinaan IKM di daerah perbatasan dan tertinggal di Wilayah Indonesia Timur.

Dia juga menjelaskan, hingga saat ini Kemenperin telah berhasil melatih 3.000 wirausaha industri mandiri, membentuk 37 OVOP di 10 provinsi, membina 4.000 sentra IKM di 200 Kabupaten/Kota, merestrukturisasi mesin 85 IKM, ekspor IKM kreatif senilai 7 miliar dolar AS, pendampingan IKM oleh 350 shindanshi, 800 TPL, 200 PFPP dan 30 tenaga desain, menghasilkan 7.000 merek, 20 desin industri, dan 75 hak cipta untuk IKM, tumbuhnya 400 perusahaan software dengan nilai pasar Rp 9 triliun (20% pasar lokal), melatih IKM Kapal Rakyat, Rumput Laut, dan Sagu di delapan lokasi daerah tertinggal dan perbatasan.

Hidayat juga mengatakan beberapa faktor pemungkin yang diperlukan dalam akselerasi industri diantaranya adalah perbaikan infrastruktur pendukung produksi dan distribusi, ketersediaan lahan kawasan industri terutama di Pulau Jawa, jaminan pasokan bahan baku dan sumber energi, penyelesaian hambatan investasi seperti divestasi pada industri pengolahan mineral, aturan terkait limbah B3, tata ruang RTRW, optimalisasi insentif fiskal, terbentuknya bank pembangunan Indonesia dan Lembaga Pembiayaan Khusus IKM.