Titik Terendah Kinerja Ekspor Non Migas

Rabu, 02/10/2013

Oleh: Eko Listiyanto

Peneliti INDEF

Salah satu perkembangan menarik dari update bulanan kinerja neraca perdagangan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Selasa 1 Oktober 2013 adalah menurunnya kinerja ekspor non migas bulan Agustus, baik dari sisi nilai maupun volume. Nilai dan volume ekspor non migas pada Agustus 2013 merupakan yang terendah sepanjang tahun ini, sebesar US$10,39 miliar dengan volume 49,29 juta ton. Padahal, dengan kontribusi terhadap total ekspor sebesar 82%, ekspor non migas merupakan penopang utama kinerja perdagangan Indonesia.

Dibandingkan dengan kinerja bulan lalu (Juli 2013), dari 5 komoditas utama penyumbang ekspor non migas hampir semuanya mengalami penurunan nilai ekspor lebih dari 10%. Hanya kelompok komoditas lemak dan minyak hewan/nabati yang penurunannya di bawah 10%, yaitu sebesar 4,3%. Sementara kelompok komoditas karet dan barang dari karet turun 25,5%; mesin/peralatan listrik -14,7%; bahan bakar mineral -13,1%, serta mesin-mesin/pesawat mekanik -10,3%.

Kinerja ekspor non migas yang mencapai titik terendah pada Agustus 2013 sedikit tertolong oleh kinerja impor non migas yang juga menurun tajam, dari US$13,28 miliar menjadi US$9,36 miliar atau turun 29,5% dibanding bulan lalu. Secara kumulatif neraca perdagangan sektor non migas pada Agustus masih mencatat surplus US$1,03 miliar. Namun, jika persoalan melemahnya ekspor non migas ini tidak segera diatasi, maka bisa jadi sektor perdagangan akan semakin terpuruk ke depan.

Setidaknya terdapat 3 faktor yang sangat mungkin menjadi penyebab melemahnya kinerja ekspor non migas hingga titik terendah pada Agustus ini, baik dari sisi fundamental maupun siklikal, yaitu:

Pertama, pelemahan kinerja produksi sektor industri. Dari komposisi penyumbang utama ekspor non migas selain dari komoditas primer (batubara, karet, dan minyak sawit mentah) terdapat kelompok ekspor hasil industri seperti mesin/peralatan listrik maupun pesawat mekanik yang kinerjanya menurun. Penurunan ini mengindikasikan adanya pelemahan kinerja di sektor industri, terutama yang berorientasi ekspor.

Kedua, dampak pelemahan rupiah terhadap US$. Depresiasi yang secara teori dapat meningkatkan ekspor malah tidak terjadi. Justru depresiasi rupiah berpengaruh terhadap penurunan kinerja produksi barang-barang ekspor Indonesia. Hal ini mengingat kandungan impor dalam produk-produk ekspor Indonesia yang cukup tinggi. Seiring pelemahan mata uang rupiah yang cukup tajam sepanjang Agustus 2013, impor barang modal dan bahan baku/penolong juga ikut menurun dari bulan sebelumnya. Penurunan impor barang modal dan bahan baku ini juga merupakan sinyal bagi penurunan kinerja ekspor non migas.

Ketiga, selain faktor fundamental, faktor siklikal yaitu libur hari raya lebaran yang jatuh pada Agustus 2013 lalu juga dapat berimplikasi pada kinerja ekspor non migas. Namun, hal ini harus divalidasi dengan update data berikutnya. Jika kinerja non migas di September masih tetap turun, maka dapat disimpulkan bahwa faktor fundamental lebih berpengaruh terhadap menurunnya kinerja ekspor non migas Agustus. Kita tunggu langkah-langkah pemerintah untuk segera bangkit dari titik terendah ekspor non migas saat ini.