Sentimen Deflasi, IHSG Lanjutkan Penguatan

Rabu, 02/10/2013

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan Selasa sore, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat 29,723 poin (0,69%) ke level 4.345,899. Sementara Indeks LQ45 melonjak 9,301 poin (1,30%) ke level 722,202. Indeks hanya melemah sebantar di awal perdagangan, setelah itu seharian bertahan di zona hijau. Posisi tertinggi yang bisa diraih indeks hari ini ada di level 4.379,681.

Serbuan aksi beli investor menjadi gambaran bila investor masih yakin terhadap industri pasar modal dalam negeri, meskipun tengah diserbu sentimen negatif terkait pemberitaan tutupnya pemerintahan Amerika Serikat (AS). Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, data ekonomi Indonesia yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan respon positif ke pasar saham sehingga menahan pelemahan indeks BEI lebih lanjut, “Neraca perdagangan Indonesia yang mengalami surplus dan deflasi di bulan September menjadi faktor pendorong indeks BEI menguat,”ujarnya di Jakarta, Selasa (1/10).

Disebutkan, dalam data yang dipublikasikan BPS, tercatat pada September 2013 terjadi deflasi sebesar 0,35%. Neraca perdagangan Indonesia Agustus 2013 mengalami surplus dari sisi nilai sekitar US$ 130 juta. Hal senada juga disampaikan analis HD Capital Yuganur Wijanarko, indeks BEI terdorong oleh sentimen positif dari data ekonomi domestik seperti bulan September 2013 yang mencatatkan deflasi dan berkurangnya defisit neraca perdagangan Indonesia, “Data-data itu membuat pasar saham tidak memperdulikan lagi masalah di AS mengenai shutdown' dan batas atas utang AS,”tandasnya.

Berikutnya, indeks BEI Rabu diproyeksikan masih akan bergerak menguat dan merekomendasikan beberapa saham yang dapat diperhatikan pada perdagangan selanjutnya diantaranya, Aneka Tambang (ANTM), Wijaya Karya (WIKA), Astra International (ASII), PT PP (PTTP).

Perdagangan kemarin berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 155.441 kali pada volume 3,716 miliar lembar saham senilai Rp 4,147 triliun. Sebanyak 132 saham naik, sisanya 105 saham turun, dan 102 saham stagnan. Bursa-bursa regional berhasil bertahan di zona hijau hingga akhir perdagangan. Penguatannya tidak terlalu tinggi, masih kalah oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Nipress (NIPS) naik Rp 1.150 ke Rp 12.300, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 950 ke Rp 35.950, Indocement (INTP) naik Rp 450 ke Rp 18.450, dan Semen Indonesia (SMGR) naik Rp 300 ke Rp 13.300.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 800 ke Rp 25.500, Bukit Asam (PTBA) turun Rp 350 ke Rp 12.400, Supreme Cable (SCCO) turun Rp 300 ke Rp 4.500, dan Bank Mayapada (MAYA) turun Rp 250 ke Rp 1.060.

Perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup menguat 60,526 poin (1,40%) ke level 4.376,702. Sementara Indeks LQ45 menanjak 15,804 poin (2,22%) ke level 728,705. Pelaku pasar sudah melakukan antisipasi terkait ditutupnya operasional pemerintah Amerika Serikat. Deflasi September yang dirilis BPS bisa menepis sentimen negatif dari AS dan membuat pelaku pasar terus berburu saham. Hampir seluruh indeks sektoral bisa menguat, hanya sektor tambang yang kemarin sudah naik tinggi kini harus turun.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 95.584 kali pada volume 2,198 miliar lembar saham senilai Rp 2,383 triliun. Sebanyak 136 saham naik, sisanya 88 saham turun, dan 68 saham stagnan. Bursa-bursa di Asia masih kompak menguat hingga sesi pertama. Pelaku pasar regional juga belum terpengaruh dengan sentimen dari AS.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Gudang Garam (GGRM) naik Rp 950 ke Rp 35.950, Nipress (NIPS) naik Rp 850 ke Rp 12.000, Indocement (INTP) naik Rp 500 ke Rp 18.500, dan Semen Indonesia (SMGR) naik Rp 450 ke Rp 12.450.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 850 ke Rp 25.450, Asahimas (AMFG) turun Rp 400 ke Rp 7.700, Siloam (SILO) turun Rp 350 ke Rp 10.050, dan Astra Agro (AALI) turun Rp 250 ke Rp 19.250.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka turun 1,21 poin atau 0,03% menjadi 4.314,96. Sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 0,31 poin (0,04%) ke level 712,59. Head of Research Valbury Asia Securities, Alfiansyah menambahkan sentimen inflasi, defisit neraca Indonesia dan kebuntuan batas atas utang AS merupakan kombinasi kuat dalam pergerakan indeks BEI dan nilai tukar domestik."Sentimen positif yang mengimbangi adalah pemerintah merencanakan paket kebijakan ekonomi pada Oktober yang akan menindaklanjuti paket kebijakan yang dikeluarkan sebelumnya," kata Alfiansyah.

Bursa regional, diantaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 347,18 poin (1,50%) ke level 22.859,86, indeks Nikkei-225 naik 81,33 poin (0,56%) ke level 14.538,00, dan Straits Times menguat 24,19 poin (0,76%) ke posisi 3.192,44. (bani)