Waspadalah, Hepatitis C Masih Mengancam Indonesia

Sabtu, 05/10/2013

Hepatitis C salah satu penyakit yang ditakuti di seluruh dunia. Setiap tahunnya 3-4 juta penduduk dunia terinfeksi virus hepatitis C. Bahkan prevalensi hepatitis C di Indonesia terus meningkat yaitu berkisar 3-4% atau mencapai 6-8 juta jiwa.

NERACA

Di Indonesia, prevalensi hepatitis C merupakan penyakit hati menular yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis C dan dikenal dengan istilah wabah terselubung (silent disease), yaitu penyakit yang tidak memiliki gejala khusus. Masa inkubasi hepatitis C antara 2-6 minggu dan sekitar 80% penderita tidak menunjukkan gejala apapun pada fase awal hepatitis C.

“Kebanyakan penderita tidak menyadari jika dirinya telah terinfeksi virus hepatitis C. Gejala yang tidak khas dari hepatitis C seperti mual dan lelah sering dianggap penderita sebagai masuk angin, maag atau terlalu lelah beraktivitas, sehingga mereka cenderung mengabaikannya. Seseorang bisa saja telah terinfeksi virus hepatitis C selama bertahun-tahun, namun tidak menyadarinya dan hidup seperti layaknya orang sehat,” Dr. Femmy Nurul Akbar SpPD KGEH dari RS Pondok Indah-Pondok Indah.

Menurutnya, perjalanan hepatitis C menjadi kronik berlangsung antara 10-15 tahun. Penderita yang memasuki fase infeksi akut biasanya akan mengalami demam, kelelahan, menurunnya nafsu makan, mual, muntah, sakit pada perut, warna urine gelap, sindrom seperti flu, serta ikterik (kuning).

Hepatitis C umumnya menular melalui kontak darah dengan kasus terbanyak ditemui di kalangan pengguna narkotika yang menggunakan jarum suntik, yaitu sebesar 60%. Penularan lain yaitu melalui transfusi darah (10%), kontak seksual (15%), okupasional (4%), dan hemodialisa atau cuci darah, pembuatan tato dan transmisi dari ibu ke fetus (1%).

“Virus hepatitis C dapat bertahan pada permukaan benda-benda disekelilling pada suhu ruangan selama 16-72 jam, sehingga dapat saja ditularkan melalui penggunaan bersama alat cukur, sikat gigi dan gunting kuku,” tuturnya.

Orang yang memiliki risiko tinggi terinfeksi virus hepatitis C antara lain pengguna narkotika suntik, pasien yang menjalani hemodialisis (cuci darah), pasien HIV positif, pasien yang menjalani transplantasi atau transfusi darah sebelum 1992, orang yang pekerjaannya berhubungan dengan produk darah, memiliki tato atau tindik, lahir dari ibu yang terinfeksi virus hepatitis C.

Penanganan Hepatitis C

Diagnosa hepatitis C ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang meliputi tes darah, screening serologi antibodi HCV (virus hepatitis C), pemeriksaan ultrasonografi hati untuk melihat apakah hati berfungsi dengan normal. Jika ditemukan kerusakan fungsi hati, maka orang yang bersangkutan positif terinfeksi hepatitis C.

Selain itu, diagnosa juga dapat dilakukan melalui pemeriksaan virologi untuk memeriksa HCV RNA secara kualitatif dan kuantitatif. Jika pada pemeriksaan anti HCV hasilnya positif dan pada pemeriksaan HCV RNA kualitatif dan kuantitatif hasilnya juga positif, maka si pasien dipastikan menderita hepatitis C.

Penanganan hepatitis C dilakukan dengan penyuntikan Interferon alfa, pemberian ribavirin yaitu obat antivirus yang digunakan bersama interferon alfa atau terapi triple dimana pasien mendapat 1 suntikan dan 2 obat minum.

Sekitar 20% penderita hepatitis C sembuh dan 80% berkembang menjadi sirosis hati (pengerasan hati). Dibutuhkan waktu 20-40 tahun dari hepatitis C akut menjadi sirosis hati.

“Sirosis ditandai dengan kerusakan sel-sel hati oleh jaringan-jaringan ikat, diikuti dengan parut dan sering diiringi dengan pembentukan ratusan benjolan. Hati yang mengalami sirosis terlihat benjol-benjol, penuh parut, berlemak dan berwarna kuning jingga dan dapat membuat hati mengecil, berkerut dan keras,” papar Dr. Chaidir Aulia SpPD KGEH dari RS Pondok Indah-Pondok Indah.

Tindakan medis terakhir yaitu melalui operasi TIPS (Transjugular intrahepatic portosystemic shunts), yaitu prosedur pengalihan aliran darah menggunakan pipa shunting dari pembuluh darah di kerongkongan ke pembuluh darah yang lebih darah.

“Pemeriksaan rutin terhadap hati penting dilakukan untuk mendeteksi apakah hati masih berfungsi sebagaimana mestinya sehinga bisa menjaga fungsinya secara optimal. Selain itu, dengan pemeriksaan hati akan diketahui apakah seseorang menderita hepatitis C, penyakit hati seperti sirosis atau kanker hati sehingga dapat dilakukan penanganan sedini mungkin,” papar DR. dr. Rino Alvani Gani SpPD KGEH dari RS Pondok Indah – Pondok Indah.

Hati menjalankan lebih dari 500 fungsi, beberapa di antaranya adalah mengontrol kadar lemak, asam amino dan glukosa dalam darah, memerangi infeksi, membersihkan partikel dan infeksi dalam darah termasuk bakteri di dalamnya, menetralisis dan menghancurkan obat-obatan serta toksin, serta membuat macam-macam enzim dan protein yang sangat berperan pada macam-macam reaksi kimia dalam tubuh, misalnya peran dalam pembekuan darah dan perbaikan jaringan yang rusak.

Dr. Yanwar Hadiyanto, CEO RS Pondok Indah Group, mengatakan, tingginya kasus hepatitis C di Indonesia mendorong kami untuk menyediakan pelayanan terbaik untuk menangani hepatitis C dan penyakit lain yang disebabkan olehnya seperti sirosis dan kanker hati. Salah satu bentuk komitmen kami adalah dengan mendirikan Gastrointestinal, Liver & Pancreas Center di RS Pondok Indah – Puri Indah. Klinik ini menyediakan berbagai solusi penanggulangan penyakit saluran cerna, hati, pancreas juga empedu yang ditunjang oleh perangkat medis mutakhir.