Regulator Imbau Bumiputera Jalankan Bisnis dengan Baik

Selasa, 01/10/2013

NERACA

Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 untuk serius menjalankan bisnisnya dengan baik. Apalagi mengingat adanya ancaman terkait berkurangnya likuiditas akibat AJB Bumiputera 1912 berbentuk mutual (usaha bersama).

Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non Bank OJK, Ngalim Sawega mengatakan, pergantian direksi yang telah dilakukan beberapa waktu lalu, diharapkan bisa memberi dampak positif bagi AJB Bumiputera 1912 untuk menjalankan fungsinya yang sesuai dengan tata kelola perusahaan yang baik.

“Dengan bentuk mutual, akan mempersulit pemegang peranan penting untuk mengambil keputusan, ini susah walaupun diwakili dengan Badan Perwakilan Anggota (BPA),” ujar Ngalim di Jakarta, Senin (30/9). Lebih lanjut dia mengatakan, agar Direksi baru AJB Bumiputera 1912 benar-benar memperhatikan dan mengambil keputusan secara bijak terkait posisinya saat ini.

Terlebih AJB Bumiputera 1912 tetap memilih mutual, maka perlu memperhatikan adanya kesinambungan pembayaran premi, mengingat solvabilitas merupakan indikator penting bagi Bumiputera untuk terus berekspansi,” jelas Ngalim.

Dalam hal ini, Ngalim juga menjelaskan, OJK memperhatikan dan menganalisa, bagaimana nanti Bumiputera kedepannya. “Ini menjadi perhatian bersama. Kami harap komisaris dan tim bisa bersama menjalankan perusahaan dengan baik agar Bumiputera menjadi optimal,” imbuhnya.

Sebagai regulator, tambah Ngalim, OJK mengaku telah memberi imbauan terhadap Bumiputera untuk memikirkan keberadaan perusahaan serta kewajiban yang harus dipenuhi. Bahkan, menurut Ngalim, OJK juga meminta untuk memikirkan nasib perusahaan dalam jangka panjang.

“Untuk jangka pendek, mungkin tidak ada masalah, persoalan jangka panjangnya, kita perlu menyiapkan langkahnya dengan baik,” ujar Ngalim. Dia juga menilai, OJK perlu melihat sisi kelembagaannya akan seperti apa, menurut dia, tidak ada komposisi ideal.

Lalu dia mengatakan, pihaknya juga harus mempercepat penyelamatan, agar Bumiputera ini bisa tetap bertahan. OJK memberi kepercayaan kepada Bumiputera untuk memperbaiki business plan yang dimiliki direksi baru maksimal tiga tahun. \"OJK kasih restu ke manajemen baru tapi dengan syarat nantinya jangan sampai terjadi fraud,\" kata Ngalim.

Satu-satunya

Mantan Komisaris Independen, AJB Bumiputera 1912, Irvan Rahardjo menjelaskan, Bumiputera merupakan satu-satunya asuransi berbentuk mutual di Indonesia, yang didirikan sejak tahun 1912 oleh 3 orang guru “kaoem boemiputera” Yakni, Dwidjasewoyo, Adimidjojo dan Hadisoebroto. Perusahaan sempat merajai bisnis asuransi jiwa Indonesia hingga awal 90-an.

Namun, pangsa pasar terus merosot hingga sekitar 4,5%, dengan kondisi keuangan dan kesehatan (profitabilitas dan solvabilitas) negatif yang terus memburuk hingga tidak memenuhi ketentuan PP 81/2008 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian pasal 1 tentang ketentuan permodalan dan KMK 504/KMK.06/2004 tentang kesehatan keuangan bagi Perusahaan Asuransi Bukan Perseroan Terbatas hingga akhir tenggat waktu di 2012.

“Bapepam-LK memberi relaksasi terhadap Bumiputera dengan KMK 504 tersebut, hal itu dilakukan untuk memenuhi ketentuan KMK 424/KMK.06/2003 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Reasuransi,” kata Irvan, akhir pekan lalu.

Dia juga menjelaskan, KMK 504/2004 telah dicabut dengan PMK 53/KMK.010/2012 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Reasuransi yang tidak lagi memberikan dispensasi bagi Bumiputera dan memperlakukan sama dengan bentuk badan usaha PT. Usaha memperbaiki tampilan laporan keuangan publikasi dilakukan dengan mekanisme Financial Reinsurance Aggregate Excess of Loss sebesar 12,5 Triliun rupiah yang bersifat terbatas dan sementara atas arahan Bapepam LK. [sylke]