Ancaman Jalur Perdagangan

Selasa, 01/10/2013

Seperti kita ketahui bahwa defisit neraca perdagangan Indonesia hingga triwulan II-2013 memperlihatkan kondisi yang belum membaik, bahkan hingga triwulan III-2013 diperkirakan dalam kondisi yang sama dengan sebelumnya. Dampak krisis dari jalur perdagangan tampaknya jauh lebih mematikan karena menyangkut sendi-sendi perekonomian, terutama di sektor riil.

Bagaimanapun, jika pemerintah tidak mengantisipasi dengan baik, efek dari jalur perdagangan ini akan menurunkan tingkat produksi yang kemudian berdampak pada pengangguran. Defisit neraca perdagangan yang kita alami tujuh triwulan berturut-turut mestinya bisa menjadi sinyal berbenah diri sebelum semuanya menjadi terlalu terlambat.

Apalagi belakangan ini ramai dibicarakan oleh kalangan pengamat ekonomi soal defisit fiskal dan defisit neraca perdagangan yang saling berkaitan antara satu dan lainnya. Keterkaitan antara kedua model defisit ini dikenal sebagai twin deficit (defisit kembar). Artinya, secara teoritis bila terjadi kebijakan fiskal yang ekspansif (defisit fiskal) maka nilai tukar riil mata uang domestik (rupiah) akan terapresiasi, sehingga daya saing perdagangan akan menurun dan memperburuk defisit neraca perdagangan (current account deficit).

Fenomena twin deficit memang tidak akan terjadi apabila institusi fiskal di suatu negara tanggap dalam merespon setiap surplus/ defisit fiskal dan membuat kebijakan yang sesuai dengan kondisi neraca fiskal negara mereka masing-masing. Kebijakan fiskal yang tidak responsif akan menyebabkan defisit fiskal mempengaruhi tingkat suku bunga dan akan berdampak pada nilai tukar.

Perubahan nilai tukar inilah yang rentan menyebabkan defisit neraca perdagangan. Artinya, sebuah negara akan lebih rentan mengalami twin deficit jika negara tersebut memiliki tingkat keterbukaan (degree of openness) yang tinggi dan terus menerus melakukan kebijakan fiskal, ekspansif tanpa menyesuaikan dengan kondisi perekonomian yang ada.

Berbeda dengan kondisi negara high income (Singapura dan Brunei), middle income (Malaysia) tidak terlihat terjadi twin deficit, karena di negara-negara tersebut dapat menutupi defisit mereka dengan menggunakan surplus yang didapat pada periode-periode sebelumnya.

Karena itu, di negara middle income yang mengalami twin deficit, diperlukan sinkronisasi antara kebijakan fiskal dan moneter, sedangkan di negara low income stabilitas kondisi sosial politik dalam negeri juga diperlukan untuk mewujudkan stabilitas perekonomian. Sedangkan di negara high income, walaupun tidak mengalami twin deficit, diversifikasi ekonomi perlu dilakukan agar tidak terlalu bergantung kepada perdagangan internasional karena berdasarkan penelitian sejumlah pakar moneter, current account memberi pengaruh yang besar kepada anggaran pemerintah.

Sebab, defisit fiskal dan defisit neraca perdagangan (current account deficit) dianggap dapat mengganggu kestabilan kondisi perekonomian suatu negara dalam jangka panjang (Edwards, 2001). Jadi untuk menghindari jebakan twin deficit, Indonesia perlu konsisten memperhatikan pentingnya diversifikasi ekonomi, dan sinkronisasi yang harmonis antara kebijakan fiskal dan moneter.

Krisis membuat angka pengangguran melonjak drastis, dan itu dimulai dengan penurunan laju produksi. Artinya, penurunan laju industri akan punya implikasi jangka panjang serius. Dan kini, pertumbuhan global tengah dalam bayang-bayang resesi sehingga ancaman dari jalur perdagangan perlu disikapi dengan serius.

Saat ini pemerintah tampaknya belum merasa khawatir dengan perkembangan ini. Karena secara umum, perekonomian kita lebih ditentukan permintaan domestik. Seperti India, peranan ekspor tak terlalu penting. Sementara China bertumpu pada investasi dan ekspor sehingga perlambatan global begitu memukul mereka. Namun, munculnya defisit neraca perdagangan dalam tujuh triwulan terakhir menjadi sinyal serangan krisis global dari jalur perdagangan. Jika tak waspada, bisa-bisa kita terseret lebih dalam ke jalur resesi, seperti kecenderungan global belakangan ini.