Obligasi Ritel Makin Diminati

Capai 68,56% dari Target

Selasa, 01/10/2013

NERACA

Jakarta-Selain memiliki kupon atau bunga di atas deposito yang cukup menarik, investasi obligasi ritel (ORI) dijamin oleh negara dan bebas risiko gagal bayar. Hal itulah yang disebut sebut menjadi daya tarik dari penawaran obligasi ritel 010 atau ORI 010. Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang, Kementerian Keuangan mengklaim, penawaran ORI 010 telah mencapai 68,56% dari jumlah yang ditargetkan.

Kasubdit Pengelolaan Portofolio SUN, Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang, Kementerian Keuangan, Agung Galih Satwiko mengatakan, masyarakat semakin percaya pada produk investasi ORI. Terbukti, setiap tahunnya investor ritel domestik selalu antusias menyerap obligasi ritel yang diterbitkan pemerintah.

Pihaknya mencatat, hingga akhir pekan kemarin (27/9), jumlah nominal ORI 010 yang sudah dipesan sebanyak Rp 13,71 triliun. Pemerintah sendiri menargetkan sebesar Rp20 triliun. “ORI 010 yang telah dipesan berasal dari Jakarta sebesar Rp 7,03 triliun, wilayah Indonesia Barat, kecuali Jakarta Rp 5,42 triliun, dan wilayah Indonesia Tengah dan Timur sebanyak Rp 1,26 triliun.” jelasnya di Jakarta, Senin (30/9).

Dari data tersebut, menurut dia, semakin banyak masyarakat yang beli ORI dalam nominal Rp 100 juta ke atas dan nominal Rp 5 juta - 100 juta semakin sedikit. Adapun total investor yang telah memesan ORI 010 tercatat sebanyak 25.968 orang. “Itu tandanya masyarakat semakin percaya pada ORI,” ujarnya.

Rinciannya, kata dia, sebanyak 12.565 orang dari Jakarta, 11.457 orang tercatat dari wilayah Indonesia Barat kecuali Jakarta, dan 1.946 orang dari wilayah Indonesia Tengah dan Timur. Dengan total agen penjual sebanyak 20 agen yang ditunjuk pemerintah, di mana tiga di antaranya telah mencapai target.

Dijelaskan Agung, penerbitan ORI sendiri dilandasi masih tingginya peran investor asing yang tercatat masih sebesar 30% di goverment bond. Ke depan, pemerintah menginginkan untuk mengurangi porsi asing tersebut sehingga ketika asing keluar dari market diharapkan pasar tidak terlalu bergejolak.“Pasar government bond 30% dimiliki asing, begitu juga dengan saham dan lain-lain yang masih didominasi asing. Oleh sebab itu ketika investor asing keluar, maka semua market anjlok dan asing memilih megang rupiah,” jelasnya.

Investasi pada obligasi ritel ini, sambung dia, memiliki beberapa keuntungan dibanding instrumen investasi lainnya. Di antaranya, memperoleh kupon yang lebih tinggi dari pada rata-rata tingkat suku bunga deposito BUMN, dan dijamin Undang-Undang. Memiliki tingkat bunga tetap dan berpotensi memperoleh keuntungan (capital gain), dapat dipinjamkan/dijaminkan kepada pihak lain, dapat diperdagangkan di pasar sekunder, dan bebas risiko gagal bayar.

Sementara untuk risiko kerugiannya antara lain apabila ada pemilik menjual ORI di pasar sekunder pada saat harganya turun (<100%). Selain itu, risiko likuiditas juga bisa terjadi apabila sebelum jatuh tempo pemilik mengalami kesulitan dalam menjual ORI di pasar sekuder pada harga pasar yang wajar.

Tercatat, ORI memiliki spesifikasi yang berbeda dengan investasi lainnya. Khusus untuk ORI010 nilai nominal per unit yang dipatok pemerintah Rp1.000.000 dengan minimum pemesanan Rp5.000.000 dan kelipatan Rp5.000.000. Sementara untuk maksimum pemesanan Rp3 miliar. Obligasi ini memiliki tingkat kupon 8,50% pertahun, dan dibayarkan setiap bulan. Minimum holding periode (MHP) dibatasi hingga 1 kali pembayaran kupon, dimana tanggal kupon pertama jatuh pada 15 November 2013. Adapun masa penawaran obligasi ini dimulai sejak 20 September 2013 sampai dengan 4 Oktober 2013. (lia)