KKP: Perikanan Siap Hadapi Pasar Bebas

Selasa, 01/10/2013

NERACA

Jakarta – Terkait diberlakukannya pasar bebas ASEAN tahun 2015 mendatang, dunia usaha tetap optimis Indonesia bisa memainkan peranan penting melalui pengembangan sektor kelautan dan perikanan, dan kelautan yang efektif. Terutama dengan memanfaatkan jaringan regional Asean, pasar bebas Asean 2015 justru menjadi peluang bagi kepentingan nasional maupun regional. Demikian disampaikan Menteri Perikanan dan Kelautan Sharif C. Sutardjo, pada jumpa pers, di Jakarta, Senin (30/9).

Potensi perikanan Indonesia yang sangat besar menjadi salah satu modal menghadapi persaingan global. Di mana data FAO (2010) menunjukkan volume produksi perikanan tangkap Indonesia menempati posisi nomor 3 dunia, sedangkan hasil budidaya menempati posisi 7 besar. Potensi tersebut menunjukkan bahwa sektor perikanan menjadi sumber devisa negara serta memegang peranan penting dalam penyediaan pangan khususnya protein hewani. “Sektor perikanan selain menjadi penyedia lapangan kerja bagi jutaan orang juga menjadi tumpuan pendapatan bagi sekitar 9 juta nelayan dan pembudidaya ikan," katanya.

Untuk menghadapi pasar bebas Asean 2013, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tetap konsisten menata kembali pola pembangunan kelautan dan perikanan dengan mengadopsi konsep pembangunan berkelanjutan yang lebih menekankan pada konsep Ekonomi Biru. Konsep Blue Economy akan bertumpu pada pengembangan ekonomi rakyat secara komprehensif guna mencapai pembangunan nasional secara keseluruhan. “Salah satu implementasinya, dengan pengendalian perikanan tangkap serta pengembangan perikanan budidaya. Pada sisi lain, sasaran utamanya adalah peningkatkan nilai tambah produk perikanan melalui program industrialisasi kelautan dan perikanan,” ujarnya.

Untuk mendukung program industrialisasi, KKP telah melakukan sistem pemetaan logistik dan distribusi yang terpadu atau Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN). SLIN merupakan langkah strategis dalam memberikan jaminan terhadap ketersediaan bahan baku ikan, stabilitas harga, ketahanan pangan serta mendorong pertumbuhan industri pengolahan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat. SLIN tahap pertama di PPN Kendari dan PPN Brondong. Kedua pelabuhan perikanan ini dijadikan kawasan uji coba karena kedua wilayah ini dinilai mampu mewakili sektor hulu dan hilir komoditas perikanan di kawasan Timur Indonesia. Tak diragukan lagi, kalau Sulawesi merupakan sentra komoditas hasil perikanan di Indonesia Timur. “Logistik dan distribusi menjadi kata kunci dalam proses industrialisasi perikanan,” tandasnya.

Dorongan Kadin

Di samping itu, Kadin juga ikut mendorong kesiapan perikanan nasional. “Pasar bebas sudah tak terhindarkan, namun sekarang bagaimana kita bisa memanfaatkan hal itu menjadi peluang bagi kepentingan nasional maupun regional,” ungkap Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perikanan dan Kelautan Yugi Prayanto yang juga merupakan Presiden Junior Chamber International (JCI) Senate Indonesia.

Menurut Yugi, pengendalian perikanan tangkap, pengembangan perikanan budidaya, serta meningkatkan nilai tambah produk perikanan adalah sasaran yang harus dicapai untuk menghadapi persaingan global. “Dalam wadah Asean, Indonesia justru tidak harus menutup diri karena sebenarnya sektor perikanan kita bisa lebih kompetitif, sehingga kita dapat memanfaatkan potensi yang ada untuk memenangkan pasar,” tandasnya.

Alih-alih bersikap pesimis, kata Yugi, pihaknya mengaku terus mendorong kerjasama antar lembaga strategis baik dengan organisasi dunia usaha asing, pemerintah Indonesia ataupun pemerintah asing di negara-negara Asean untuk bersatu menegembangkan sektor perikanan dan kelautan. “Kita harapkan semua pihak bisa sepakat untuk mengembangkan sektor ini, sehingga perikanan dan kelautan Asean bisa diperhitungkan di kancah yang lebih besar seperti Asia hingga kawasan lainnya,” tegasnya.

Selain bekerjasama dalam transfer teknologi satu sama lain, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dalam lingkup Asean terus mendorong masuknya investasi untuk bidang perikanan dan kelautan baik yang sifatnya Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA). “Jika pasarnya saja sudah bebas, sisi positifnya kita bisa menarik investasi dengan pola investasi perikanan terpadu seperti joint venture (usaha patungan),” jelasnya.

Hal tersebut sangat menguntungkan bagi peningkatan industrialisasi perikanan di Indonesia. Sehingga, pada kelanjutannya bisa menimbulkan integrasi dari hulu ke hilir, mulai dari usaha penangkapan ikan sampai ke industri pengolahannya. Kadin juga mengapresiasi program SLIN yang dicanangkan oleh KKP. Di mana program tersebut dapat memperkuat sinergitas sistem produksi hulu-hilir dan mengharapkan Pemerintah terus membangun gudang pendingin (Cold Storage) di sentra-sentra pendaratan ikan khususnya daerah terisolasi dan pulau-pulau kecil. “Konektivitas antar wilayah Indonesia harus terus diperbaiki guna menunjang konektivitas Indonesia dengan negara-negara di kawasan Asean. Hal ini penting bagi akses pasar dan pendistribusian produk hasil perikanan,” tukasnya.

Pada kesempatan yang sama, Presiden Junior Chamber International Senate Asean Dominic Chu mengatakan, kunjungannya kali ini ke Indonesia adalah untuk menindaklanjuti kerjasama pengembangan ekonomi dari sisi swasta untuk negara-negara Asean, khususnya untuk sektor perikanan dan kelautan yang sangat potensial bagi Asean. "Kita harapkan ada kesepakatan-kesepakatan untuk kemajuan bersama. Kita mencoba menyatukan visi ke depannya seperti apa, Oleh karenanya kebijakan dari setiap negara untuk sektor perikanan harus bisa dipahami lebih jauh," kata dia. Sebelum Mayarakat Ekonomi Asean itu berlaku, kata dia, pihaknya menginginkan agar dunia usaha di kawasan akan lebih siap bekerja sama satu sama lain untuk memajukan Perikanan Asean.