PPI, Kebangkitan Industri Nasional Menghadapi Pasar Global - Pameran Produksi Indonesia 2013 di Bandung

NERACA

Bandung - Saat ini berbagai upaya telah dilakukan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk terus mendorong peningkatan daya saing produk industri nasional. Selain itu juga, ada beberapa langkah yang dilakukan Pusat Komunikasi Publik, untuk lebih mensosialisasikan kepada masyarakat kemampuan industri dalam negeri dan mengoptimalkan penggunaan produk dalam negeri adalah melalui promosi yang dikemas dalam Pameran Produksi Indonesia (PPI) dengan memilih tema “Inovasi dan Kreativitas Kunci Kemandirian Industri”.

Pameran tersebut diselenggarakan selama empat hari, 26 - 29 September 2013, dan dibuka untuk umum mulai pukul 10.00 - 20.00 WIB di Trans Convention Center, The Trans Luxury Hotel, Bandung. PPI ini diikuti sebanyak 126 peserta dari berbagai daerah, dan dibuka secara resmi oleh Menteri Perindustrian. Sebenarnya pameran ini, lebih menyasar pada pemenuhan produk-produk kebutuhan konsumsi rumah tangga, sehingga yang ditampilkan merupakan produk unggulan seperti industri furniture kayu, rotan, bambu, industri garmen, TPT, tas dan aksesoris; industri kosmetik dan herbal; industri elektronika dan telematika; industri alat transportasi, alat kesehatan, dan alat mesin pertanian industri makanan dan minuman serta produk-produk berkualitas lainnya.

Penyelenggaraan PPI 2013 merupakan bagian dari program kebijakan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN) yang sasaran dan targetnya untuk menjangkau potensi belanja konsumsi domestik sebagai captive market, yaitu belanja pemerintah yang bersumber dari APBN/APBD, dan pengeluaran konsumsi rumah tangga yang nilainya cukup besar.

Peningkatan penggunaan produk-produk industri dalam negeri melalui penerapan regulasi dan program stimulan seperti kampanye P3DN di setiap lini kegiatan ekonomi. Dalam Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2009 tentang Penggunaan Produk Dalam Negeri Dalam Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah secara tegas mengamanatkan bahwa instansi pemerintah wajib memaksimalkan penggunaan hasil produksi dalam negeri dalam pengadaan barang/jasa yang dibiayai oleh APBN/APBD. Terutama untuk produk yang nilai capaian tingkat kandungan dalam negerinya telah mencapai minimum 25% atau 40% termasuk Bobot Manfaat Perusahaan (BMP).

Sebagai implementasi Inpres tersebut, Menteri Perindustrian mengeluarkan Peraturan Menteri Nomor 49/M-IND/PER/05/2009 tentang Pedoman Penggunaan Produk Dalam Negeri Dalam Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Melalui Inpres dan Peraturan Menteri tersebut, Pemerintah akan menjadi pionir dalam optimalisasi penggunaan produk dalam negeri yang nantinya diharapkan akan diikuti oleh masyarakat luas.

Dalam sambutan pembukaan pameran Menteri Perindustrian yang di bacakan oleh Wakil Menteri Perindustrian, Alex SW Retraubun, memaparkan, untuk menghadapi pasar global nanti, pelaku industri harus bisa menumbuhkan kecintaan masyarakat Indonesia terhadap produk-produk dalam negeri. Wamenperin mengharapkan terlebih lagi, di tengah implementasi Free Trade Agreement (FTA), penguatan daya saing industri dan pengamanan pasar produk dalam negeri sangat diperlukan. Berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah untuk mendongkrak penggunaan produk-produk dalam negeri, baik melalui penerapan berbagai macam regulasi teknis dan tata niaga untuk pengamanan pasar dalam negeri.

\\\"Pemberlakuan MEA 2015 akan menjadi tantangan karena jumlah penduduk Indonesia sangat besar sehingga akan menjadi tujuan pasar bagi produk-produk negara ASEAN lainnya. Pemerintah bersama dunia usaha dan masyarakat harus membangun sinergi untuk mengamankan pasar dalam negeri dari masuknya produk impor yang tidak memenuhi standar,\\\" kata Alex pada acara pembukaan PPI di Bandung.

Hari Ketiga

Antusiasme pengunjung ke acara Pameran Produksi Indonesia (PPI) 2013 semakin tinggi. Hari pertama Kamis (26/9) mencapai 1029 orang, hari kedua, Jum’at (27/9), pengunjungnya mencapai 1.723 orang. Sementara hari ketiga, Sabtu (28/9) hingga jam 16.00 WIB jumlah pengunjungnya mencapai 1.825 orang. Artinya jumlah tersebut semakin meningkat dan diyakini hari ketiga ini jumlah pengunjung akan menembus 2.000 orang lebih hingga stand ditutup pukul 20.00 WIB nanti, mengingat hari ini malam minggu. Pengunjung tidak hanya berasal dari Kota Bandung dan sekitarnya, tetapi juga berasal dari Jakarta, Malang, bahkan dari Malaysia, Brunei Darussalam dan Australia yang memang sedang berburu barang-barang berkualitas dari Indonesia.

Meriah dan tingginya jumlah pengunjung tak lepas dari gencarnya sosialisasi kegiatan dan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kecintaan kepada produk dalam negeri. Harus diakui, kebanggaan kepada produk dalam negeri semakin tinggi. Hal ini terlihat dari berbagai komentar pengunjung, seperti yang disampaikan salah satu pengunjung dari Malang, Budi Sulistio (41). Budi mengaku kaget dan baru menyadari bahwa produk Indonesia banyak yang berkualitas, itu ditemukannya di acara PPI 2013 Bandung.

“Aku sedang ada kegiatan bisnis di Bandung, mendapatkan informasi ada pameran, jadi penasaran. Wah, luar biasa, yang seperti ini harusnya terus gencar dilakukan, karena faktanya banyak produk Indonesia yang tak kalah bahkan lebih bagus dibandingkan produk impor,” tegasnya.

Pengunjung pameran pun berharap acara ini semakin sering dilakukan, dengan skala yang lebih besar dan waktu yang lama. Seperti yang disampaikan H. Yusuf (45) dari Jakarta. “Kalau bisa, acaranya satu minggu dan jumlah peserta pamerannya semakin banyak, sehingga kami bisa memilih-milih dengan leluasa,” ujarnya.

Pameran ini sendiri tidak mentargetkan jumlah penjualan, tetapi lebih kepada upaya menumbuhkan kecintaan masyarakat untuk menggunakan produk karya anak bangsa. Dengan upaya tersebut diyakini dapat mendorong kemandirian industri dalam negeri.

Sementara, salah satu peserta pameran yaitu produsen Batik Sekar Jati Jombang, Ririn Asih Pindari, mengaku senang dengan acara PPI ini. Dia pun berharap acara seperti ini sering dilakukan di berbagai kota besar di Indonesia. “Kementerian Perindustrian sering mengundang kami. Ini tentu sangat membantu untuk terus berkembang. Saya berharap kegiatan seperti ini sering dilakukan dan lebih besar lagi,” tegasnya.

Ririn pun mengaku dia menargetkan sekitar 30 hingga 50 pembeli baru untuk semua produknya. “Pembeli kami memang khusus, ini kan batik tenun asli yang bahannya berasal dari alam. Yang datang ke sini pun banyak pelanggan lama. Di sini aku targetkan dapat 50 pelanggan baru, sudah banyak itu, karena proses produksinya lama. Saat ini ada 20 orang pengrajin batik di Jombang yang bekerja. Satu orang paling cepat dapat memproduksi satu kain saja per bulannya,” jelasnya.

Hari ketiga acara PPI 2013 di Bandung diisi oleh acara coaching dan talkshow oleh Komunitas fotografi Preanger Amateur Fotograafen Vereeneging (PAF) pada jam 13.00-14.00 WIB. Selanjutnya, ada acara yang diisi oleh Asosiasi Kopi Spesial Indonesia (AKSI) jam 16.00 WIB. Selain hiburan dan berbelanja, ada kegiatan edukasi yang sangat bermanfaat, diberikan panitia kepada pengunjung.Suasana pameran pun sangat meriah. Diiringi alunan musik dan disertai berbagai acara yang menghibur, pengunjung dan peserta pameran semakin dimanjakan.

Hari Terakhir

Penyelenggaraan PPI 2013 berjalan lancar dan sukses. Hal tersebut terlihat dari antusisme para pengunjung dan respon para peserta. Berdasarkan data, thingga hari terakhir, yakni hari Minggu (29/9) hingga pukul 17.00 WIB mencapai 2.798 orang dan diperkirakan jumlah pengunjung akan menembus 3.300 orang lebih hingga pameran ditutup pukul 20.00 WIB.

Pengunjung tidak hanya berasal dari Kota Bandung dan sekitarnya, tetapi juga berasal dari Jakarta, Malang, Kudus, Semarang, Surabaya, Cirebon dan bahkan dari Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura dan Australia yang memang sedang berburu barang-barang berkualitas dari Indonesia.

Sementara itu, sebagian besar peserta mengaku puas sudah dilibatkan dalam penyelenggaraan PPI 2013, karena selain dapat mempromosikan produk-produk unggulannya, juga mendapatkan tambahan pelanggan baru. PPI 2013 diikuti sebanyak 114 peserta terdiri dari 4 unit Kemenperin, 3 BUMN industri strategis, dan 107 peserta dari berbagai daerah seperti Surabaya, Jogja, Medan, Semarang, Kudus, Cirebon, Jakarta, serta Bandung dan sekitarnya.

PPI 2013 tidak mentargetkan besarnya nilai transaksi atau omset yang didapat dari transaksi penjualan, tetapi lebih ditujukan pada peningkatan kecintaan masyarakat menggunakan produk dalam negeri.

Pada hari terakhir penyelenggaraan PPI 2013, Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Ansari Bukhari untuk kedua kalinya meninjau langsung arena pameran dan berdialog dengan beberapa peserta untuk mengetahui seberapa jauh manfaat pameran ini untuk mempromosikan produk-produk inovasi terbaru mereka. Pada umumnya peserta menginginkan adanya kesinambungan agenda pameran PPI karena para pelanggan maupun pembeli baru akan mengagendakan kunjungan ke pameran-pameran industri yang sudah terjadwal tetap.

Sekjen Kemenperin mengatakan, PPI 2013 di Bandung ini merupakan pameran produk-produk unggulan berkualitas berbasis inovasi dan kreativitas sehingga dapat meningkatkan nilai tambah bagi industri dalam negeri dan diharapkan dapat mengurangi masuknya impor barang-barang sejenis dari luar negeri. Selain itu, pameran ini juga dapat dijadikan forum tukar-menukar informasi antar peserta untuk mengetahui selera pasar dan sekaligus untuk memperkenalkan kemampuan industri dalam negeri khususnya produk-produk yang dipamerkan dalam PPI 2013. Antusias dan banyaknya pengunjung dalam PPI mengindikasikan bahwa kesadaran masyarakat sudah mulai tumbuh, tercermin dari ketertarikannya mendalami informasi dan membeli barang-barang yang dipamerkan.Mengakhiri kunjungannya di PPI 2013, Sekjen Kemenperin mengharapkan semua pihak dapat menyatukan visi, niatkan hati, menggunakan produksi dalam negeri.

Related posts