Industri Alat Kesehatan Ikut Loyo

Dampak Pelemahan Rupiah

Selasa, 01/10/2013

NERACA

Jakarta - Industri alat kesehatan (alkes), ikutan terkena dampak yang cukup besar dari pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini. Pasalnya, hampir 80% produk yang dijual merupakan barang impor.Selain itu, menurut data dari Gabungan Pengusaha Alat Kesehatan (Gakeslab), pelaku usaha di industri alkes hampir 80 % berbentuk perseroan komanditer (CV).

Kondisi tentu memberatkan kalangan pemain alkes yang notabene banyak pemain kecil untuk membayar selisih kurs akibat pelemahan rupiah.PT. SOHO Global Medika, sebagai perusahaan yang menjual alat-alat kesehatan mengaku pelemahan rupiah ini menyulitkan penjualannya.

Direktur Sales & Marketing SOHO Global Medika Obed Fukliang mengungkapkan, untuk meyiasati kemungkinan dampak terburuk dari pelemahan rupiah, pihaknya telah melakukan serangkaian cara."Kami telah melakukan beberapa hal seperti, buffering stock, negosiasi dengan principal, evaluasi harga dan rencana untuk mendirikan perusahaan manufaktur di Indonesia dalam 3-5 tahun ke depan," kata Obed di Jakarta, Senin (30/9).

Menurut Obed, saat ini pemain manufaktur alkes baru sekitar 15-20% berdasarkan klasifikasi alatnya. Sedangkan, untuk alkes dengan teknologi canggih baru sekitar 5% produksi dalam negeri.

Hal inilah yang membuat dampak pelemahan rupiah sangat terasa. Dalam hal evaluasi harga, Obed menuturkan pihaknya dalam waktu dekat belum ada rencana untuk menaikkan harga."Untuk alkes yang sifatnya habis pakai, kemungkinan akan naik 10% tapi untuk alkes dengan teknologi advanced tidak naik," tambah Obed.

PT. SOHO Global Medika merupakan perusahaan alat kesehatan yang telah berdiri sejak 2012 lalu dan merupakan anak perusahaan dari salah satu perusahaan farmasi terkemuka, SOHO Global Health.

Biarpun tergolong baru, PT SOHO Global Medika merupakan perusahaan alkes pertama yang memiliki showroom USG di Indonesia dan menggunakan perawat sebagai tenaga penjualnya.

Sebelumnya Pasar alat kesehatan diyakini oleh industri farmasi memiliki prospek pertumbuhan bisnis yang lebih tinggi dibanding pasar obat di mana saat ini telah bertumbuh sekitar 20% sampai 25% dengan nilai bisnis yang mencapai Rp4,9 triliun.

Direktur PT Soho Global Medika, salah satu anak perusahaan farmasi terkemuka, Obed F.L mengatakan tren tingginya pertumbuhan pasar alat kesehatan telah terasa sejak 5 -7 lalu."Pasar alat kesehatan saat ini memiliki pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding pasar obat yang sekarang hanya sekitar 10%,"katanya.

Menurut Obed, tingginya pertumbuhan pasar alat kesehatan seiring dengan pertumbuhan teknologi dan meningkatnya penyakit gaya hidup.

Melihat peluang tersebut, lanjut dia, banyak perusahaan alat kesehatan berupaya berebut "kue" melalui serangkaian inovasi. Apalagi saat ini jumlah perusahaan alat kesehatan sudah melebihi jumlah perusahaan yang bergerak di bidang produksi obat-obatan.

Secara market share, pasar alat kesehatan baru mencapai sekitar 10% dari total nilai bisnis pasar farmasi sebesar Rp49 triliun. Soho sendiri ingin memperkuat posisi di peta persaingan alat kesehatan dengan meluncurkan alat pendeteksi macular pigment level bermerek MPSII yang perusahaan klaim pertama di Indonesia. "Kami mendapat hak istimewa untuk menjadi distributor tunggal MPS II yang merupakan buatan perusahaan asal Inggris Elektron Technology," paparnya.

MPS II adalah alat yang dapat mengukur berapa besar pigmen makula yang dimiliki sesorang sebagai langkah pencegahan kasus kebutaan age-related macular degeneration (AMD).

Perusahaan menargetkan penjualan alat kesehatan itu sebanyak 25--30 unit hingga akhir tahun."Saat ini kami masih mengurus perizinan untuk memasarkan MPS II secara komersial. Setelahnya kami targetkan minimal di setiap provinsi ada alat ini,"katanya.