Tingkatkan Permintaan Mancanegara

Oleh : Tumpal Sihombing

Presiden Direktur BondRI

Daya beli rupiah kini melemah konsisten sepanjang tahun 2013. Dalam konteks ekonomi positif, apa yang sebaiknya dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi problema ini secara efektif dalam jangka pendek? Pemerintah tidak selamanya dapat memanfaatkan ranah moneter via cadangan devisa untuk mempertahankan daya beli rupiah. Berdasarkan data terkini, dan berdasarkan analisa BondRI terhadap data terkini yang ada, kesimpulan sementara menyatakan bahwa jika US$/Rp konsisten bertahan di kondisi terdepresiasi di kisaran 11.500-13.500, maka tinggi tingkat probabilitas bahwa cadangan devisa yang ada kini tidak mampu bertahan lebih dari 7(tujuh) bulan ke depan. Oleh karena itu, menggunakan cadangan devisa untuk mempertahankan daya beli rupiah adalah suatu proposisi yang sangat mahal dan terlalu mewah dalam kondisi saat ini.

Boleh jadi memang efektif dalam jangka pendek, namun sangat tidak strategis jika menilai cost-benefit analysis-nya dalam jangka menengah. Kurs valas adalah salah satu pengubah di dalam valuasi makroekonomi yang berkategori sangat sulit dikendalikan secara domestik. Selain itu, ada juga variabel harga minyak dunia yang volatilitasnya berdampak langsung pada laju inflasi domestik. Ketiga faktor ini (kurs, harga minyak, dan inflasi) adalah variabel yang masuk dalam komponen penilaian makroekonomi yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kondisi fundamental perekonomian.

Konsekuensi logis bentuk perekonomian terbuka yang diterapkan oleh negara kita mengakibatkan kinerja makroekonomi/mikroekonomi/fiskal/moneter akan menjadi sangat dinamis seiring dengan volatilitas nilai ketiga peubah tersebut di pasar internasional. Hal itu tidak dapat dihindari dan yang dapat dilakukan oleh tim perumus kebijakan perekonomian Indonesia adalah mempersiapkan corrective action plan dan merumuskan contigency plan jika skenario yang unfavorable terjadi.

Eksistensi kedua plan ini merupakan suatu hal yang sangat diharapkan keberadaannya oleh para investor asing dan domestik apabila pemerintah masih ingin mempertahankan sovereign creditworthiness yang secara kuantitatif telah berada di figur dekat dengan angka Rp 3000 Triliun (total bonds + loans; government + corporates). Dari total figur tersebut, bagian valas lah yang membuat nilainya selalu dinamis sesuai dengan perubahan kurs valas yang terjadi di pasar global.

Jika rupiah menguat relatif terhadap valas, maka figur total utang tersebut menurun. Jika rupiah melemah, maka total utang menggelembung. Dari kondisi defisit fiskal yang masih berkelanjutan, kepercayaan pasar domestik maupun global terhadap terhadap rupiah yang menurun, akan menggelembungkan total utang luar negeri (rupiah + valas).

Bagaikan vicious circle ini akan terus berputar dan semakin melemahkan rupiah serta sovereign creditworthiness dalam jangka pendek. Apapun bentuk kebijakan yang dihasilkan oleh tim perumus kebijakan ekonomi pemerintah saat ini dalam upaya memutus lingkaran setan yang ada, sebaiknya itu berkategori jangka pendek dan bukan melulu mengandalkan cadangan devisa. Saat ini kita tidak punya kemewahan yang berlebih untuk bisa bertahan dalam jangka menengah, apalagi jangka panjang.

Dari sisi mikroekonomi, ada baiknya pemerintah kembali menggenjot lebih intens lagi aktivitas pemasaran produk Indonesia di mancanegara, khususnya bagi negara tujuan ekspor dalam rangka meningkatkan minat para produsen domestik yang memproduksi barang berkualitas ekspor. Secara umum, kurs yang melemah sebenarnya merupakan suatu prekondisi kondusif bagi para eksportir untuk memproduksi lebih, karena mancanegara juga membeli produk kita dengan harga relatif lebih murah.

Namun apa yang terjadi saat ini merupakan kondisi yang tidak baik, dimana rupiah walau sudah melemah signifikan, namun tetap saja permintaan rendah. Artinya walau produk dalam negeri kita saat ini telah dinilai relatif sangat murah oleh para foreign buyers, namun eksportir kita masih tetap kekurangan order dan revenue bagi industri dalam negeri. Dalam konteks mikroekonomi, salah satu penyebab utamanya adalah lemahnya sisi permintaan dari negara tujuan ekspor, baik utama maupun tidak. Dari sisi fiskal, jika tingkat permintaan ini dapat digenjot dalam jangka pendek bagi agregat industri, maka persoalan defisit fiskal dapat berpotensi mengalami reduksi.

BERITA TERKAIT

Dian Swastika Bangun PLTU di Kalteng - Tingkatkan Rasio Elektrifikasi

NERACA Gunung Mas, Kalteng - PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA) di bawah naungan grup Sinarmas membangun pembangkit listrik tenaga…

Permintaan Kredit di 13 Sektor Meningkat

  NERACA   Jakarta - Bank Indonesia melalui surveinya mencatat permintaan kredit pada 13 sektor ekonomi meningkat sepanjang triwulan III…

Deltamas Bukukan Penjualan Rp 811 Miliar - Permintaan Lahan Meningkat

NERACA Jakarta – Perusahaan pengembang kawasan industri, PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) mencatatkan penambahan marketing sales sepanjang sembilan bulan pertama…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Nilai Tambah dalam Ekonomi dan Industri

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Lama sudah kita menenggelamkan diri dalam persoalan ekonomi. Kegiatan dan proses…

Belum Seutuhnya Merdeka

Oleh: Dhenny Yuartha Junifta Peneliti INDEF Sudah 72 tahun Republik ini memproklamasikan diri sebagai negara merdeka. Namun, seiring nafas perubahan…

Optimalisasi LKM/LKMS dalam Pembangunan Daerah

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Semenjak diundangkannya Undang – Undang No 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro …