Nilai Emisi Obligasi Capai Rp 6,7 Triliun

Selasa, 01/10/2013

NERACA

Jakarta – Di semester kedua tahun ini, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan ada sembilan perusahaan yang akan menerbitkan obligasi dengan nilai total Rp6,7 triliun, “Emisi obligasi dalam pipeline BEI ada sembilan perusahaan," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Hoesen di Jakarta, kemarin.

Disebutkan, kesembilan perusahaan tersebut di antaranya, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) dengan Obligasi Berkelanjutan I Tahap I senilai Rp2,1 triliun, PT Duta Anggada Realty (DART) dengan Obligasi Berkelanjutan I Tahap I senilai Rp600 miiar, PT Surya Artha Nusantara Finance dengan Obligasi Berkelanjutan I Tahap I senilai Rp500 miliar.

Kemudian ada PT Siantar Top Tbk. (STTP) dengan Obligasi I senilai Rp250 miliar, PT Siantar Top Tbk (STTP) dengan Sukuk Mudharabah I senilai Rp250 miliar dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dengan Obligasi Berkelanjutan I Tahap I senilai Rp1 triliun. Selanjutnya, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) dengan Obligasi Berkelanjutan I Tahap I senilai Rp700 miliar. PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) dengan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Tahap I senilai Rp300 miliar dan PT Gading Development Tbk (GAMA) dengan Obligasi I senilai Rp1 triliun.

Sebelumnya, Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan menilai pasar obligasi Indonesia saat ini masih relatif stabil, meskipun sempat ada ancaman pembalikan modal terkait rencana penghentian stimulus moneter oleh Bank Sentral AS (The Fed), “Kepemilikan asing paling tidak untuk 'domestic bond' kita relatif stabil. Memang waktu itu sempat turun, ada keluar dan masuk, tapi relatif stabil," ujar Pelaksana tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro.

Menurut dia, pasar obligasi Indonesia belum terlalu rentan, tetapi saat ini arus modal masuk dan keluar di negara berkembang Asia masih bergantung pada kondisi global, terutama modal dari AS.

Namun demikian, lanjut Bambang, minat investor asing kepada pasar obligasi Indonesia yang terlalu tinggi dapat membuat "rate" menjadi rendah dan rentan terhadap gejolak yang saat ini masih terjadi di negara maju. Sebelumnya, Bank Pembangunan Asia (ADB) dalam rilis terbarunya menyebutkan adanya prospek baik untuk pasar obligasi lokal di negara berkembang Asia Timur, namun ada potensi yang harus diwaspadai terkait kebijakan moneter AS, pertumbuhan ekonomi lambat di Asia dan potensi pembalikan modal. (bani)