Sentimen Global Masih Bayangi Pergerakan Indeks BEI - Dampak Perekonomian AS

NERACA

Jakarta – Kondisi suram perekonomian Amerika Serikat (AS) menjadi penghalang laju indeks ke zona hijau. Pasalnya, perekonomian AS yang dinilai alami shutdown membuat pelaku pasar modal di Indonesia khawatir. Aksi jualpun menjadi pilihan para investor baik asing maupun domestik.

Pada penutupan Senin (30/9), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 107,54 poin atau 2,4% ke level 4.316,17. Volume perdagangan 3,7 miliar saham senilai Rp4,9 triliun dengan asing melakukan net sell mencapai Rp788 miliar.

Menurut Kepala riset Trust Securities Reza Priyambada, kondisi suram perekonomian AS membayangi pergerakan indeks dan membuat pelaku pasar tidak nyaman. Akibatnya banyak investor domestik mengikuti langkah investor asing untuk lakukan aksi jual.

Dia menambahkan bahwa situassi yang tidak kondusif saat ini membuat pelaku pasar mengamankan diri karena kekhawatiran yang berlebihan terhadap kondisi perekonomian AS. Selain mencemaskan pemerintah AS yang kian berpotensi shutdown dalam 17 tahun terakhir, masalah penambahan limit kartu kredit juga menambah runyam kondisi perekonomian AS.“Di Amerika saat ini sedang ada rencana penambahan limit kartu kredit, karena memang di sana pemakaian kartu kredit cukup tinggi. Namun, hingga saat ini belum menemukan titik temu yang menyebabkan makin tidak jelas kondisinya. Dampak kondisi tersebut mempermainkan nilai saham kita”, ujar dia saat dihubungi Neraca (30/9).

Selain itu, sikap berlebihan para pelaku pasar juga memiliki andil terhadap turunnya indeks. Menurut dia, isu tapering off yang sebelumnya ditunda dan akan dilaksanakan pada 30 Oktober mendatang, tidak perlu ditakuti. Dia menyatakan bahwa hal tersebut belum ada kejelasannya, sehingga pelaku pasar diharapkan tidak berlebihan menyikapinya.“Dari stimulus yang digelontorkan sekitar US$85 miliar, belum diketahui ke Indonesia berapa banyak, namun sudah dinilai akan berdampak buruk pada Indonesia, padahal kalau diperhatikan negara emerging market seperti kita akan diincar untuk investasi”, katanya.

Sehingga menurut dia yang perlu diperhatikan saat ini adalah perhatikan fundamental emiten yang ada. Karena dia menilai merosotnya indeks bukan akibat fundamental perusahaan yang buruk melainkan sentimen yang menggerus nilai saham. “Seperti Indofood, dengan menurunnya pertumbuhan sduah dianggap kinerjanya buruk. Padahal itu pengaruh dari pelemahan rupiah”, jelas dia.

Cermati Fundamental

Mencermati pergerakan saham dan fundamental emiten menjadi jalan keluar yang tepat agar bisa bersikap wajar tanpa panik menghadapi isu negatif dari luar. Sehingga, dengan mencermati saham yang ada dia berharap pelaku pasar tidak lagi mengambil langkah ikut-ikutan, terutama investor domestik yang saat ini sedang diusahakan jumlahnya bertambah.

Sementara terkait pembelian kembali (buyback) saham seperti yang dilakukan MNCN secara kumulatif saat ini dinilai tidak akan banyak membantu. Pasalnya, pembelian cukup sedikit yang hanya membuat MNCN menambah jumlah kepemilikan sahamnya. Selain itu, tekanan aksi jual investor juga cukup besar. Sehingga ketika nanti harga naik lagi, emiten yang lakukan buyback yang menikmatinya.“Makanya, emiten buyback, kita juga ikutan beli supaya kita nanti merasakan keuntungan juga. Namun, meskipun tidak terlalu banyak, buyback masih bisa membantu menaikan nilai saham emiten”, ujar dia.

Dengan kondisi yang masih belum jelas saat ini, dia mengingatkan agar melakukan trading jangka pendek. Karena masih ada bebrapa sentimen yang ditunggu pasar seperti sentimen deep selling, inflasi, dan rupiah yang masih melemah.

Sebagai informasi, pada penutupan Senin (30/9), sebanyak 194 saham melemah, 63 saham menguat dan 78 saham stagnan. Pelemahan terdalam terjadi pada saham sektor indutri dasar 4,6%, disusul saham sektor manufaktur 2,7%. Indeks LQ45 melemah 3,5%, indeks JII turun 3,4% dan indeks ISSI turun 2,5%. Untuk indeks SMinfra18 turun 3,4% dan IDX30 ke Rp3,7%. (nurul)

Related posts