Inflasi Naik, IHSG Kembali Terkoreksi

Selasa, 01/10/2013

NERACA

Jakarta – Diluar perkiraaan, derasnya aksi jual investor asing memicu pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin awal pekan ditutup melemah 107,543 poin (2,43%) ke level 4.316,176. Sementara Indeks LQ45 menukik 26,067 poin (3,53%) ke level 712,901.

Analis HD Capital, Yuganur Wijanarko mengatakan bahwa sentimen negatif dari AS yakni terkait batas atas utangnya (debt ceiling) dan "shutdown" aktivitas ekonomi AS mendorong aksi jual saham berlanjut."Secara teknikal, sentimen AS itu membatalkan kenaikan IHSG ke level 4.505--4.580 poin dan menciptakan penurunan kembali dibawah 4.400 poin," kata dia di Jakarta, Senin (30/9).

Dia merekomendasikan agar pelaku pasar untuk melakukan beli saham secara moderat. Beberapa saham yang dapat diperhatikan diantaranya Media Nusantara (MNCN), Bumi Serpong Damai (BSDE), Telekomunikasi Indonesia (TLKM), PT Timah (TINS).

Sementara itu, Equity Analyst PT Sinarmas Sekuritas, Christandi Rheza Mihardja memperkirakan indeks BEI Selasa akan bergerak melemah ke level 4.255--4.353 poin, “Perdagangan akan dipengaruhi oleh data 'household spending' Jepang yang diperkirakan naik. Dari AS, mengenai anggaran negara tahun 2014 akan diumumkan nanti malam," paparnya.

Selain itu, lanjut dia, dari Indonesia fluktuasi saham akan dipengaruhi oleh data inflasi yang diperkirakan naik dan neraca perdagangan Indonesia yang masih defisit. Pada perdagangan kemarin, pelaku pasar khawatir akan ancaman shutdown pemerintah AS sehingga banyak yang memilih untuk keluar dari lantai bursa. Saham-saham di sektor industri dasar jatuh paling dalam.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 131.823 kali pada volume 3,742 miliar lembar saham senilai Rp 4,968 triliun. Sebanyak 63 saham naik, sisanya 194 saham turun, dan 78 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia bergerak mixed cenderung melemah. Hanya bursa saham China yang masih mampu melenggang di zona hijau. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Nipress (NIPS) naik Rp 450 ke Rp 11.150, Chandra Asri (TPIA) naik Rp 4o0 ke Rp 3.900, Acset (ACST) naik Rp 325 ke Rp 2.850, dan Bank Mayapada (MAYA) naik Rp 260 ke Rp 1.310.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.300 ke Rp 35.000, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 1.200 ke Rp 26.300, Indocement (INTP) turun Rp 1.000 ke Rp 18.000, dan Unilever (UNVR) turun Rp 800 ke Rp 30.150.

Perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup melemah 107,543 poin (2,43%) ke level 4.316,176. Sementara Indeks LQ45 menukik 26,067 poin (3,53%) ke level 712,901. Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 131.823 kali pada volume 3,742 miliar lembar saham senilai Rp 4,968 triliun. Sebanyak 63 saham naik, sisanya 194 saham turun, dan 78 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Nipress (NIPS) naik Rp 450 ke Rp 11.150, Chandra Asri (TPIA) naik Rp 4o0 ke Rp 3.900, Acset (ACST) naik Rp 325 ke Rp 2.850, dan Bank Mayapada (MAYA) naik Rp 260 ke Rp 1.310.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.300 ke Rp 35.000, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 1.200 ke Rp 26.300, Indocement (INTP) turun Rp 1.000 ke Rp 18.000, dan Unilever (UNVR) turun Rp 800 ke Rp 30.150.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka turun 38,21 poin atau 0,86% menjadi 4.385,51. Sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 9,75 poin (1,32%) ke level 729,22, “Mayoritas bursa Asia dibuka melemah, termasuk indeks BEI. Pasar mengantisipasi kemungkinan tidak tercapainya kesepakatan antara Senat dan Kongres terkait APBN AS serta potensi tidak dinaikannya 'debt ceiling' AS," kata analis Samuel Sekuritas, Benedictus Agung.

Bewnedictus Agung menambahkan kontrak investasi kolektif (Exchange Traded Fund/ETF) Indonesia yang ada di bursa AS juga mengalami pelemahan. ETF Indonesia di bursa AS kembali melemah 2,6% pada akhir pekan lalu.

Namun demikian, lanjut dia, potensi "window dressing" di kuartal III 2013 diharapkan dapat membatasi pelemahan indeks BEI. Sementara itu, Head of Research Valbury Asia Securities, Alfiansyah dalam risetnya memaparkan bahwa investor juga masih dihadapi dalam kecemasan kebijakan pemerintah dalam mengatasi defisit perdagangan dan neraca berjalan Indonesia.

Dalam pekan ini, papar Alfiansyah, pasar akan bereaksi menyikapi hasil data ekonomi Indonesia untuk bulan Agustus yang akan diumumkan pemerintah. Spekulasi bisa terjadi dipasar dalam menanggapi ini karena pemodal khawatir nilai impor Indonesia kembali meningkat seperti pada Juli.

Bursa regional, diantaranya indeks Hang Seng melemah 302,45 poin (1,30%) ke level 22.904,59, indeks Nikkei-225 turun 318,86 poin (2,16%) ke level 14.441,49, dan Straits Times melemah 25,75 poin (0,81%) ke posisi 3.184,28. (bani)