Libatkan Semua Pihak Untuk Advokasi Sanitasi dan Air Minum

KSAN 2013

Sabtu, 05/10/2013
Demi meningkatkan kepedulian terhadap kondisi sanitasi dan air minum, sinergi 3 sektor, mulai dari pihak pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta hingga para mitra seperti LSM, lembaga donor, maupun lembaga akademisi akan menjadi kekuatan “super” yang mendorong edukasi dan advokasi air minum dan sanitasi kepada masyarakat secara signifikan. NERACA Sanitasi dan air minum merupakan hal yang saling berkaitan. Penyediaan layanan sanitasi layak sangat tergantung dengan ketersediaan air yang layak juga. Sementara untuk mendapatkan air minum aman diperlukan upaya penanganan sanitasi yang baik. Sanitasi yang buruk dapat menurunkan kesehatan seseorang. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pekerjaan Umum tahun 2011, masih terdapat 45% masyarakat yang belum mendapatkan akses air minum aman dan sebesar 44% masyarakat belum memiliki akses sanitasi layak. Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mencapai Millenium Development Goals (MDGs), yaitu menurunnya jumlah penduduk yang belum mempunyai akses air minum dan sanitasi dasar sebesar 50% pada tahun 2015. Namun demikian, bagi daerah-daerah dengan wilayah pedesaan relatif luas, berpenduduk miskin relatif tinggi dan mempunyai kapasitas fiskal rendah, pada umumnya kemampuan mereka sangat terbatas, sehingga memerlukan dukungan finansial untuk membiayai investasi yang dibutuhkan. Investasi itu dalam bentuk sarana dan prasarana, maupun investasi non-fisik yang terdiri dari manajemen, teknis dan pengembangan sumber daya manusia. Realita tersebut telah melahirkan kesadaran dari berbagai pihak, khususnya perusahaan, baik itu perusahaan milik negara ataupun swasta. Perhatian tersebut pun dicurahkan sebagai wujud tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan sekitar atau lebih dikenal denganCorporate Social Responsibility(CSR). Ya, keterlibatan dunia usaha dalam melaksanakan usaha-usaha kesejahteraan sosial melalui CSR menjadi bukan hanya penting, tetapi esensial.Dalam suatu kesempatan, praktisi dan akademisi CSR & Social Entrepreneurship, Dr. Maria R Nindita menuturkan bahwa demi menciptakan program CSR yang berkelanjutan, kolaborasi antara tiga sektor dalam pelaksanaan program tanggung jawab sosial perusahaan harus dilaksanakan. “Tiga sektor yang dimaksud adalah pemerintah, swasta, dan organisasi sektor tiga (OST), seperti universitas, yayasan, perkumpulan, dan organisasi nirlaba lain,” ujar dia. Dalam rangka memperluas pengetahuan mengenai sanitasi dan air minum di Indonesia serta mengajak peran aktif semua pihak dalam kegiatan pembangunan sanitasi dan air minum, Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL) Nasional akan kembali menggelar Konferensi Sanitasi dan Air Minum (KSAN) yang diselenggarakan pada 29-30 Oktober di Balai Kartini, Jakarta. Selain bertujuan untuk meningkatkan perhatian khalayak ramai terhadap pentingnya sanitasi dan air minum, acara KSAN yang merupakan agenda rutin 2 (dua) tahunan ini juga dimaksud untuk mendorong peran serta aktif seluruh pelaku dalam menjadikan pembangunan air minum dan sanitasi sebagai prioritas. Direktur Permukiman dan Perumahan, Bappenas Nugroho Tri Utomo mengatakan, kegiatan KSAN ini merupakan salah satu upaya nyata pemerintah dalam meningkatkan kepedulian semua pihak terhadap kondisi sanitasi dan air minum, mulai dari pihak pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta hingga para mitra seperti LSM, lembaga donor, maupun lembaga akademisi. Selain itu, keterlibatan masyarakat umum dan sekolah-sekolah juga menjadi salah satu agenda penting dalam KSAN 2013 ini. “Selain diharapkan bisa menjadi advokasi efektif untuk membangun kondisi sanitasi dan air minum, kegiatan ini juga diharapkan dapat menciptakan sinergi yang kuat antara semua pihak sehingga nantinya pembangunan sanitasi dan air minum di Indonesia bisa berjalan semakin baik lagi,” terang Nugroho yang juga selaku Ketua I Pokja AMPL Nasional, dalam Rapat Koordinasi Steakholder KSAN di Kementerian PPN/Bappenas, belum lama ini. Menurut Nugroho, sinergi di antara berbagai pihak ini akan menjadi kekuatan yang mendorong edukasi dan advokasi air minum dan sanitasi kepada masyarakat. Selain itu, keterlibatan para mitra juga akan menjadi bagian penting bagi kesuksesan penyelenggaraan KSAN 2013. “Dukungan penuh para mitra tentunya akan sangat membantu kami dalam menyukseskan kegiatan ini dan mendorong penyebarluasan pemahaman mengenai sanitasi dan air minum di Indonesia. Kami berharap KSAN 2013 bisa memberikan dampak yang positif melalui sosialisasi isu-isu sanitasi dan air minum di Indonesia,” ungkap Nugroho. Acara KSAN 2013 akan didukung oleh 9 kementerian atau lembaga negara yang merupakan anggota Pokja AMPL Nasional yaitu, Kementerian Perencanaan/Bappenas, KemenPu, KemenKes, KemenDagri, KemenLH, KemenPera, Kemen Perindustrian, Badan Pusat Statistik, KemenDiknas. “Penyehatan lingkungan tidak bisa berjalan sendiri. Oleh karena itu, kami bersinergi dengan banyak pihak demi memastikan tersedianya akses sanitasi yang layak bagi masyarakat,” ujar Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman, Kementerian Pekerjaan Umum, Djoko Mursito Adapun pihak mitra, LSM dan swasta yang mendukung ialah Aqua, World Vision Indonesia, Indonesia Bertutur, AusAid, USAid, High Five, Palyja, Aerta, InSWA, IUWASH, Wes Unicef, WSP-World Bank, Plan Indonesia, USDP, INDII, Asosiasi Toilet Indonesia (ATI), Astra Internasional, dan masih banyak lagi. Utusan The Water and Sanitation Program (WSP)- World Bank Maraita Listyasari menyatakan bahwa pihaknya sepakat dengan misi dan tujuan yang ingin dicapai melalui KSAN. “Sehingga, WSP dengan berbagai mitra lain bersama-sama mendukung terselenggaranya acara KSAN 2013,” ungkap Maraita dalam Rakor Stakeholders KSAN 2013 tersebut.

Topik Terkait

advokasi air bersih